Oct 9th 2023, 07:22, by Donny Syofyan, Donny Syofyan
Sumber Foto: Shutterstock
Ketika Anda mendengar Korea Selatan, apa yang terlintas di benak Anda? Mungkin BTS, drama K-pop, atau Squid Game yang menjadi serial Netflix yang paling banyak ditonton. Bahkan mungkin juga telepon seluler dan elektronik. Namun bagaimana dengan alutsista? Orang masih menilai ini bukan industri hebat dari Korea Selatan.
Ternyata angin mulai berubah haluan, bahkan berubah dengan cepat. Industri pertahanan Korea Selatan tengah mengambil langkah-langkah besar. Hingga 2021 Korea Selatan merupakan eksportir senjata terbesar ke-8 di dunia.
Negara ini menyumbang 2,8 persen dari perdagangan senjata global. Namun ada sesuatu yang berubah secara dramatis dan menguntungkan Seoul tahun lalu. Pada tahun 2022 nilai ekspor pertahanannya meningkat sebesar 177 persen. Ini adalah lompatan yang mencengangkan. Ada satu negara yang diuntungkan dari perang di Ukraina, yaitu Korea Selatan.
Pernyataan tersebut secara politis tidak etis, namun perang di Ukraina telah membuka pintu air bagi industri pertahanan Korea Selatan. Negara-negara Eropa sedang berjuang untuk menambah persenjataan militer masing-masing. Secara tradisional mereka bergantung pada negara-negara seperti Jerman dan Amerika Serikat untuk kebutuhan pertahanan mereka.
Ilustrasi Marinir Jerman. Foto: Sean Gallup/Getty Images
Namun Jerman sendiri terjebak dalam posisi yang canggung. Jerman enggan memberikan bantuan militer ke Ukraina sejak perang berkecamuk. Ini telah membuat Jerman mendapatkan reputasi jelek. Banyak negara di Eropa kini memandang Jerman sebagai negara yang ragu-ragu dan tidak yakin bisa mengalahkan Rusia.
Para ahli mengecam kebijakan pertahanan Berlin yang membingungkan ini dan mencapnya ditopang oleh kepemimpinan yang lemah. Ini adalah penilaian para pakar pertahanan dan geopolitik internasional. Mereka menyebut Jerman tak punya tanggung jawab strategis.
Bagaimana dengan Amerika Serikat (AS)? Situasi di AS jauh dari kata ideal. Kekuatan militernya berada di bawah tekanan berat. AS perlu memenuhi kebutuhannya sendiri sebelum membantu sekutunya. Jadi alternatif apa yang dicari oleh pihak Sekutu? Di sinilah peran Korea Selatan. Negara-negara Eropa bergegas ke Korea Selatan.
Polandia memulai dan perubahan ini terjadi sangat mendadak. Mari kita lihat data dari bulan Juni tahun lalu. Polandia memesan persenjataan ke Korea Selatan, yang terdiri dari 1000 K2 Main Battle Tank, 700 Canine Self-Propelled Howitzer dan 48 FA-50 Light Combat Aircraft. Lalu pada bulan Oktober, Polandia melakukan pemesanan lagi.
Negara ini memesan lebih dari 200 'Chunmoo' Rocket Artillery System. Tahukah Anda berapa harga kesepakatan ini? Angkanya sekitar US$12 miliar. Ini adalah kontrak pertahanan terbesar bagi Korea Selatan. Bukan hanya senjata yang Korsel jual, pasukan Korea Selatan akan segera mengadakan latihan bersama pasukan Polandia. Seoul menjadi pilihan terbaik bagi Warsawa di sektor pertahanan.
Norwegia juga telah memesan K9 Self-Propelled Howitzer dari Korea Selatan. Finlandia dan Estonia menyusul. Turki juga mulai menoleh ke Timur dan beralih ke Korea Selatan. Turki juga membeli komponen penting untuk proyek tank tempur Korea Selatan. SNT Heavy Industries akan menyediakan Turki transmisi otomatis berkekuatan 1.500 tenaga kuda. Kesepakatan ini bernilai US$ 217 juta.
Pertanyaannya, mengapa Korea Selatan dan kenapa dalam satu tahun terakhir? Mari kita kembali ke kasus Polandia. Polandia pertama kali ingin membeli High Mars buatan AS yang terkenal. Polandia menginginkan 500 unit tersebut.
High Mars adalah peluncur roket. Senjata ini telah membuktikan kemampuannya di medan perang Ukraina. Begitu banyak negara Eropa yang menginginkannya, namun AS tidak dapat memproduksi sistem ini, setidaknya dalam jangka waktu yang sesuai dengan kebutuhan Eropa.
Sementara pihak Korea Selatan menyanggupi. Gelombang pertama Chunmoo' Rocket Artillery System diperkirakan akan tiba di Polandia pada tahun ini. Korea Selatan juga sanggup memperluas produksinya, tidak demikian halnya dengan AS dan Jerman.
Kedua negara itu sudah beroperasi pada batas kemampuannya. Korea Selatan juga menyetujui produksi sistem senjata di luar negeri, yang berarti negara-negara yang menginginkan senjata Seoul dapat memproduksinya di negara mereka. Ini merupakan tawaran yang sangat menarik bagi negara-negara seperti Polandia.
Poladia sudah lama berusaha meningkatkan industri pertahanannya. Jadi kesediaan perusahaan-perusahaan Korea Selatan untuk melakukan produksi di Eropa adalah ide yang disambut baik. Seoul telah menetapkan sejumlah target besar. Negara ini ingin menjadi eksportir senjata terbesar ke-4 di dunia pada 2027.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah Korea Selatan telah meluncurkan paket pendanaan sebesar US$770 juta pada tahun lalu. Kebijakan ini menjadi sebuah kesuksesan yang fenomenal sejauh ini.
Tentu saja raksasa militer di Barat tidak senang, namun Korea Selatan telah membuktikan ketangguhannya. Mengajak sejumlah negara Eropa untuk membeli senjata Korea Selatan bukan sebuah lelucon hari ini. Ini adalah pernyataan tegas bahwa Eropa sudah kehilangan kesabaran terhadap Amerika Serikat. Negara-negara Eropa sedang mencari alternatif dan Korea Selatan memenuhi kriteria tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar