Jan 9th 2023, 12:00, by Anggita Aprilyani, kumparanTRAVEL
Ilustrasi wanita berhenti merokok. Foto: 9nong/Shutterstock
Pada 1908, seorang wanita bernama Katie Mulcahey, ditangkap bukan karena melakukan kejahatan. Namun, dia merupakan korban dari undang-undang New York yang saat itu baru saja diresmikan.
Keberaniannya membuat Mulcahey diharuskan membayar denda sekitar 5 dolar Amerika dan menjalani hukuman penjara karena merokok.
Namun, saat sidang di depan hakim, dia secara berani membela dirinya.
"Saya tidak pernah mendengar undang-undang baru ini, dan saya tidak ingin mendengarnya, tidak ada orang yang bisa mendikte saya," kata Katie Mulcahey.
Undang-undang yang dirancang oleh Pemerintah New York berisi wanita dilarang merokok di depan umum. Sebab, seorang wanita dengan sebatang rokok dianggap berbahaya secara seksual, tidak bermoral, dan tidak dapat dipercaya.
Pelarangan Pemerintah New York terhadap Wanita Merokok di Publik
Ilustrasi Taxi di New York. Foto: Kobby Dagan/Shutterstock
Dilansir History, larangan tersebut menunjukkan bagaimana pemerintah setempat menanggapi wanita yang saat itu ingin mendapatkan hak-hak baru.
Sejarawan, Emily Remus, mengatakan tahun 1900-an, sebagian besar wanita tidak bebas bergerak sesuka hati di luar rumah, apalagi tanpa pendamping pria.
"Wanita ditolak untuk melayani di sebagian besar restoran, kafe, dan hotel, sementara salon dan klub pribadi menutup pintu mereka untuk pelanggan wanita," kata Emily Remus.
Bukan hanya itu, wanita yang tampil di tempat umum tanpa pria terhormat sering dianggap sebagai pelacur. Begitu juga wanita yang merokok, mereka akan dianggap sebagai pemberontak.
Ilustrasi asap rokok Foto: Shutterstock
Pada 1907, banyak wanita termasuk yang kaya dan berpengaruh merokok. Namun, saat mereka tidak di rumah, hal tersebut akan menjadi masalah besar.
Apalagi saat wanita merokok di sebuah restoran, sudah bisa dipastikan mereka akan ditegur secara langsung oleh pelayan atau pemiliknya dan diminta untuk berhenti.
Namun, di tahun yang sama ada sebuah restoran yang mengumumkan mereka mengizinkan wanita untuk merokok di restorannya.
Ilustrasi perempuan merokok Foto: Doucefleur/Shutterstock
Idenya sangat sukses dan membuat pebisnis lainnya juga berani melakukan hal yang sama. Terinspirasi oleh kesuksesan Martin, restoran dan hotel lain mengumumkan bahwa mereka juga berhenti melarang wanita untuk merokok.
Namun, seorang Dewan Kota bernama Timothy Sullivan, tidak setuju atas tindakan tersebut dan menganggap wanita perokok mengikis rasa hormat yang seharusnya dimiliki pria terhadapnya. Praktik tersebut juga dianggap tidak pantas dan tidak bermoral.
Meskipun Sullivan tidak pernah secara pribadi melihat seorang wanita merokok, tetapi dia mengusulkan undang-undang yang melarang pengusaha publik mengizinkan wanita merokok.
Larangan tersebut tidak berhenti sampai di situ, tiga tahun kemudian, Dewan Alderman mencoba lagi. Namun, dengan cepat ditolak ketika kepala pejabat hukum kota menyatakan hal tersebut melanggar hukum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar