Search This Blog

Pinkan Mambo dan Wajah Prekariat di Era TikTok

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Pinkan Mambo dan Wajah Prekariat di Era TikTok
Feb 15th 2026, 10:00 by Desy Wulandari

Penyanyi Pinkan Mambo saat ditemui dikawasan Tendean, Jakarta, Senin, (25/01/2021).   Foto: Ronny
Penyanyi Pinkan Mambo saat ditemui dikawasan Tendean, Jakarta, Senin, (25/01/2021). Foto: Ronny

Akhir-akhir ini, publik Indonesia ramai membicarakan kemunculan Pinkan Mambo yang melakukan siaran langsung TikTok sambil bernyanyi di pinggir jalan raya bersama suaminya, Arya Khan.

Bagi sebagian orang, pemandangan ini tampak ganjil, menyedihkan, atau memancing cibiran, seolah yang sedang disaksikan adalah kisah personal tentang kejatuhan seorang mantan selebriti.

Namun jika dilihat melalui kacamata antropologi ekonomi kontemporer, fenomena ini justru membuka percakapan yang jauh lebih penting—yaitu tentang perubahan struktural dalam cara orang bekerja dan bertahan hidup di era kapitalisme digital.

Apa yang terjadi pada Pinkan bukan sekadar "jatuhnya" individu dari panggung hiburan ke pinggir jalan, melainkan juga potret konkret bagaimana ekonomi digital memproduksi bentuk kerja baru yang rapuh, sangat personal, dan nyaris tanpa perlindungan.

Kerja bukan lagi hadir sebagai sumber keamanan, melainkan sebagai medan ketidakpastian yang harus terus dinegosiasikan dari hari ke hari. Di titik inilah konsep prekariat menjadi relevan; bukan sebagai label moral, melainkan sebagai kategori analitis untuk membaca perubahan kelas sosial hari ini.

Prekariat dan Ekonomi Bertahan Hidup

Ilustrasi pekerja. Foto: Shutterstock
Ilustrasi pekerja. Foto: Shutterstock

Konsep prekariat—sebagaimana dikembangkan oleh Guy Standing—merujuk pada kelas pekerja baru yang hidup dalam ketidakpastian struktural. Mereka dicirikan oleh pendapatan yang tidak tetap, ketiadaan jaminan sosial, serta ketergantungan pada kerja fleksibel berbasis proyek, platform, dan penugasan sementara.

Prekariat bukan sekadar mereka yang berpenghasilan rendah, melainkan juga mereka yang kehilangan rasa aman eksistensial, identitas kerja, dan kemampuan membayangkan masa depan secara stabil.

Dalam konteks ini, aktivitas Pinkan melakukan live TikTok tidak bisa dibaca sebagai hobi atau sekadar ekspresi kreatif. Ia adalah strategi bertahan hidup.

Donasi penonton, gift virtual, dan engagement menjadi "uang harian" yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan paling dasar. Sumber pendapatan ini tidak datang dari kontrak, gaji, atau institusi formal, tetapi dari algoritma dan atensi publik—sesuatu yang sepenuhnya fluktuatif dan berada di luar kendali individu.

Lebih jauh, kasus Pinkan memperlihatkan satu hal penting dalam teori Standing: prekariat tidak hanya diisi oleh mereka yang sejak awal berada di lapisan bawah.

Pinkan Mambo saat ditemui dikawasan Tendean, Jakarta, Senin,(28/10). Foto: Ronny
Pinkan Mambo saat ditemui dikawasan Tendean, Jakarta, Senin,(28/10). Foto: Ronny

Bahkan, individu dengan modal simbolik tinggi—mantan penyanyi populer dengan sejarah panjang di industri musik—dapat terperosok ke dalam kondisi kerja yang sangat rentan ketika struktur pendukungnya runtuh. Inilah ciri khas kapitalisme kontemporer, di mana keamanan tidak lagi melekat pada prestasi masa lalu, tetapi terus-menerus harus "dibuktikan" ulang di pasar yang cair.

Dari Stabilitas Semu ke Ketidakpastian Permanen

Perjalanan karier Pinkan memperlihatkan apa yang oleh Standing disebut sebagai runtuhnya sistem distribusi pendapatan abad ke-20.

Masa kejayaan di industri hiburan memberi kesan stabil, tetapi stabilitas itu sesungguhnya bersifat semu karena bergantung pada relasi industri, pasar, dan institusi yang tidak pernah menjanjikan perlindungan jangka panjang. Ketika relasi tersebut terputus, individu dibiarkan menghadapi pasar sendirian, tanpa jaring pengaman yang memadai.

Masa redup yang panjang, proyek-proyek sporadis, bisnis kecil yang gagal, hingga utang pribadi menunjukkan bagaimana seseorang dapat berpindah dari pusat industri ke pinggiran ekonomi secara perlahan dan nyaris tak terasa.

Dalam situasi seperti ini, logika neoliberal mendorong individu untuk menjadi wirausaha diri sendiri, seolah kebebasan memilih selalu tersedia. Padahal, yang terjadi sering kali adalah pemindahan risiko secara total dari negara dan industri ke tubuh individu.

Ilustrasi live TikTok. Foto: Shutterstock
Ilustrasi live TikTok. Foto: Shutterstock

Live TikTok di pinggir jalan dapat dibaca sebagai bentuk ekstrem dari kondisi ini. Ruang publik berubah menjadi ruang kerja, tubuh menjadi alat produksi, dan emosi—suara, ekspresi, kisah hidup—dipertontonkan sebagai komoditas.

Kerja tidak lagi memiliki batas waktu, batas ruang, maupun batas psikologis yang jelas. Inilah ketidakpastian permanen yang menjadi inti pengalaman prekariat.

Ngamen Digital dan Normalisasi Kerentanan

Fenomena Pinkan juga memperlihatkan bagaimana praktik ekonomi informal mengalami digitalisasi. Jika dulu "ngamen" identik dengan ekonomi jalanan dalam ruang fisik, kini praktik serupa bermigrasi ke platform digital.

Namun, relasi kuasa tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti bentuk. Algoritma menggantikan mandor, penonton menggantikan pasar, dan viralitas menggantikan kepastian pendapatan.

Yang sering luput dari perhatian adalah bagaimana kondisi ini menormalisasi kerentanan. Dalam live TikTok, relasi ekonomi bercampur dengan empati, kasihan, dan sensasi.

Ilustrasi TikTok. Foto: Sebastien Bozon/AFP
Ilustrasi TikTok. Foto: Sebastien Bozon/AFP

Prekariat, dalam pengertian Standing, adalah kelas para pemohon—mereka yang harus terus meminta: meminta perhatian, meminta kesempatan, meminta penilaian baik dari pihak lain. Makna asli "prekariat" sebagai memperoleh dengan berdoa menjadi sangat literal dalam konteks ini.

Kerentanan tidak lagi dianggap sebagai masalah struktural, tetapi diperlakukan sebagai tontonan sehari-hari. Di titik ini, batas antara ruang privat, kerja, dan harga diri menjadi kabur. Yang dipertaruhkan bukan hanya pendapatan, melainkan juga martabat dan kesehatan mental individu yang hidup dalam ketidakpastian kronis.

Bukan Soal Jatuh, tapi Soal Struktur

Melihat Pinkan Mambo bernyanyi di pinggir jalan melalui TikTok Live seharusnya tidak berhenti pada rasa iba atau ejekan. Fenomena ini adalah cermin dari struktur ekonomi yang semakin mendorong individu untuk terus adaptif, fleksibel, dan "kreatif", tanpa pernah menjamin keamanan jangka panjang.

Dalam kapitalisme rentier dan ekonomi platform, kerja bukan lagi menjadi jalan keluar dari ketidakamanan, melainkan sering kali justru memperdalamnya.

Pinkan bukan anomali. Ia adalah contoh ekstrem dari kondisi yang juga dialami banyak pekerja lain—bedanya, kisahnya terlihat karena ia pernah berada di puncak. Dalam dunia kerja yang semakin cair dan digital, pertanyaan krusialnya bukan lagi "Siapa yang jatuh?" melainkan "Siapa yang masih memiliki jaring pengaman ketika jatuh itu terjadi, dan siapa yang dipaksa terus meminta agar tetap bisa bertahan?"

Media files:
uy8hvioejtoci9fz1nm4.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar