Search This Blog

Muallim Syafii Hadzami: 'Sumur' Ilmu yang Tak Pernah Kering

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Muallim Syafii Hadzami: 'Sumur' Ilmu yang Tak Pernah Kering
Feb 15th 2026, 14:27 by kumparanNEWS

Makam Muallim Syafi'i Hadzami di Gandaria, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
Makam Muallim Syafi'i Hadzami di Gandaria, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Di tengah riuh kendaraan dan bayang-bayang gedung tinggi, tepat di seberang Mall Gandaria City, berdiri sebuah gerbang hijau yang nyaris luput dari perhatian.

Di baliknya, suasana berubah seketika. Deru mesin dan langkah tergesa di trotoar seakan tertinggal di luar. Udara terasa lebih teduh, langkah menjadi lebih pelan.

Di sanalah makam Muallim Syafii Hadzami berada, sosok ulama Betawi yang namanya tak hanya hidup dalam batu nisan, tetapi juga dalam ingatan murid-muridnya.

Memasuki gerbang, jalan setapak mengarah lurus ke pusara sekaligus rumah yang pernah ia tempati. Kompleks itu sederhana. Tak ada ornamen berlebihan. Namun justru kesederhanaan itulah yang memberi kesan bahwa ilmu seperti air, tak butuh wadah mewah untuk mengalir.

Saat kumparan tiba, lantunan shalawat "Ibadallah" terdengar syahdu. Sejumlah rombongan duduk bersila, melingkar, menundukkan kepala dalam kekhusyukan. Nama Muallim disebut dalam doa-doa yang lirih. Di tengah kota yang terus berlari, tempat ini menjadi ruang jeda sekaligus ruang untuk mengingat, bersambung, dan pulang.

Di halaman depan berdiri majelis taklim, tempat masyarakat belajar fiqih hingga tasawuf klasik. Dari ruang sederhana itu, banyak murid yang kelak tumbuh menjadi ulama dan pengajar di berbagai penjuru Jakarta. Muallim dikenal sebagai sosok yang tekun 'menanam'. Ia mungkin tak selalu berdiri di panggung besar, tetapi ia menumbuhkan banyak pohon ilmu.

Makam Muallim Syafi'i Hadzami di Gandaria, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
Makam Muallim Syafi'i Hadzami di Gandaria, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Putri keenamnya, Ida (60), menyambut kumparan dengan hangat. Dialah yang kini menjaga rumah dan pusara itu.

"Saya [anak] keenam," kata Ida saat ditemui kumparan di kediaman, Minggu (15/2).

Ida menjelaskan bahwa Muallim memiliki tujuh anak. Namun, dua anak telah terlebih dahulu dipanggil ke pangkuan sang Maha Kuasa.

"Ada tujuh. Yang masih ada lima. Putra tiga, putri empat. Yang udah meninggal putra dua. Anak pertama sama anak kelima," ucapnya.

Bagi masyarakat, Muallim Syafii Hadzami adalah ulama Betawi yang alim dan disegani. Ia dikenal sebagai pengajar fiqih dan tasawuf, pendiri majelis, sekaligus penggerak pendidikan Islam di kawasan Gandaria dan sekitarnya. Namun bagi keluarganya, ia adalah sosok yang sederhana, tak banyak bicara, tetapi hangat.

"Sosoknya ya. Muallim tuh orangnya kan nggak banyak ngomong. Orangnya kalau ditanya dia baru ngomong. Dan kalau di keluarga ya, kalau di rumah humoris ya orangnya. Dan selalu ngajak bercanda gitu kan. Itu Muallim tuh aslinya dia," kenang Ida.

Ida menceritakan ada sisi lain yang mungkin tak banyak diketahui jemaahnya, yaitu kecintaan Muallim pada binatang.

"Dan dia kan seneng piara-piara binatang. Dulu dia piaraannya ada burung kakak tua sama dia demen ini, ayam melung," ujar Ida sambil tersenyum.

Makam Muallim Syafi'i Hadzami di Gandaria, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
Makam Muallim Syafi'i Hadzami di Gandaria, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Ayam melung, kata Ida, adalah ayam jago bersuara panjang dan merdu didatangkan dari Cianjur. Di belakang rumah, pernah berdiri kandang burung tempat ia memelihara berbagai jenis unggas. Kesukaannya merawat binatang seperti memperlihatkan sisi lembut yang tak selalu tampak di mimbar.

Sebagai ayah, Ida bercerita bahwa Muallim tak serta-merta mengajar anak-anaknya sendiri dalam sistem formal. Mereka justru dimasukkan ke madrasah.

"Anak-anak belajar tempat lain. Kita-kita dulu dimasukin di madrasah, jadi kalau pulang sekolah, sekolah negeri, pulang sekolah jam satu kita situ sampai jam lima," kata Ida.

Ida bercerita bahwa Muallim mulai memboyong keluarganya ke Gandari pada tahun 1982. Namun jauh sebelum rumah berdiri, sekolah lebih dahulu dibangun pada era 1970-an.

Sekolah Al-Asiyratussyafi'iyyah lahir dari gagasan Muallim, berdiri di atas tanah yang sebagian dibeli, sebagian wakaf dari umat. Di kompleks yang sama juga berdiri masjid yang menjadi pusat aktivitas ibadah dan pengajian.

"Iya Muallim beli tanah ada wakafan juga, yang sekolahan wakaf sama wakaf orang lain-lain lah. Heeh emang idenya kan ide Muallim dulu," ucap dia.

Dalam kompleks yang sama, berdiri Pesantren Arbain, sebuah pesantren kecil yang hanya menerima 40 murid. Angka itu tak pernah berubah.

"Ya dulu pas zaman Muallim itu, saya juga enggak tahu kenapa. Tapi dulu Muallim langsung yang seleksi. Pokoknya jumlahnya nggak lebih dan nggak kurang dari 40. Iya pokoknya nggak lebih nggak kurang 40," imbuh Ida.

Ida bercerita bahwa Arbain didirikan sekitar 2004, 2 tahun sebelum wafat Muallim pada 2006 secara mendadak usai mengajar murid-muridnya di kawasan Pondok Pinang.

"Pagi kan habis ngajar di Nikmatul Ittihad dia kepengen kencing berhenti di pom bensin Pondok Pinang. Heeh yang di sini nih di Ciputat Raya situ. Gitu dia turun habis turun udah masuk ke mobil langsung ngorok. Oh langsung ngorok. Dibawa ke Pertamina udah nggak ada jadi di jalan," kata Ida.

Kepergian Muallim mengejutkan banyak pihak. Ia tak sempat meninggalkan pesan panjang. Namun warisan yang ia bangun, majelis, sekolah, pesantren, dan murid-muridnya menjadi wasiat yang tak tertulis. Kini, pengajian rutin tetap berjalan tiga kali sepekan yaitu Rabu, Sabtu, dan Minggu.

"Iya ini tradisi Muallim Sabtu, Minggu. Pokoknya Rabu, Sabtu, Minggu, itu tradisi Muallim," ujarnya.

Setiap Sabtu dan Minggu, puluhan jemaah datang untuk meneruskan tradisi mengaji dari Muallim. Makanan pun disiapkan oleh keluarga dan cucu-cucunya.

"Sabtu-Minggu 50 [porsi]. Kadang-kadang 60, kadang-kadang 25," kata Ida.

Makam Muallim Syafi'i Hadzami di Gandaria, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
Makam Muallim Syafi'i Hadzami di Gandaria, Jakarta Selatan, Minggu (15/2/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Warisan intelektual Muallim paling menonjol tampak dalam Taudhihul Adillah, karya tujuh jilid yang merangkum tanya-jawab keagamaan dengan rujukan Al-Qur'an, hadis, dan kitab klasik mazhab Syafi'i. Melalui kitab ini, Muallim menjawab persoalan ibadah dan akidah secara sistematis, argumentatif, dan tetap santun, sekaligus mencerminkan komitmennya pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Kedalaman ilmunya juga terlihat dalam Sullamul 'Arsy fi Qira'at Warsy serta berbagai risalah pengajaran lain di bidang ushuluddin dan tasawuf.

Ida menjelaskan, meski berada di tengah kepungan gedung-gedung modern, makam Muallim tak pernah sepi peziarah.

"Banyak alhamdulillah kalau ziarah mah alhamdulillah. Apalagi malam Jumat. Oh malam Jumat pasti ramai," ucap dia.

Ida kini menetap di rumah itu, menjaga agar cahaya yang dinyalakan ayahnya tak padam.

"Tapi karena rumah ini nggak ada yang mau tinggalin. Iya jadi saya. Jadi saya yang tinggalin sama anak saya," katanya.

Di ujung percakapan, Ida menyampaikan pesan bagi generasi muda agar terus merawat tradisi Betawi di tengah zaman yang serba modern ini.

"Makanya kalau anak-anak sekarang kan mengikuti zamannya Gen Z ya. Jadi kadang-kadang lupa sama tradisi-tradisi yang ada ya kan, haruslah rajin-rajin mengenal tradisi kita orang Betawi, terutama ulama-ulamanya," tandas dia.

Waktu boleh bergerak maju, tetapi jejak Muallim tak pernah benar-benar tertinggal. Di ruang-ruang pengajian yang sederhana, di lembar-lembar kitab yang mulai menguning, dan dalam lantunan doa yang pelan dari peziarah, namanya terus disebut tanpa perlu diminta. Ia tak membangun menara tinggi untuk dikenang, tapi ia menggali sumur agar orang lain tak kehausan.

Dan seperti sumur yang baik, ia tak pernah memilih siapa yang datang menimba. Murid, jemaah, atau peziarah, semuanya menemukan teduh yang sama. Di tengah riuh Selatan Jakarta, warisan itu tetap mengalir; jernih, tenang, dan tak pernah kering.

Media files:
01khfw2w2pncht1mgm70wtbk73.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar