Search This Blog

Menko Polkam Bicara Pentingnya Peran Guru Tentukan Masa Depan Bangsa

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Menko Polkam Bicara Pentingnya Peran Guru Tentukan Masa Depan Bangsa
Feb 15th 2026, 13:59 by kumparanNEWS

Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam
Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago menekankan pendidikan menjadi faktor yang sangat menentukan arah masa depan bangsa. Oleh karena itu, kualitas guru menjadi kunci utama dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

"Pendidikan sangat menentukan. Guru harus hebat, karena akan menciptakan dan mencetak manusia yang hebat untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik," tegas Djamari dalam acara "Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN)" di Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (14/2/2026).

Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam
Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam

Pada kesempatan tersebut, Menko Djamari mengulas singkat tentang kemerdekaan Indonesia yang tidak terlepas dari jerih payah para ulama, guru, dan santri Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, semangat perjuangan tersebut harus terus diwarisi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dengan tekad yang kuat.

"Kemerdekaan Indonesia salah satunya karena jerih payah para ulama, guru, dan santri NU. Mari kita warisi semangat mereka dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, tentunya dengan semangat dan tekad yang kuat," ujar Djamari.

Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam
Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam

Ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan yang diraihnya saat ini tidak terlepas dari peran para guru yang telah mendidiknya. Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan betapa terhormat dan strategisnya profesi guru dalam pembangunan bangsa.

"Saya bisa seperti ini karena guru. Betapa terhormatnya profesi guru, karena itu, profesi guru sangat penting dan menjadi kunci utama dalam pembangunan bangsa ke depan," lanjutnya.

Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam
Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam

Menutup pernyataannya, Djamari menegaskan profesi guru memiliki peran yang sangat kuat, penting, dan dominan dalam menjawab harapan besar bangsa, sehingga harus disikapi dengan kesungguhan dan komitmen bersama.

"Profesi guru itu sangat kuat, sangat penting, dan sangat dominan. Harapan besar bangsa ini harus ditanggapi dengan sangat bersungguh-sungguh," harapnya.

Hadir juga Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai JKSN memiliki peran strategis sebagai penyejuk dan pendamai di tengah masyarakat.

Menurutnya, para kiai dan santri mampu memberikan rujukan yang tepat demi kebaikan bersama.

"Semua bisa memberikan referensi yang tepat dengan penuh kebaikan demi kebaikan. Para santri tentu perlu memiliki komitmen bagaimana ini menjadi rumah besar yang menyejukkan kita semua," ujar Khofifah.

Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam
Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara wawasan global dan kearifan lokal dalam membangun karakter bangsa.

"Dari sisi mindset, harus memiliki wawasan global, tetapi dari sisi kebijakan harus berbasis local wisdom. Dengan local wisdom dan global mindset, mestinya dapat terbangun karakter akhlakul karimah," tambah Khofifah.

Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam
Menko, Djamari dalam acara Pembukaan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) & Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Foto: Dok. Kemenko Polkam

Ketua Umum PERGUNU dan JKSN, K.H. Asep Saifuddin Chalim juga menyampaikan pandangan senada bahwa pondok pesantren memiliki peran sentral dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya melalui penyelenggaraan pendidikan sebagai bagian dari perlawanan terhadap penjajahan. Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga benteng kebangsaan.

"Pondok Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga benteng kebangsaan, sehingga pondok pesantren harus mengembangkan paham Ahlussunnah wal Jama'ah, sehingga persatuan dan kesatuan bangsa dapat terwujud," ujar Asep.

Media files:
01khg06574xymfn0wtfp29dt84.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar