Search This Blog

Menggali Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Menggali Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia
Feb 18th 2026, 08:00 by Andika Dwi Pratama

Ilustrasi sejarah ejaan bahasa Indonesia. Foto: Freepik
Ilustrasi sejarah ejaan bahasa Indonesia. Foto: Freepik

Perkembangan bunyi bahasa pada hakikatnya tidak pernah lepas dari konteks sejarah dan pengaruh interferensi budaya asing. Bunyi bahasa senantiasa beradaptasi dengan kondisi lingkungan serta interaksi antarbudaya yang melingkupinya.

Karena bahasa adalah entitas yang hidup dan digunakan oleh manusia yang terus bergerak, sistem pelafalan dan ejaan bahasa Indonesia tidak pernah berada dalam kondisi yang statis.

Perlu dipahami bahwa bahasa Indonesia berkembang dari akarnya, yaitu bahasa Melayu Kuno hingga menjadi bahasa nasional dan alat pemersatu bangsa saat ini. Sementara itu, bahasa Melayu sendiri merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Lalu, bagaimana dinamika tersebut membentuk bahasa Indonesia yang kita pakai sehari-hari?

Berdasarkan kajian linguistik historis komparatif, para ahli telah menemukan bahwa bahasa Melayu Kuno mewarisi banyak fitur bunyi dari bahasa leluhurnya, dengan berbagai inovasi dan retensi. Dari temuan tersebut, terdapat tiga proses utama yang sering diamati dalam evolusi bunyi: dari Proto Austronesia ke bahasa Melayu adalah aferesis sinkop dan apokop.

Ilustrasi bahasa Foto: ChatGPT
Ilustrasi bahasa Foto: ChatGPT

Aferesis merupakan proses penghilangan satu atau lebih fonem di awal sebuah kata. Proses ini terjadi karena penutur cenderung mencari cara paling efisien untuk memulai sebuah ujaran. Sebagai contoh: kata dalam bahasa Proto Austronesia yaitu hati; yang dilafalkan dengan konsonan glotal di awal kemudian mengalami pelesapan menjadi ati pada beberapa dialek Melayu.

Jika aferesis terjadi di awal kata, sinkop adalah proses penghilangan fonem di tengah kata. Proses ini bermula karena penutur cenderung menyederhanakan pelafalan suku kata yang terasa berat atau kompleks secara artikulasi.

Contoh yang lazim ditemukan adalah kata dukduk yang kehilangan konsonan k di tengahnya, sehingga menjadi dudu dan akhirnya diserap sebagai duduk dalam bahasa yang lebih modern.

Selanjutnya, terdapat proses apokop yaitu penghilangan fonem di akhir kata. Contoh dari proses ini adalah kata "pilih" dan "matay" yang kehilangan konsonan akhirnya, sehingga diucapkan sebagai "pili" dan "mate" pada beberapa variasi dialek.

Ilustrasi bahasa Indonesia Foto: ChatGPT
Ilustrasi bahasa Indonesia Foto: ChatGPT

Perubahan-perubahan awal ini menunjukkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, penutur bahasa di Nusantara memiliki kecenderungan alamiah untuk membuat artikulasi menjadi lebih ringkas dan hemat tenaga.

Memasuki era kejayaan kerajaan Sriwijaya pada abad ketujuh, bahasa Melayu Kuno mulai didokumentasikan secara formal dalam bentuk prasasti. Pada masa ini, bahasa Melayu Kuno ditulis menggunakan aksara Pallawa yang dibawa oleh para pedagang dan pemuka agama dari daratan India.

Aksara Pallawa sangat dipengaruhi oleh bahasa Sanskerta yang memiliki sistem fonologi yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan bahasa Austronesia lokal. Bahasa Sanskerta memiliki hingga empat puluh delapan fonem yang mencakup vokal panjang dan pendek serta deretan konsonan beraspirasi.

Konsonan beraspirasi merupakan konsonan yang diucapkan dengan hembusan napas yang sangat kuat dari dalam rongga dada. Karena sistem fonologi bahasa lokal pada saat itu tidak memiliki konsonan beraspirasi, banyak kata serapan dari bahasa Sanskerta yang mengalami modifikasi fonologis agar sesuai dengan kemampuan lidah penutur lokal.

Ilustrasi bahasa Sanskerta Foto: Dok. ChatGPT
Ilustrasi bahasa Sanskerta Foto: Dok. ChatGPT

Contoh nyata dari adaptasi ini adalah kata bhattara yang aslinya diucapkan dengan hembusan napas yang berat, lalu disederhanakan tanpa hembusan napas menjadi batara. Kata prabhu bergeser menjadi prabu dan kata parthivi diadaptasi menjadi pertiwi.

Perubahan besar terkait cara pengucapan dan pedoman penulisan bahasa kita kembali mengalami pergeseran radikal ketika bangsa Eropa berlabuh dan mulai menerapkan abjad Latin di ranah pendidikan.

Karena pemerintah kolonial Belanda membutuhkan tingkat keseragaman yang tinggi untuk memperlancar kelola administrasi, mereka memutuskan untuk meresmikan Ejaan Van Ophuijsen pada tahun 1901.

Sistem ejaan kuno ini sangat dipengaruhi oleh persepsi pendengaran orang Belanda, sehingga bunyi vokal "u" diwajibkan untuk ditulis dengan menggunakan gabungan huruf "oe", misal pada kata boekoe. Meskipun penerapan ejaan ini memberikan landasan tulisan standar pertama bagi bahasa Melayu tinggi, pelafalan masyarakat di jalanan tetap sangat beragam dan amat bergantung pada logat kedaerahan mereka masing-masing.

Ilustrasi masyarakat Indonesia. Foto: Shutterstock
Ilustrasi masyarakat Indonesia. Foto: Shutterstock

Keinginan luhur untuk segera melepaskan diri dari bayang pengaruh penjajah akhirnya dapat terwujud, tidak lama setelah naskah proklamasi kemerdekaan dibacakan, tepatnya pada tanggal 15 April 1947.

Pemerintah Republik Indonesia secara berani memperkenalkan Ejaan Soewandi yang memiliki tujuan utama untuk menyederhanakan aturan rumit warisan kolonial Belanda sekaligus menegaskan kemandirian identitas kebangsaan. Huruf "oe" yang dinilai membingungkan masyarakat luas langsung diganti secara serentak menjadi huruf "u" yang jauh lebih praktis, sehingga tulisan boekoe serta merta kembali menjadi buku.

Selain itu, pedoman ini menetapkan bahwa tanda koma di atas (') yang biasanya digunakan untuk melambangkan bunyi sentakan tenggorokan di akhir kata harus diganti dengan huruf "k" seperti pada kata tidak.

Perkembangan standarisasi ejaan tidak berhenti disana. Seiring dengan kemajuan pesat ilmu linguistik di tanah air, para ahli bahasa mulai menyadari bahwa masih banyak ketidakkonsistenan antara bunyi aktual yang diucapkan dengan lambang huruf yang digunakan di atas kertas.

Ilustrasi KBBI. Foto: Melly Meiliani/kumparan
Ilustrasi KBBI. Foto: Melly Meiliani/kumparan

Oleh sebab itu muncul beberapa konsep pembaruan ejaan yang sempat disusun, tetapi urung diresmikan oleh pemerintah karena terbentur berbagai kendala politik maupun teknis. Contohnya seperti ejaan Pembaharuan pada tahun 1957 yang dinilai tidak praktis karena satu fonem harus dilafalkan dengan satu huruf.

Selanjutnya, muncul gagasan diplomatis Ejaan Melindo pada tahun 1959 yang memiliki tujuan mulia untuk menyatukan sistem ejaan antara Indonesia dan Semenanjung Malaya.

Rencana ini pun juga gagal akibat meletusnya konflik bersenjata antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1962. Setelah situasi politik mulai mendingin, muncul pula konsep Ejaan LBK pada tahun 1966 yang digagas secara matang oleh Lembaga Bahasa dan Kesusastraan.

Puncak dari segala upaya panjang standardisasi ini akhirnya tercapai pada tahun 1972 dengan diresmikannya Ejaan Yang Disempurnakan oleh Presiden Republik Indonesia. Ejaan ini merupakan buah hasil kesepakatan dan negosiasi panjang antara pakar bahasa Indonesia dan Malaysia.

Ilustrasi Bendera Indonesia dan Malaysia. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi Bendera Indonesia dan Malaysia. Foto: Shutter Stock

Dalam Ejaan Yang Disempurnakan, terjadi penyesuaian fonemik yang sangat krusial bagi pelafalan modern. Bunyi konsonan geseran yang sebelumnya ditulis "j" diubah menjadi "y", lalu bunyi paduan "c" diubah dari tulisan "tj" dan bunyi geseran palatal "sy" menggantikan huruf "sj".

Ejaan ini kemudian terus dievaluasi dan disempurnakan lebih lanjut melalui penerbitan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) secara berkala, memuat aturan penulisan dan pelafalan yang lebih komprehensif termasuk di dalamnya aturan ketat mengenai penggunaan diftong dan konsonan serapan asing.

Sebagai benang merah dari seluruh pemaparan ini, perjalanan evolusi bunyi bahasa Indonesia jelas membuktikan tingkat ketangguhan yang luar biasa dalam merespons berbagai benturan zaman.

Karena bahasa Indonesia memiliki karakteristik yang selalu terbuka terhadap pengaruh baru, seluruh sistem bunyinya diyakini akan terus hidup dan mengalami pergeseran wujud seiring dengan laju pergerakan kebudayaan masyarakat. Oleh sebab itu, sangat penting kiranya untuk memandang keberagaman ini sebagai sebuah harta karun kecerdasan linguistik bangsa yang berharga.

Media files:
01khjjmy19jd2cy8hf5ahqqawe.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts