Search This Blog

Jelang Puasa, Cabai Rawit di Pasar Kramat Jati Mulai Turun ke Rp 80 Ribu-an/Kg

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Jelang Puasa, Cabai Rawit di Pasar Kramat Jati Mulai Turun ke Rp 80 Ribu-an/Kg
Feb 18th 2026, 07:40 by kumparanBISNIS

Ilustrasi cabai rawit. Foto: Andry Denisah/ANTARA FOTO
Ilustrasi cabai rawit. Foto: Andry Denisah/ANTARA FOTO

Harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati mulai melandai setelah sempat merangkak naik dalam beberapa waktu terakhir. Pedagang menyebut tambahan pasokan dan dukungan fasilitasi distribusi dari pemerintah membantu meredam lonjakan harga menjelang puasa dan Idulfitri.

Salah satu pedagang, Ujang, mengatakan harga cabai kini bergerak turun dibanding pekan sebelumnya.

"Sebelumnya harga bisa di kisaran Rp 90.000-an. Dengan kondisi sekarang, bisa turun sekitar Rp 5.000 menjadi Rp 85.000 atau bahkan Rp 80.000 tergantung hasil tawar-menawar. Pembeli biasanya mulai menawar di Rp 80.000, bahkan Rp 70.000-Rp 80.000," kata Ujang dalam keterangan resmi Badan Pangan Nasional (Bapanas), dikutip Rabu (18/2).

Hal serupa disampaikan pedagang lain, H. Joharlis. Ia menilai masuknya pasokan dari luar daerah, termasuk dari Sulawesi Selatan, cukup efektif menjaga harga tetap terkendali.

"Harganya sudah turun sedikit. Kalau tidak dibantu dari Makassar, harga cabai bisa saja mencapai Rp 150.000. Biaya distribusinya sekitar Rp 9.000 sampai Rp 10.000. Dalam kondisi seperti ini, Pak, kalau ongkosnya dibantu, harga bisa ditekan. Jika biaya distribusi digratiskan, pedagang tidak akan berani menaikkan harga sehingga harga tetap bisa dikendalikan," ungkapnya.

Dari sisi pemerintah, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Gusti Ketut Astawa menjelaskan bahwa secara nasional produksi cabai rawit sebenarnya dalam kondisi cukup. Kenaikan harga sebelumnya lebih dipicu hambatan teknis di lapangan, terutama saat panen.

Ilustrasi cabai rawit. Foto: Andry Denisah/ANTARA FOTO
Ilustrasi cabai rawit. Foto: Andry Denisah/ANTARA FOTO

"Memang ada dua problem, yang pertama adalah secara prinsip pasokan atau stoknya tinggi, cukup produksinya tinggi, tapi problemnya dalam petik. Pada saat hujannya tinggi, tenaga kerja yang memetik tidak ada, tidak berani karena akan cepat busuk," jelas Ketut.

Ia menambahkan, faktor cuaca dan momentum libur sempat membuat tenaga kerja panen berkurang sehingga pasokan yang masuk ke pasar terkoreksi.

"Secara produksi sangat cukup, jadi itu bedanya ya, produksinya sangat cukup, metiknya yang takut, karena hujan dan lain sebagainya, mereka tidak berani metik karena akan langsung busuk," tambahnya.

Untuk mempercepat stabilisasi, Bapanas akan mengoptimalkan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), terutama dengan membantu ongkos angkut dari sentra produksi ke Jakarta yang saat ini berada di kisaran Rp 9.000-Rp 10.000 per kilogram.

"Sebagaimana perintah dari Bapak Andi Amran Sulaiman Kepala Bapanas, lakukan FDP, maka ini akan bisa mengoreksi harga, minimal Rp 5.000 sampai Rp 10.000," tegas Ketut.

Pasokan tambahan akan difokuskan dari Jawa Barat sebagai sentra terdekat, serta dari Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Enrekang yang siap memasok cabai rawit ke Jakarta.

Sementara itu, Satgas Pangan Polri Brigjen Pol Zain Dwi Nugroho memastikan pengawasan terhadap ketersediaan dan stabilitas harga pangan terus diperketat menjelang hari besar keagamaan.

"Tentunya kita berharap menjelang kegiatan hari besar keagamaan nasional, tentunya kita berharap pasokan lancar, kemudian harga bisa kita tekan tetap stabil, jadi seperti itu," pungkasnya.

Media files:
01k1ap780bmyy4aqy8ky5qcthy.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts