Dua ledakan akibat kebocoran gas mengguncang Iran pada Sabtu (31/1). Insiden tersebut terjadi di dua kota berbeda, yakni Bandar Abbas di wilayah selatan dan Ahvaz di barat daya Iran. Total enam orang dilaporkan tewas dalam dua peristiwa tersebut.
Ledakan pertama terjadi di sebuah bangunan di kota pelabuhan Bandar Abbas. Pemadam kebakaran setempat menyebut kebocoran gas sebagai penyebab awal insiden tersebut. Dua orang dilaporkan tewas dan 14 lainnya luka-luka akibat ledakan itu.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Bandar Abbas, Mohammad Amin Liaqat, mengatakan penyebab ledakan masih bersifat sementara dan akan diperbarui setelah proses penyelidikan lebih lanjut.
"Ini (kebocoran gas) adalah penilaian awal. Rekan-rekan saya akan memberikan rincian lebih lanjut dalam beberapa jam ke depan," ujar Liaqat, sebagaimana diberitakan Reuters.
Sementara itu, empat orang lainnya tewas dalam ledakan gas terpisah di kota Ahvaz, yang terletak dekat perbatasan Iran-Irak.
Ledakan di Bandar Abbas turut menyita perhatian karena kota tersebut merupakan rumah bagi pelabuhan peti kemas terpenting Iran dan berada di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia yang menangani sekitar seperlima distribusi minyak laut global.
Insiden ini terjadi di tengah situasi Iran yang tengah bergejolak, baik secara domestik maupun geopolitik. Negara tersebut masih menghadapi gelombang protes nasional yang pecah sejak Desember lalu akibat tekanan ekonomi.
Di saat bersamaan, ketegangan Iran dengan Amerika Serikat juga kembali meningkat.
Presiden AS Donald Trump berbicara dengan wartawan di The Kennedy Center pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Foto: Samuel Corum/Getty Images/AFP
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa sebuah armada tengah bergerak menuju Iran. Trump juga disebut tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran, termasuk kemungkinan serangan terbatas.
Selain itu, Trump juga mengatakan Iran sedang bernegosiasi dengan AS. "Iran sedang bernegosiasi, jadi kita lihat saja apa yang terjadi," kata Trump kepada Fox News.
"Anda tahu, terakhir kali mereka bernegosiasi, kita harus melucuti senjata nuklir mereka, tidak berhasil, Anda tahu. Kemudian kita melucutinya dengan cara yang berbeda, dan kita lihat saja apa yang terjadi," lanjutnya.
Sementara itu, pejabat keamanan senior Iran, Ali Larijani, menyebut pembahasan kerangka negosiasi dengan AS masih berjalan.
Presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian, berpidato di hadapan para hadirin setelah upacara pengambilan sumpah jabatan di parlemen di Teheran, pada 30 Juli 2024. Foto: AFP
Sebelum dua ledakan terjadi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding AS, Israel, dan negara-negara Eropa, memanfaatkan persoalan ekonomi Iran untuk memicu ketidakstabilan dan perpecahan nasional.
Adapun Israel telah membantah keterlibatan dalam dua ledakan tersebut. Pejabat Israel yang dikutip Reuters menyatakan negaranya tidak terkait dengan insiden di Bandar Abbas maupun Ahvaz.
Sebagai catatan, Bandar Abbas juga pernah dilanda ledakan besar pada April tahun lalu yang menewaskan puluhan orang dan melukai lebih dari seribu lainnya. Saat itu, komite investigasi menyimpulkan ledakan dipicu lemahnya penerapan standar pertahanan sipil dan keamanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar