Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA) bersiap mengucurkan subsidi pemerintah senilai USD 12 miliar atau sekitar Rp 202,6 triliun (kurs Rp 16.888 per dolar AS) mulai pekan depan.
Dalam forum tahunan yang digelar di Arlington, Virginia, para pejabat dan ekonom mendorong kebijakan itu sebagai langkah darurat untuk mencegah makin banyak petani terjerumus ke jurang kebangkrutan.
Mengutip Reuters, tekanan berat yang membayangi ekonomi pertanian AS. Situasi dinilai bisa kian rumit setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Jumat membatalkan tarif besar-besaran yang sebelumnya diberlakukan Donald Trump dengan dasar undang-undang keadaan darurat nasional.
"Putusan tersebut menjadi pukulan bagi Trump sekaligus memunculkan dampak luas terhadap ekonomi global, termasuk potensi imbas ke sektor pertanian AS," tulis laporan Reuters seperti yang dikutip kumparan, Minggu (22/2).
Melalui program Farmer Bridge Assistance, USDA akan menyalurkan sekitar USD 11 miliar dalam bentuk pembayaran satu kali kepada petani.
Skema ini berbasis tarif per hektare bagi petani yang menanam salah satu dari 19 komoditas yang ditetapkan memenuhi syarat. Sementara itu, USD 1 miliar lainnya dialokasikan untuk produsen tanaman khusus.
Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, menyampaikan bahwa pendaftaran program akan dibuka lebih cepat dari jadwal, yakni pada Senin pekan depan.
Pada Desember lalu, ia mengatakan petani yang memenuhi syarat dapat mengharapkan pembayaran di rekening bank mereka paling lambat 28 Februari, atau enam hari setelah pendaftaran dibuka.
"Sumber daya ini akan membantu para produsen memasuki musim berikutnya, benar-benar sebagai jembatan, seiring dengan berlakunya komitmen pembelian dan kesepakatan perdagangan baru serta terus menurunnya biaya input," kata Rollins dalam forum tersebut.
Namun, Rollins belum memberikan penjelasan lebih lanjut terkait kesiapan USDA menghadapi potensi lonjakan permohonan.
Apalagi, pemangkasan besar-besaran pegawai federal tahun lalu, termasuk di kantor Badan Layanan Pertanian USDA di wilayah pedesaan disebut memperlambat akses petani terhadap berbagai layanan pemerintah.
Belum Tentu Tutup Kerugian
Foto udara menunjukkan robot AI otonom bertenaga surya Aigen, yang disebut Element, beroperasi di Bowles Farm di Los Banos, California, Amerika Serikat. Foto: JOSH EDELSON / AFP
Sejumlah ekonom dan kelompok industri menilai bantuan tersebut belum tentu mampu menutup seluruh kerugian petani yang dalam beberapa tahun terakhir ditaksir melampaui USD 30 miliar.
Wakil Presiden Kebijakan Publik dan Analisis Ekonomi di American Farm Bureau Federation, John Newton, mengatakan bantuan federal itu hanya akan menjadi penopang sementara hingga ada perbaikan dalam program RUU pertanian.
Di sisi lain, USDA memperkirakan pendapatan bersih pertanian AS akan turun 0,7 persen tahun ini. Meski demikian, pembayaran pemerintah yang mendekati rekor diproyeksikan menyumbang hampir 29 persen dari laba bersih produsen menunjukkan tingginya ketergantungan sektor ini terhadap dukungan fiskal.
Untuk musim tanam 2026-2027, USDA memperkirakan harga jagung, kedelai, dan gandum akan sedikit naik, meski masih jauh di bawah level tertinggi beberapa tahun terakhir.
"Harga rata-rata diproyeksikan mencapai USD 4,20 per bushel untuk jagung, USD 10,30 untuk kedelai, dan USD 5,00 untuk gandum sekitar 10 sen lebih tinggi dari musim berjalan, tetapi masih lebih rendah dibandingkan periode 2022/23," tulis laporan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar