Ilustrasi keluarga main bersama. Foto: Nattakorn_Maneerat/Shutterstock
Survei yang dilakukan Sun Life di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menunjukkan baru 38 persen keluarga yang menyiapkan finansial dalam jangka panjang untuk anak-cucu. Survei ini dilakukan terhadap lebih dari 3.000 responden yang berasal dari Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam.
Dalam laporan Sun Life Passing the torch: Building lasting legacies in Asia 2025, sebanyak 70 persen responden menempatkan perlindungan finansial keluarga sebagai prioritas utama, sementara sisanya berharap warisan dapat digunakan untuk biaya pendidikan generasi penerus. Namun sebagian besar keluarga belum memiliki dokumen atau strategi waris yang lengkap.
Selanjutnya, 60 persen dari responden yang memprioritaskan perlindungan finansial, mengaku khawatir kekayaan mereka tidak akan bertahan sampai generasi cucu. Lebih dari separuh (55 persen) merasa anak-anak mereka belum siap secara finansial untuk mengelola aset warisan. Kekhawatiran serupa muncul dalam konteks bisnis keluarga, yakni tanpa perencanaan suksesi yang matang, nilai perusahaan rentan tergerus ketika terjadi pergantian kepemimpinan.
Konteks Indonesia memperlihatkan tantangan serupa. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat baru 42,7 persen, meski inklusi keuangan mencapai 85 persen. Hal ini menandakan masyarakat sudah banyak menggunakan produk keuangan, namun belum sepenuhnya memahami cara kerja, manfaat, maupun risikonya.
Ilustrasi Dolar-Rupiah Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Tantangan juga terjadi pada keluarga yang menjalankan bisnis. Tanpa perencanaan suksesi yang matang, bisnis keluarga yang dibangun selama puluhan tahun bisa mengalami gangguan operasional, konflik internal, bahkan penurunan nilai saat transisi kepemimpinan terjadi.
"Kami melihat banyak keluarga di Indonesia yang sukses membangun bisnis dan kekayaan, namun belum memiliki strategi komprehensif untuk memastikan kontinuitas ekonomi lintas generasi," kata Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo.
Dalam laporan tersebut,disebutkan bahwa 59 persen responden ingin warisan mereka dialokasikan pada instrumen yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang, seperti investasi pada aset keuangan, asuransi jiwa, atau bisnis keluarga. Artinya, mayoritas masyarakat di Asia tidak hanya ingin meninggalkan harta, tetapi menginginkan agar aset tersebut terus berkembang dan memberikan nilai tambah bagi generasi berikutnya.
Selanjutnya, 59 persen responden ingin warisannya digunakan untuk kebutuhan dasar keluarga, antara lain perumahan, kesehatan, serta jaring pengaman finansial lainnya. Sebanyak 56 persen responden menempatkan pendidikan sebagai hadiah paling berharga yang dapat diberikan kepada generasi berikutnya. Ini mencakup sekolah, kuliah, hingga pelatihan vokasi.
"42 persen responden juga memilih mengalokasikan warisan untuk tujuan filantropi, seperti mendukung lembaga sosial, menyumbang ke komunitas, atau memberikan donasi yang mencerminkan nilai-nilai keluarga," jelasnya.
Selain itu, banyak keluarga di Asia merasa tidak yakin apakah warisan, baik materi maupun nilai-nilai keluarga, akan bertahan atau dipertahankan oleh generasi selanjutnya. Sebanyak 60 persen responden merasa khawatir bahwa kekayaan yang mereka kumpulkan tidak akan bertahan melewati generasi anak mereka.
Selanjutnya, 31 persen responden yang percaya bahwa anak mereka akan menjaga nilai, tradisi, dan keinginan keluarga terkait pengelolaan warisan. "Sebanyak 55 persen responden mengaku khawatir ahli waris mereka tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk mengelola warisan," tulis laporan tersebut.
Individu disarankan untuk menyusun estate plan yang detail serta membuat wasiat komprehensif untuk memastikan distribusi aset sesuai keinginan, sekaligus meminimalkan potensi konflik keluarga. Komunikasi terbuka dengan anggota keluarga perlu dilakukan sejak awal agar transisi kekayaan dan nilai dapat berjalan mulus.
Selain itu, orang tua dianjurkan untuk berinvestasi pada edukasi finansial ahli waris, baik melalui pendidikan formal, diskusi, maupun pendampingan khusus, sehingga generasi berikutnya siap mengelola warisan secara bertanggung jawab.
Beragam solusi perencanaan warisan seperti asuransi jiwa jangka panjang, manfaat tunai terjamin, dan instrumen investasi jangka panjang juga direkomendasikan untuk menjaga pertumbuhan aset.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar