Sejumlah penumpang KRL bersiap masuk rangakain KRL Commuter Line di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (5/11/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
KAI Commuter mencatat rata-rata pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) atau Commuter Line Jabodetabek mencapai 951.111 per hari, dengan total sepanjang Januari–November 2025 mencapai 317.671.127 pengguna.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan arus ini terdistribusi pada lima lintas utama meliputi Bogor Line (141.125.256 pengguna), Cikarang Line (78.049.475), Rangkasbitung Line (70.496.181), Tangerang Line (24.794.995), dan Tanjung Priuk Line (3.205.220).
Lebih lanjut berdasarkan data KAI, pergerakan terbesar berasal dari simpul-simpul utama seperti Stasiun Bogor (33.081.659 transaksi (gate in–out), Tanah Abang (29.768.022), Sudirman (22.559.386), Citayam (20.683.468), dan Bekasi (20.176.011).
Selain itu, stasiun seperti Depok Baru (18.605.476), Bojonggede (18.173.763), Tebet (17.791.121), Cawang (15.215.193), dan Jakarta Kota (14.207.593) juga mencatat aktivitas tinggi.
Sebagai stasiun transit terbesar, Manggarai merekam 52.409.989 transaksi transit, serta 9.654.021 transaksi gate in–out dari layanan KRL. Pada layanan Commuter Line Bandara, Manggarai menambah 866.015 transaksi gate in–out, sehingga total mencapai 10.520.360 transaksi Januari hingga November 2025.
Anne mengatakan saat ini KAI terus memperkuat integrasi antarmoda agar perjalanan masyarakat yang semakin mudah, efisien, dan ramah lingkungan. Menurut Anne integrasi antarmoda ini menjadi kunci menghadapi dinamika mobilitas harian di kawasan Jabodetabek.
"Mobilitas urban bergerak sangat cepat. Karena itu, kami membangun integrasi dari first–last mile hingga koneksi antarmoda agar pelanggan dapat berpindah dengan aman, mudah, dan nyaman," ujar Anne dalam keterangannya, Minggu (7/12).
Lebih lanjut Anne mengatakan integrasi antarmoda semakin kuat dengan terkoneksinya LRT Jabodebek dan Commuter Line melalui dua simpul strategis yaitu Dukuh Atas dan Cikoko. Dukuh Atas menjadi titik perpindahan utama dari LRT menuju Stasiun Sudirman, sementara hubungan LRT Cikoko dengan Stasiun Cawang tersedia.
Ilustrasi para pengguna KRL di Jakarta. Foto: Shutterstock
Stasiun LRT Dukuh Atas yang stasiun tersibuk di jaringan LRT mencatat 7.548.845 transaksi gate in–out sepanjang Januari–November 2025. Secara keseluruhan, LRT Jabodebek mencatat 26.113.546 pengguna pada Januari–November 2025.
LRT Jabodebek melayani rata-rata 98.172 pengguna per hari kerja dan 41.780 pengguna pada akhir pekan. Pada lintas pelayanan, rute Dukuh Atas–Jatimulya mencatat rata-rata 56.194 pengguna per hari kerja, sementara lintas Dukuh Atas–Harjamukti mencapai 49.479 pengguna per hari kerja.
Kemudian stasiun dengan pergerakan besar lainnya adalah Harjamukti (6.041.570 transaksi gate in-out), Kuningan (4.727.984), Cikoko (4.190.204), dan Pancoran (3.720.789).
Menurut Anne, konektivitas ini membantu mempercepat arus penumpang di stasiun bervolume tinggi seperti Sudirman, Tanah Abang, dan Cawang. Integrasi antara KRL dan LRT membuat perpindahan moda lebih cepat, menjadi pilihan perjalanan yang lebih efisien, sekaligus memperkuat peran transportasi publik sebagai tulang punggung mobilitas harian Jabodetabek.
KAI juga menyediakan parkir sepeda gratis dan water station gratis di puluhan stasiun KRL Jabodetabek. Fasilitas ini dapat digunakan dengan melapor kepada petugas dan dilengkapi CCTV, area pengamanan, serta dua tipe kapasitas yaitu rak per kapasitas untuk 8 sepeda lipat dan 10 sepeda biasa, serta 6 meter persegi per rak untuk 15 sepeda.
Fasilitas parkir sepeda telah tersedia di banyak stasiun seperti Pasar Minggu, Tebet, Lenteng Agung, Depok, Pondok Cina, Kebayoran, Juanda, Jakarta Kota, Bekasi, Bekasi Timur, Cakung, Duren Kalibata, Mangga Besar, Palmerah, Sawah Besar, Buaran, Tambun, Klender, Cibitung, dan Kranji.
Seluruh stasiun LRT Jabodebek dilengkapi parkir sepeda dan sebagian besar memiliki *water station* untuk isi ulang air minum. Ketersediaan fasilitas pada kedua moda ini berjalan seiring dengan tingginya pergerakan pelanggan Commuter Line.
"KAI Group sedang membangun ekosistem transportasi yang semakin terhubung. Ketika masyarakat dapat dengan mudah berpindah dari sepeda ke KRL dan LRT serta moda transportasi lainnya, kota menjadi lebih sehat, bersih, dan rendah emisi," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar