Seseorang mengambil foto sebagai penghormatan kepada Ratu Elizabeth II muncul di layar papan iklan Nasdaq MarketSite di Times Square, di New York, AS, Kamis (8/9/2022). Foto: Andrew Kelly/Reuters
Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) kini menimbulkan kecemasan besar di kalangan investor. Menurut Pendiri Thomas Bravo, Orlando Bravo, banyak perusahaan masih bingung menentukan mana perusahaan teknologi yang benar-benar layak menjadi taruhan.
Dalam acara Bloomberg New Voices di Miami, Jumat pekan lalu, Bravo menjelaskan bahwa hype AI memicu FOMO (fear of missing out) di pasar swasta. Dorongan ingin ikut serta sering kali membuat perusahaan mengambil langkah gegabah yang bisa berujung penyesalan.
"Di pasar swasta, ada ketakutan akan kehilangan kesempatan atas AI yang mengharuskan mereka untuk menjadi bagian darinya dan itu akan menyebabkan banyak orang membuat banyak kesalahan," ujar Bravo, dikutip Bloomberg Minggu (7/12).
Sementara itu, di pasar publik, ia mengatakan investor cenderung menilai perusahaan berbasis price-to-earnings ratio (PE). "Jika Anda tidak menghasilkan uang, mereka menghukum saham Anda," katanya.
Bravo juga menyebutkan bahwa investor institusi seperti mitra terbatas (LP) semakin ragu berinvestasi di sektor AI karena menilai valuasinya terlalu tinggi dan berisiko.
"Ada beberapa lembaga LP besar, beberapa di antaranya yang terbaik, yang saat ini berada di pinggir lapangan untuk pertama kalinya dalam 30 tahun," jelas Bravo. Ia menambahkan, banyak investor kini memilih menunggu dan memahami produk lebih dalam sebelum menandatangani transaksi.
Thoma Bravo sendiri sudah lama menjadi pemain utama di dunia investasi perangkat lunak. Perusahaan ini mengelola lebih dari USD180 miliar per 30 September dan, menurut data Bloomberg, telah menguasai sekitar 20 persen transaksi private equity di sektor tersebut sejak 2008.
Bravo, yang kini berusia 55 tahun lahir di Puerto Riko dan tetap menjaga kedekatan dengan kampung halamannya lewat yayasan keluarga. Ia pindah ke Florida saat remaja untuk mengejar karier tenis, lalu kuliah di Brown University dengan beasiswa.
Kariernya berlanjut di Morgan Stanley sebagai bankir investasi sebelum meraih gelar hukum di Universitas Stanford. Ia kemudian bergabung dengan Thoma Cressey Equity Partners dan akhirnya mendirikan Thoma Bravo. Kini, Bloomberg Billionaires Index memperkirakan kekayaannya mencapai USD 14,7 miliar.
Pada Agustus lalu, Thoma Bravo mengakuisisi perusahaan perangkat lunak sumber daya manusia Dayforce Inc. senilai USD 12,3 miliar salah satu akuisisi terbesar yang pernah mereka lakukan. Pada Juni, perusahaan ini juga mengumumkan berhasil mengumpulkan USD 24,3 miliar untuk dana akuisisi terbaru mereka.
Pendiri Thomas Bravo, Orlando Bravo. Dok: Patrick T. FALLON / AFP
Bravo menilai teknologi AI akan menjadi kekuatan besar yang mengubah cara kerja perusahaan dalam jangka panjang. Namun untuk saat ini, banyak perusahaan masih harus mengejar target bisnis sambil menyesuaikan strategi investasi.
"Beberapa valuasinya benar-benar tidak seimbang," ungkapnya.
Kendati demikian, ia menegaskan peluang investasi tetap terbuka lebar.
Ia juga menambahkan bahwa manfaat produktivitas dari AI kemungkinan baru terasa seiring waktu. Namun perubahan teknologi ini sudah mendorong banyak perusahaan melakukan restrukturisasi internal mulai dari memperbaiki proses bisnis hingga menekan biaya dan meningkatkan margin.
"Mengubah proses mereka dengan cara yang lebih baik atau hanya mengurangi biaya dan meningkatkan margin mereka dengan cara tradisional," kata Bravo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar