Seorang pedagang mengambil obat untuk konsumennya di Pasar Pramuka, Jakarta, Selasa (3/1/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat 85 persen bahan baku farmasi di Indonesia masih bergantung impor. Namun demikian, 95 persen produk obat sudah diproduksi di dalam negeri berkat hilirisasi industri kesehatan.
"Saat ini bahan baku farmasi kita masih sekitar 85 persen impor, terutama dari India dan China. Tapi 95 persen produk obat jadi sudah diproduksi di dalam negeri. Kita hanya bisa mematahkan dominasi India dan China kalau mampu mengembangkan bahan baku dari kekayaan alam kita sendiri," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya, Selasa (9/12).
Dia menjelaskan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan bahan baku obat dari sumber daya alam lokal, seperti tanaman obat dan minyak atsiri yang tersebar di berbagai daerah. Potensi tersebut mampu memperkuat struktur industri farmasi nasional, sehingga Indonesia tidak hanya bergantung pada bahan baku impor, tapi juga mampu memenuhi kebutuhan domestik dari produksi sendiri.
"Kita sudah punya contoh, misalnya bahan aktif berbasis tanaman obat, seperti meniran, yang sudah diekspor ke Inggris. Itu artinya industri kita sudah bisa memenuhi standar yang tinggi, karena Inggris itu salah satu negara dengan regulasi obat yang paling ketat," jelasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menambahkan bahwa hilirisasi industri kesehatan menjadi strategi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, melainkan juga produsen obat, vaksin, dan alat kesehatan.
Menurutnya, transformasi sistem kesehatan yang kini berlangsung membawa Indonesia menuju model yang proaktif, preventif, dan berbasis teknologi, di mana inovasi dari industri memainkan peran strategis.
"Kita memiliki dua dekade untuk memastikan mereka tumbuh menjadi generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan berdaya saing global," tuturnya.
Hingga kuartal III 2025, kinerja sektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional terus mencatatkan pertumbuhan yang solid. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini tumbuh 11,65 persen (year on year), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen.
Nilai investasi di sektor tersebut mencapai Rp 65,9 triliun, dengan nilai ekspor sebesar USD 15,22 miliar. Kontribusinya turut memperkuat kinerja industri manufaktur nasional yang menyumbang 17,39 persen terhadap PDB, serta menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar