Pemain Timnas Indonesia berfoto bersama sebelum melawan Timnas Bahrain dalam pertandingan Ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (25/3/2025). Foto: Bay Ismoyo/AFP
Globalisasi dan mobilitas lintas negara menjangkau warga Indonesia ke seluruh belahan dunia dengan fenomena diaspora. Dorongan ekonomi, akademik, dan profesional membentuk kondisi fenomena diaspora sebagai dinamika sosial yang kaya, tapi juga menyingkirkan penggunaan bahasa ibu, baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah asalnya.
Diaspora tidak hanya terjadi karena paksaan (misal: pengungsi), tetapi juga karena alasan sukarela seperti pendidikan, pekerjaan, atau pernikahan (Siregar & Hanita, 2020; Abrori et al., 2023; Felayati & Swastiratu, 2019).
Diaspora Indonesia tersebar di berbagai negara, seperti Malaysia, Belanda, Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara-negara lain, dengan jumlah mencapai jutaan orang (Felayati & Swastiratu, 2019; Muas, 2023).
Fenomena diaspora Indonesia ini familiar kita tahu, terutama bagi mereka yang telah menjadi bagian tim nasional sepak bola Indonesia. Misalnya, Jay Idzes, Sandy Walsh, Kevin Diks, Mees Hilgers, Justin Hubner, Eliano Reijnders, Calvin Verdonk, Tom Haye, Ragnar Oratmangoen, dsb. Kembalinya mereka ke Indonesia tentunya menjadi angin segar. Namun, bagaimana kabar bahasa ibu asli mereka?
Pemain Timnas Indonesia Ivar Jenner bersama Calvin Verdonk berselebrasi pada pertandingan Grup C putaran 3 Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (19/11/2024). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
Bahasa ibu sering diartikan sebagai bahasa yang pertama kali dipelajari dan digunakan anak dalam keluarga, terutama pada masa kanak-kanak awal (Mirić et al., 2024; Xiaobin, 2015; Kartini, 2022). Generasi diaspora—terutama generasi kedua dan ketiga—tumbuh dalam lingkungan multibahasa yang lebih menggunakan bahasa negara/daerah setempat daripada bahasa ibu.
Bahasa ibu sebenarnya dapat mencerminkan identitas budaya, menjadi penghubung dengan tradisi, nilai, dan sejarah keluarga atau komunitas (Viets, 2023; Nishanthi, 2020). Dalam fenomena diaspora Indonesia, kecakapan mereka (diaspora) dalam bahasa leluhur atau ibunya sering memudar, sehingga identitas dan warisan budaya menghadapi risiko lepas.
Berangkat dari upaya pemertahanan bahasa ibu di diaspora, konsep "Kamp Bahasa Ibu" muncul sebagai solusi berbasis komunitas. Gagasan ini terinspirasi dari kajian mengenai eksistensi bahasa Latvia untuk anak-anak diaspora Latvia di Finlandia, yang dipelajari dan digunakan di rumah serta didukung melalui sekolah dan kamp bahasa (Mirić et al., 2024; Balodis, 2024).
Ide ini juga didukung dari riset mengenai penggunaan bahasa Rusia bagi anak-anak keluarga Rusia di Tiongkok, yang tetap digunakan dalam keluarga meski tinggal di luar negeri (Hecht, 2020). Hasil dari studi-studi ini bisa diadopsi dan diadaptasi sesuai kebutuhan Badan Bahasa, organisasi, atau komunitas dalam upaya pelestarian dan pemertahanan bahasa ibu bagi masyarakat diaspora Indonesia.
Keysha Bulgamin, diaspora Indonesia di Belanda, yang mendapat panggilan untuk TC bersama Timnas Wanita Indonesia. Foto: Galih Bulgamin
Kamp Bahasa Ibu adalah program intensif yang dapat berbentuk perkemahan pada saat liburan sekolah atau kegiatan berkumpul, yang dirancang untuk mengajarkan dan memperkuat penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah di kalangan pelajar dan masyarakat diaspora. Kamp ini menggabungkan pembelajaran bahasa dengan aktivitas budaya seperti musik, seni, permainan tradisional dan kuliner, sehingga peserta kegiatan tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya leluhur mereka (Balodis, 2024).
Inisiatif konsep ini bisa diorganisir oleh Badan Bahasa dengan berkolaborasi dengan balai/kantor bahasa di berbagai provinsi di Indonesia. Artinya, balai/kantor bahasa di setiap provinsi juga bisa melakukan pendataan peserta atau keluarga diaspora yang berasal dari bahasa/suku tertentu yang terdapat pada lingkup provinsi binaannya di Indonesia.
Kajian empiris dari RTI International menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis bahasa ibu dapat meningkatkan kemampuan literasi, mengurangi angka putus sekolah, serta memfasilitasi pencapaian kompetensi bahasa asing (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2021). Lebih jauh lagi, pembelajaran bahasa ibu melalui program kamp bahasa ini bertujuan memberikan ruang pembelajaran (daring/luring) sebagai manifestasi pemertahanan bahasa ibu untuk diaspora Indonesia.
Bila berhasil dan mendapat antusias tinggi, program ini bisa berkembang menjadi blended learning (pembelajaran campuran daring dan luring) atau program tatap muka pada tahun berikutnya, sembari melakukan persiapan, pendataan, pemantapan, serta sosialisasi membumikan revitalisasi bahasa ibu kepada diaspora secara berkala.
Ilustrasi Bahasa-bahasa di Dunia Foto: Getty Images
Studi diaspora Chuvash dan Mari di Rusia mendeskripsikan bahwa anak-anak bisa dikirim ke desa untuk belajar bahasa dan budaya dari nenek mereka (Kutsaeva, 2024).
Artinya, para peserta Kamp Bahasa Ibu bisa melakukan tur ke wilayah-wilayah Indonesia yang didesain semenarik mungkin dan bermakna. Bila perlu, Badan Bahasa bisa sekaligus memilih Duta Bahasa Diaspora sebagai wujud regenerasi bahasa ibu dan mempertahankan kedaulatan bahasa Indonesia di negara lain melalui warga diasporanya.
Ada beberapa manfaat dari dilaksanakannya program ini.
Meningkatkan kemampuan bahasa ibu, yaitu kamp bahasa ini memberikan lingkungan imersif di mana peserta dapat berlatih berbicara, mendengar, dan menulis dalam bahasa daerah secara aktif;
Memperkuat identitas budaya melalui aktivitas budaya, sehingga peserta kamp dapat memperkuat rasa identitas dan keterikatan dengan tanah asal mereka (Balodis, 2024);
Membangun jaringan sosial, yang mana kamp bahasa ini mempertemukan anak-anak diaspora dari berbagai negara dan membangun komunitas yang saling mendukung dalam pelestarian bahasa (Balodis, 2024). Komunitas ini bisa terus didukung keberadaannya dan bisa menjadi investasi jangka panjang dalam perkembangan dunia profesional bagi Indonesia melalui warga diasporanya. Misalnya, olahraga, bisnis, pariwisata, pendidikan, penelitian, ekonomi, dsb.
Latvian Languange Agency menjadi salah satu lembaga yang telah berhasil melaksanakan kamp bahasa ini. Lembaga ini secara aktif menyelenggarakan kamp bahasa musim panas untuk anak-anak diaspora Latvia di luar negeri. Kamp ini didukung dengan materi ajar, kegiatan seni, musik, dan wisata warisan budaya (heritage tourism), yang semuanya bertujuan memperkuat penggunaan bahasa Latvia dan mempererat hubungan budaya (Balodis, 2024).
Ilustrasi kursi dan menja sekolah. Foto: Shutterstock
Keberadaan kamp ini juga bisa diperkuat dengan adanya lembaga/sekolah bahasa diaspora untuk rencana jangka panjangnya. Lembaga seperti Latvian Language Agency juga mendukung sekolah-sekolah bahasa di luar negeri dan menerbitkan sumber belajar untuk komunitas diaspora (Balodis, 2024). Artinya, peran institusi yang serupa di Indonesia—seperti Badan Bahasa dengan berkolaborasi melalui balai/kantor bahasa di setiap provinsi—sangat diperlukan dalam pemertahanan bahasa ibu pada diaspora Indonesia di luar negeri.
Keberhasilan Kamp Bahasa Ibu ini juga sangat bergantung pada kolaborasi antara keluarga, komunitas, dan institusi. Pendekatan terpadu yang menggabungkan komitmen pribadi (misal: keluarga yang konsisten menggunakan bahasa daerah di rumah) dan dukungan institusional (seperti kamp bahasa dan sekolah komunitas) terbukti efektif menjaga vitalitas bahasa daerah di diaspora (Balodis, 2024).
Diaspora Indonesia berperan dalam diplomasi budaya, ekonomi, dan sosial, serta dapat menjadi jembatan hubungan antara Indonesia dan negara tujuan (Felayati & Swastiratu, 2019; Muas, 2023). Maka dari itu, Kamp Bahasa Ibu bukan sekadar wadah belajar bahasa, melainkan benteng hidup yang menjaga denyut nadi identitas budaya Indonesia di mancanegara.
Dengan dukungan sinergis antara Badan Bahasa, balai/kantor bahasa provinsi, keluarga, dan komunitas, kamp ini berpotensi tumbuh menjadi oasis keberlanjutan kultural yang memupuk rasa bangga dan kecintaan terhadap bahasa ibu. Seumpama lentera yang menyinari lorong kenangan, Kamp Bahasa Ibu menyalakan kembali kecintaan pada akar budaya, memantulkan cahaya harapan agar warisan bahasa Indonesia dan ragam bahasa daerahnya terus hidup dan bersinar di kancah global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar