Sabtu pagi seharusnya menjadi hari yang tenang bagiku. Aku sudah menyiapkan niat: duduk, membuka laptop, dan melanjutkan bab-bab novel yang sedang kukerjakan. Cukup rapi rencananya: kopi panas, lagu-lagu nostalgia 80-an, dan tekad untuk menambah minimal satu bab.
Namun, sebelum jari menyentuh keyboard, muncul godaan kecil: menonton satu serial Jepang bertema samurai yang baru saja rilis. Satu episode saja, pikirku. Mungkin dua. Toh enam episode untuk satu musim terasa cukup jinak. Lagipula, dulu saat menonton Kingdom atau All of Us Are Dead, aku bisa menahan diri untuk tidak menelan semuanya sekaligus.
Kalkulasi Hancur dalam 15 Menit Pertama
Serial itu, Last Samurai Standing, membuka diri seperti jebakan yang kusangka pintu kecil ke hiburan ringan. Ternyata bukan. Aku terpikat, terjerat, dan ditarik masuk. Sebelum sadar, aku sudah menyelesaikan semua episodenya tepat saat matahari siang menabrak jendela.
Ada momen ketika aku duduk diam; hanya menatap layar yang baru saja menutup episode keenam—episode terakhir yang membuat napasku tertahan sesaat—dan aku berkata pada diriku, barangkali ini tontonan paling berkesan yang kutelan tahun ini.
Yang membuatnya mencengkeram begitu dalam adalah benturan nilainya. Aku tumbuh bersama Samurai X, mengenal Kenshin sebagai sosok idealis yang menolak membunuh dan berupaya menebus masa lalunya. Etikanya lembut, hampir seperti peringatan bahwa dalam zaman yang bergemuruh, keberanian terbesar justru adalah menahan diri. Lalu, datanglah Shujiro Saga dari Last Samurai Standing.
Dia bukan Kenshin dan dunia yang melahapnya pun bukan dunia yang memberi ruang untuk penebusan. Shujiro hidup di era yang sama, yaitu pada transisi Meiji, tetapi tanpa belas kasihan narasi. Ia dipaksa bertahan, dipaksa memilih, dan dipaksa menjadi bagian dari mesin politik yang memusnahkan kelasnya sendiri. Jika Kenshin adalah manusia yang berusaha tetap jernih di tengah gelombang, Shujiro adalah manusia yang diseret arus dan terpaksa berenang meski seluruh tubuhnya luka.
Serial Alice in Borderland. Foto: Netflix
Di titik itu aku teringat pada Squid Game dan Alice in Borderland. Keduanya berbicara tentang sistem yang mencabik manusia, tentang permainan yang lebih besar daripada pemainnya. Namun, Last Samurai Standing bermain di arena yang lebih tua, lebih kusut, dan lebih dekat ke dunia nyata.
Jika Squid Game adalah metafora kapitalisme dan Alice in Borderland adalah permainan eksistensial yang nyaris metafisik, Last Samurai Standing adalah sejarah yang diiris tipis sampai tampak seperti fiksi, padahal luka di bawahnya sungguh ada. Satu-satunya permainan di sana adalah bertahan hidup di tengah negara yang ingin menghapusmu. Bukan demi tontonan, bukan demi hadiah mewah, tapi demi perubahan zaman yang tidak peduli siapa yang tertinggal.
Menonton enam episode itu membuatku merenung: ada kekuatan besar dalam cerita yang lahir dari sejarah yang digali dalam-dalam. Ada napas panjang yang hanya muncul ketika seorang penulis masuk sampai ke sumsum zaman yang ia ceritakan. Serial ini diangkat dari novel dan ketika melihat bagaimana dunia Meiji terbangun begitu rinci, aku langsung teringat pada naskahku sendiri.
Ilustrasi Majapahit - Dua warga bertemu di sekitar Candi Wringin Lawang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, Indonesia. Foto: livyah08/Shutterstock.
Novel tentang Majapahit yang sempat kutulis beberapa bulan lalu—Bayang Majapahit—masih berhenti di beberapa bab. Bukan karena hilang semangat, melainkan karena aku tahu sejarah besar tidak bisa ditangani dengan riset sambil lewat. Aku ingin menulis karya yang berdiri tegak seperti itu, tapi aku juga tahu aku perlu menggali lebih dalam, membaca lebih banyak, dan mungkin membenamkan diri ke dalam sumber-sumber yang belum sempat kusentuh.
Sabtu itu seharusnya menjadi waktu menulis. Nyatanya berubah menjadi waktu belajar. Last Samurai Standing mengingatkanku bahwa sebuah cerita bisa menjadi rumah bagi sejarah, trauma, dan perubahan zaman, asal penulisnya berani menyelam sampai gelap.
Aku ingin suatu hari bisa menulis novel seperti itu. Mungkin butuh waktu, mungkin butuh riset yang membuat kepala terasa penuh. Namun, keinginan itu sudah terlanjur tumbuh; dan seperti gelombang Meiji yang tak bisa dihentikan, ia akan terus mendorongku untuk kembali membuka bab yang dulu kutinggalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar