Nadin Amizah memeriahkan High School Fest 2025 hari pertama di PIK 2, Sabtu (22/11/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan
High School Fest 2025 hari pertama digelar Sabtu (22/11). Langit di kawasan PIK 2 nampak abu-abu menutup sisa cahaya matahari pukul 17.00 WIB, menyambut kehadiran "Ibu Peri", Nadin Amizah.
Nadin Amizah, dengan rambut tergerai dan outfit manisnya yang khas, naik ke atas panggung High School Fest 2025. Tidak butuh waktu lama bagi Nadin menyihir ribuan penonton yang memadati area festival.
Nadin membuka konsernya lewat lagu populer Rayuan Perempuan Gila. Hentakan musik yang catchy dan lirik menyayat langsung disambut koor massal penonton.
Nadin Amizah memeriahkan High School Fest 2025 hari pertama di PIK 2, Sabtu (22/11/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Suasana semakin syahdu ketika ia melanjutkan dengan Berpayung Tuhan, membawa penonton lebih dalam ke dunia Nadin Amizah yang melankolis.
"Siapa di sini yang datang bersama orang yang merayakannya?" tanya Nadin Amizah lembut.
Sorak-sorai terdengar, bercampur dengan celetukan penonton. Nadin tersenyum, lalu melanjutkan.
"Kalau belum ada, kita rayakan satu sama lain di sini, ya?" ajak Nadin.
Mendengar riuh respons penonton mayoritas remaja, Nadin melontarkan candaan kecil yang mencairkan suasana.
"Aku sudah ada yang rayakan, dong," ujar Nadin, dengan nada bangga, mengingatkan penonton ke sosok suami Nadin, Faishal Tanjung.
Faishal yang berdiri di pinggir panggung menatap Nadin dan melambaikan tangannya.
Namun, dengan cepat ia kembali merangkul perasaan mereka yang sendirian.
"Jangan sedih, di sini aku yang rayakan kalian, ya," ujar Nadin disambut sorak penonton.
Penyanyi Nadin Amizah tampil saat Bigu Festival 2025 di Lapangan Aldiron, Jakarta, Minggu (13/7/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Kalimat itu menjadi pengantar sempurna untuk lagu Semua Aku Dirayakan. Di bawah langit mendung, lagu tersebut terasa seperti pelukan hangat bagi siapa saja yang merasa sepi di tengah keramaian.
Nadin kemudian memandang ke langit, sedikit menyayangkan cuaca yang tidak secerah harapannya.
"Sayangnya sore ini enggak ada sunset, ya. Enggak apa-apa, yang penting enggak hujan, ya," tutur Nadin.
Suasana kemudian berubah menjadi sedikit lebih playful. Layar panggung menampilkan siluet seekor kucing hitam yang ikonik.
"Aku ingin bawakan laguku yang judulnya Ah," kata Nadin.
Irama jazzy dari lagu Ah pun mengalun, membuat penonton bergoyang santai mengikuti tempo yang memikat.
Konser Nadin selalu menjadi sejenis rollercoaster emosi. Dari suasana jazzy, ia membawa penonton kembali ke momen kontemplasi yang mendalam.
Nadin mendedikasikan lagu berikutnya untuk sosok paling penting dalam hidupnya, sang ibunda.
"Lagu ini aku ciptakan untuk ibuku. Dan semoga lagu ini juga bisa mengingatkan pada sosok yang melahirkan kamu semua," ucap Nadin dengan suara bergetar.
Bertaut pun berkumandang. Di barisan penonton, tak sedikit yang terlihat menyeka air mata, teringat pada ikatan batin dengan ibu mereka masing-masing.
Menuju penghujung penampilannya, Nadin membawakan Di Akhir Perang, sebelum mengajak penonton merenungi fase kehidupan lewat Kita Beranjak Dewasa.
Sebagai penutup, Sorai menjadi salam perpisahan yang manis. Ribuan tangan melambai di udara, merayakan pertemuan singkat dan bermakna bersama Nadin sore ini.
Meskipun tanpa matahari terbenam yang jingga, Nadin berhasil menciptakan cahayanya sendiri lewat panggung High School Fest 2025, menghangatkan hati siapa saja yang hadir untuk dirayakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar