Menko PMK Pratikno di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (9/11/2025). Foto: Jonathan Devin/kumparan
Menko PMK, Pratikno, mengungkap penderita penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia jumlahnya tertinggi kedua di dunia. Dia menilai, persoalan ini perlu dituntaskan segera.
"Jadi kita tahu penyakit TB ini adalah penyakit yang harus diperhatikan secara serius, karena Indonesia penyumbang kedua terbesar di dunia setelah India. Kita tidak ingin situasi ini berlanjut," kata Pratikno di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (9/11).
Dia menyebut, jumlah penderita TBC di Indonesia sempat menurun hingga 2021 lalu. Namun, peningkatan mulai terjadi semasa pandemi COVID melanda.
"Itu pasti karena orang komorbid, tidak berani keluar rumah, tidak berani berobat ke rumah sakit. Para dokter juga sangat serius pada waktu pandemi Covid, terus kemudian rumah sakit juga sangat sibuk karena pandemi Covid," jelas Pratikno.
"Nah ini menyebabkan ada kenaikan kasus mulai tahun 2022, sampai 2024 ada kenaikan sedikit," tambah dia.
Karenanya, saat ini tengah digalakkan kampanye Temukan, Obati, Sampai sembuh (TOS TBC). Fasilitas pengobatan TBC juga kini sudah diperbanyak hingga tingkat puskesmas.
"Ini fasilitas pengobatannya, Pak Wamenkes yang mengawal ini, sudah tersedia di puskesmas. Obatnya tersedia, alat screening-nya juga tersedia, mulai dari puskesmas sampai rumah sakit," tuturnya.
Pratikno berharap, dengan berbagai upaya yang dilakukan ini bisa menurunkan tingkat penderita TBC di Indonesia, sekaligus menekan angka penularannya.
"Kita sangat berharap dalam waktu yang tidak lama kita bisa menuntaskan kasus TBC ini, mulai turun tahun 2025 dan seterusnya turun drastis untuk ke depannya. Karena ini adalah penyakit menular dengan angka kematian yang tinggi, angka kematiannya lebih tinggi dari Covid ya," ucapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar