Fenomena False Intimacy: Saat Kemesraan di Medsos Menutupi Retaknya Hubungan. Foto: dodotone/Shutterstock
Banyak perceraian selebriti di tahun 2025 yang mungkin terasa mengejutkan. Mulai dari Sherina Munaf, Tasya Farasya, hingga Raisa. Banyak pasangan yang selama ini terlihat harmonis justru memutuskan berpisah. Ternyata, sering melihat foto-foto kemesraan di media sosial, tak lantas jadi validasi bahwa hubungan seseorang dalam kondisi harmonis.
Sebuah studi dalam Personality and Social Psychology Bulletin menemukan bahwa pasangan cenderung lebih sering memamerkan kemesraan ketika hubungan mereka sedang bermasalah.
Penjelasan Psikolog soal False Intimacy dalam Hubungan
Penjelasan Psikolog soal False Intimacy dalam Hubungan. Foto: Prostock-studio/Shutterstock
Temuan ini didukung oleh psikolog klinis asal Amerika Serikat, Andrea Bonior, yang mengatakan, "Ketika hubungan terasa renggang, sebagian orang mencari validasi dari luar melalui media sosial."
Inilah yang disebut false intimacy, keintiman palsu yang tampak hangat di foto, tetapi jauh berbeda dari realitas emosional yang dialami dua orang dalam hubungan tersebut. Unggahan mesra menjadi cara untuk menutupi jarak yang makin lebar, sekaligus membangun ilusi bahwa hubungan tersebut baik-baik saja. Bukan untuk memperbaiki hubungan, melainkan untuk menjaga citra.
Penjelasan Psikolog soal False Intimacy dalam Hubungan. Foto: Ranta Images/Shutterstock
Dalam tekanan budaya yang menuntut kita tampil bahagia, pasangan sering merasa harus terus menunjukkan versi terbaik dari hidup mereka. Padahal, likes dan komentar yang didapat dari unggahan tersebut tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah dalam hubungan. Hal tersebut hanya memberikan sensasi hangat sesaat, sedangkan yang dibutuhkan sebenarnya adalah deep talk dan keterbukaan satu sama lain.
Jadi Ladies, pahami bahwa keintiman yang sesungguhnya justru lahir dari komunikasi yang jujur, quality time, dan keberanian untuk mengakui bahwa hubungan memang tidak akan selalu mulus dan tidak perlu sorotan publik. Kamu dan pasangan hanya butuh tumbuh dan saling terkoneksi, bukan validasi dari ribuan mata yang mengamati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar