Sejumlah warga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di kawasan Tambora, Jakarta Barat, Sabtu (29/11/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Kecamatan Tamboran menjadi salah satu kawasan terpadat di Jakarta, pada 2023 tercatat secara keseluruhan, Kecamatan Tambora dihuni 90.133 jiwa dengan kepadatan 49.478 jiwa/km².
kumparan mencoba menelusuri salah satu kawasan terpadat yaitu Gang Venus di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Sabtu (22/11).
Gang Venus tampak menyempil di pinggir Jalan Jembatan Besi Raya. Dari luar, lorong ini terlihat seperti gang kecil pada umumnya. Namun saat kumparan mulai memasuki area tersebut, kepadatan langsung terasa, kontras dengan banyak wilayah lain di Jakarta.
Di ujung gang berjajar gerobak-gerobak jualan mulai dari mi ayam, bakso yang sedang terpakir di pinggir jalan. Jalan di dalam Gang Venus pun hanya bisa dilalui dua motor yang berpapasan sambil berhempitan.
Masuk lebih dalam, deretan rumah dan kontrakan bertingkat berdiri rapat. Ruang antar-bangunan begitu minim, membuat warga lebih banyak berkegiatan di luar rumah.
Warga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di kawasan Tambora, Jakarta Barat, Sabtu (29/11/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Terlihat ibu-ibu dan bapak-bapak duduk berbincang di depan pintu, sebagian lainnya sekadar menghabiskan waktu di kursi-kursi kecil di pinggir gang.
Penerangan dan sirkulasi udara di Gang Venus sebenarnya sudah mulai membaik. Namun, semakin jauh kumparan melangkah, semakin tampak adanya "gang di dalam gang".
Di lorong-lorong kecil yang bercabang dari Gang Venus, kepadatan kembali meningkat. Cahaya yang sebelumnya cukup terang mulai meredup karena atap-atap semi permanen dari terpal.
Warung-warung kecil yang didirikan warga juga mempertebal kesan sesak di kawasan ini. Di beberapa titik, cucian pakaian menggantung melintang di atas kepala, sementara jalan dipenuhi aktivitas warga.
Masyarakat beraktivitas di Gang Venus di Kawasan Tambora, Jakarta Barat, Sabtu (29/11). Foto: Rayyan/Kumparan
Untuk berjalan di gang ini, kumparan harus melewati warga yang sedang mencuci piring, mencuci baju, memandikan burung, hingga ada yang tengah menguras akuarium di depan rumah.
Ruang gerak begitu terbatas, sementara aktivitas berlangsung berdempetan.
Kepadatan Tambora bukan sekadar angka statistik. Menyusuri Gang Venus memperlihatkan bagaimana warga di sana berbagi ruang hidup secara begitu rapat dengan ritme, interaksi, dan aktivitas yang menyatu dalam lorong-lorong sempit Tambora.
Kondisi ini juga mencerminkan dinamika kepadatan Jakarta sebagai kota megapolitan.
Sejumlah warga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di kawasan Tambora, Jakarta Barat, Sabtu (29/11/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Laporan baru PBB mengungkapkan Jakarta kini menjadi kota terbesar di dunia dengan 41,9 juta penduduk yang tinggal di wilayah metropolitan-nya. Peringkat kedua ditempati Dhaka, Bangladesh, dengan 36,6 juta penduduk.
Sebelumnya, Tokyo, Jepang, merupakan kota terbesar di dunia berdasarkan penilaian PBB pada 2000. Populasi Tokyo yang relatif stabil dengan 33,4 juta jiwa kini berada di peringkat ketiga.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (26/11), Laporan Prospek Urbanisasi Dunia 2025 dari Departemen Ekonomi dan Urusan Sosial PBB mencatat jumlah kota besar di dunia melonjak menjadi 33 kota—naik empat kali lipat dari hanya 8 kota besar pada 1975.
Dhaka di Bangladesh berada di posisi kedua dengan 36,6 juta penduduk. Sementara Tokyo yang sebelumnya dinilai sebagai kota terbesar dunia pada 2000 kini berada di posisi ketiga dengan 33,4 juta penduduk.
Suasana Gang Venus di Kawasan Tambora, Jakarta Barat, Sabtu (29/11). Foto: Rayyan/Kumparan
Laporan tersebut juga mencatat jumlah kota besar di dunia meningkat menjadi 33 kota, naik empat kali lipat dari hanya 8 kota besar pada 1975.
Sebanyak 19 dari 33 kota besar itu berada di Asia. Selain Jakarta, Dhaka, dan Tokyo, beberapa kota Asia yang masuk 10 besar antara lain New Delhi (30,2 juta), Shanghai (29,6 juta), Guangzhou (27,6 juta), Manila (24,7 juta), Kolkata (22,5 juta), dan Seoul (22,5 juta).
Kepadatan global yang meningkat ini memperlihatkan bagaimana kawasan seperti Tambora menjadi gambaran mikro dari tantangan urbanisasi besar yang kini dihadapi kota-kota dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar