Petugas menggunakan alat berat mengakut sampah di pusat pembuangan sampah besar (bulky waste) di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Di tengah deru mesin pencacah dan alat berat di Saringan Sampah TB Simatupang (SSTBS), para petugas kerap menemukan kisah unik di balik sampah besar atau bulky waste yang dibuang.
Dari sofa rusak, lemari kayu, AC, hingga guci giok dan kulkas berisi sayur, semua pernah singgah di tempat ini sebelum dihancurkan atau diolah kembali.
Adhitya Oktabery (36), Pengawas Saringan Sampah TB Simatupang, mengatakan semua jenis sampah besar diterima tanpa terkecuali.
"Kalau untuk jenis sampah bulky waste semua kita terima. Baik itu apa namanya, logam atau pun dari kayu, jenis apa pun kita terima," ujar Adhit saat ditemui di SSTBS, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10).
Adhitya Oktabery (36), pengawas di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
"Karena kenapa kita terima semuanya? Ya, kita memaksimalkan pelayanan pembuangan Bulky Waste yang di mana tujuan akhirnya sebenarnya mengurangi volume sampah yang akan kita bawa ke Bantargebang. Goal-nya di situ," lanjutnya.
Sampah besar atau bulky waste merupakan jenis sampah rumah tangga yang berukuran besar dan tidak dapat dibuang melalui sistem pengangkutan biasa, seperti kasur, lemari, kursi, dan perabot rumah tangga lainnya.
Pengangkatan sampah besar saat ini dapat dilakukan berdasarkan pengajuan warga melalui portal resmi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta.
Namun, di antara sampah barang tersebut, tidak sedikit yang menyimpan cerita menarik di balik proses penghancurannya.
"Guci giok," kata Adhitya ketika ditanya barang paling unik yang pernah diterima.
Petugas mengakut sampah di pusat pembuangan sampah besar (bulky waste) di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Guci tersebut, menurut Adhitya, merupakan salah satu barang sitaan dari lembaga keuangan yang harus dimusnahkan.
"Itu dicacah tetap. Karena memang itu, jadi mungkin ini alur uniknya gini, ada beberapa memang barang itu barang sitaan, dan itu harus dimusnahkan. Nah, itu dimusnahkannya di sini," ujar Adhit.
"Tapi tidak menggunakan mesin pencacah, kita hancurkan menggunakan ekskavator," sambung dia.
Ia menyebut, barang itu berasal dari salah satu lembaga keuangan yang saat itu sedang melakukan perombakan kantor.
"Waktu itu memang ada perombakan kantor. Mungkin kalau informasinya seperti itu. Tapi kalau menurut saya pribadi mungkin karena memang apakah karena gucinya sudah tidak layak untuk dijadiin hiasan atau gimana, akhirnya dibawa ke sini untuk dihancurkan," kata Adhitya.
Petugas mengakut sampah di pusat pembuangan sampah besar (bulky waste) di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Selain guci giok, Adhit mengaku timnya juga pernah menemukan kulkas yang tak kosong, alias masih banyak sisa makanan di dalamnya.
"Dan juga yang kedua, ada kejadian di mana kita dapat kulkas, di dalamnya juga masih ada kayak sayuran gitu. Ya, mungkin kalau untuk saat ini sih mungkin itu sih," tandasnya.
Saringan Sampah TB Simatupang mulai beroperasi pada 7 Agustus 2023 dan kini menjadi pusat pengolahan bulky waste di Jakarta.
Sejak beroperasi, tempat ini menjadi bagian penting dalam upaya Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup untuk mengurangi beban sampah yang dikirim ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar