Search This Blog

Melihat Hormat 'Abadi' Patung Jenderal Besar Sudirman

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Melihat Hormat 'Abadi' Patung Jenderal Besar Sudirman
Oct 4th 2025, 15:30 by kumparanNEWS

Patung Jenderal Sudirman Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Patung Jenderal Sudirman Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Jenderal Besar Sudirman, si jago gerilya, itu tak pernah menurunkan tangannya dan terus menunjukkan sikap hormat kepada setiap mereka yang datang dari arah Bundaran HI, Jakarta Pusat menuju ke selatan.

Ia jadi simbol jalan yang melintas di kanan kirinya--Jalan Jenderal Sudirman, sebuah jalan utama di Ibu Kota.

Patung itu tegap menjulang, setinggi 12 meter—terdiri dari 6,5 meter patung inti dan 5,5 meter patung penyangga. Sang jenderal pakai blangkon, sebuah mantel panjang, ada keris di sela mantelnya. Wajahnya sedikit terangkat dengan sorot mata yang tegas. Tangan kirinya memegang sebuah tongkat yang setia menemaninya saat gerilya, dan tangan kananya memberi hormat sempurna.

Wujudnya begitu mirip dengan hari-hari saat ia aktif memimpin gerilya pada masa revolusi fisik tahun 1948, usai ibu kota Yogyakarta diserang Belanda.

Perang itu membuat dirinya harum sebagai satu dari 3 tokoh militer di Indonesia yang pantas menyandang Jenderal Besar--sebuah gelar tertinggi militer Indonesia dengan 5 bintang.

Gelar, pangkat, dan sikap hormat Sudirman dirasa sejumlah kalangan tak pantas untuk diabadikan dalam sebuah patung. Sebab, banyak pihak merasa tak semua orang pantas mendapatkan sikap hormat dari sang jenderal.

Namun, hormat itu bentuk pengabdiannya yang abadi kepada rakyat. Itu adalah penghormatan Sudirman kepada rakyat Indonesia, yang selalu diutamakan dan dibela dalam perjuangannya.

Suasana patung Jenderal Sudirman yang berdiri menunjukkan sikap hormat, di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (4/10/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan
Suasana patung Jenderal Sudirman yang berdiri menunjukkan sikap hormat, di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (4/10/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan

Sejak 2003, sikap hormat yang gagah dari sang jenderal itu pun kerap menjadi hal yang ikonik bagi para pekerja dan pengendara yang melintas di pusat ibu kota.

Tegapnya patung itu juga menunjukkan semangat pantang menyerah dari Sudirman. Jenderal yang mengembuskan napas terakhir pada 1950 itu, berjuang dalam sakitnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ia rela turun berperang di tengah terjangan penyakit TBC yang dideritanya. Jauh sebelum itu, Sudirman muda juga sempat mengabdikan dirinya sebagai guru dan kepala sekolah sekitar tahun 1936.

Ia pun dikenal aktif dalam organisasi. Pada sekitar tahun 1937, ia terpilih menjadi pemimpin kelompok pemuda Muhammadiyah.

Keputusan berani dari sang jenderal datang pada 1944 ketika ia memutuskan untuk bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Sudirman kemudian menerima mandat untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas.

Kariernya kemudian terus moncer saat ia terpilih menjadi panglima besar dalam pemilihan yang dilakukan pada 12 November 1945.

Sosok Sudirman pun menjadi saksi peristiwa-peristiwa besar saat itu, mulai dari perjanjian Linggarjati, perjanjian Renville, hingga menghadapi pemberontakan termasuk upaya kudeta 1948.

Atas perjuangannya, nama besar Sudirman hingga kini masih dikenang. Bahkan untuk mengingat jasanya, patung Jenderal Sudirman didirikan di beberapa tempat di Indonesia.

Di Yogyakarta, misalnya, ada patung Jenderal Sudirman di depan gedung DPRD DIY. Lalu, di Surabaya, patung Jenderal Sudirman berdiri kokoh di Jalan Yos Sudarso, persis berhadapan dengan Monumen Bambu Runcing yang populer. Selain itu, patung sang jenderal juga ada di Pacitan, Purwokerto, hingga Alor.

Foto dengan teknik Multiple Exposure antara patung Jenderal Sudirman dengan permukiman di Jakarta. Foto: Syawal Darisman/kumparan
Foto dengan teknik Multiple Exposure antara patung Jenderal Sudirman dengan permukiman di Jakarta. Foto: Syawal Darisman/kumparan

Di ibu kota, patung sang jenderal dibangun sekitar tahun 2001 oleh seorang seniman asal Bandung, bernama Edi Sunaryo. Patung itu sempat akan diresmikan pada tanggal 22 Juni 2003, bertepatan dengan HUT ke-476 DKI Jakarta. Namun, hal tersebut tidak terlaksana dan baru diresmikan pada 16 Agustus 2003.

Walaupun dibangun oleh PT Patriamega dan pihak keluarga, sekitar tahun 2003 hingga 2004, patung tersebut resmi disumbangkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Setelah lebih dari 22 tahun 'bersikap hormat', patung sang jenderal itu kini direncanakan bakal dipindahkan. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, berencana memindahkan Patung Sudirman lebih maju ke arah Jalan MH Thamrin, saat Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas, yang ditargetkan selesai 2027 mendatang.

Rencana ini mendapatkan dukungan dari Menteri Perhubungan, Dudy Purwaghandy, saat meninjau progres pembangunan TOD Dukuh Atas pada Selasa (30/9) lalu.

"Jadi, Patung Sudirman tentunya kita harus memberikan apresiasi, karena bagaimana pun ini adalah jenderal besar, sehingga nanti kalau di Dukuh Atas akan dibangun, dikoneksikan, Patung Sudirman harus ditempatkan yang betul-betul di depan," ujar Pram kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (2/10).

Pemindahan itu disebut bertujuan agar seluruh penumpang yang naik transportasi umum di kawasan Dukuh Atas, dapat melihat langsung pemandangan salah satu patung ikonik kota Jakarta tersebut.

Media files:
egocwub7r0f461mgji9u.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar