Lebah madu (Apis cerana) memproduksi madu disarangnya di Ujung Jaya, Pandeglang, Banten, Sabtu (29/1/2022). Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto
Meski industri madu terus berkembang, faktanya lebah penghasil madu liar di Eropa justru populasinya semakin terancam dan kini masuk dalam kategori hewan terancam punah.
Ya, tidak semua lebah madu hidup di dalam sarang buatan. Di berbagai penjuru Eropa, koloni lebah madu masih hidup bebas di alam liar, bersarang di lubang pohon dan ruang alami lain, seperti yang mereka lakukan selama jutaan tahun.
Kini, untuk pertama kalinya, populasi lebah madu liar di Eropa secara resmi dikategorikan sebagai spesies terancam punah di wilayah Uni Eropa. Status ini diumumkan lewat pembaruan terbaru Daftar Merah IUCN.
Lebah madu barat punya sejarah panjang bersama manusia. Sejak ribuan tahun lalu, manusia sudah memelihara lebah di sarang sederhana untuk mengambil madunya. Praktik ini bahkan telah dilakukan sejak zaman Mesir kuno, dan bertahan hingga sekarang.
Namun, praktik perpindahan sarang dan penyerbukan komersial modern justru telah memengaruhi spesies ini dengan sangat signifikan. Akibatnya, lebah madu barat kini terbagi menjadi dua bentuk kehidupan: Koloni peliharaan yang dikelola manusia di sarang buatan, dan Koloni liar yang hidup mandiri tanpa campur tangan manusia.
Keduanya memang berasal dari spesies yang sama, Apis mellifera, tetapi nasib dan cara hidup mereka sangat berbeda. Sejak tahun 2000-an, lebah peliharaan sempat mengalami krisis besar. Para peternak lebah di berbagai negara melaporkan kematian koloni dalam jumlah besar. Para ilmuwan pun turun tangan mencari penyebabnya, mulai dari penyakit, pestisida, hingga perubahan iklim.
Lebah madu mengumpulkan serbuk sari pada tanaman lavender di taman botani Cyherbia di desa Siprus Avgorou di barat daya Distrik Famagusta, Siprus pada 8 Juni 2021. Foto: CHRISTINA ASSI/AFP
Namun, di balik sorotan pada lebah peliharaan, ada fakta lain yang selama ini terabaikan: lebah madu liar. Populasi mereka jarang dipelajari, khususnya di Eropa, sehingga informasi tentang kondisi mereka sangat minim.
Kesadaran akan kesenjangan pengetahuan inilah yang mendorong para peneliti Eropa menelusuri koloni lebah madu liar. Kini, koloni-koloni tersebut telah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari Irlandia, Inggris, taman nasional di Prancis, hutan di Jerman, Swiss, dan Polandia, hingga kota Beograd di Serbia. Peneliti ingin tahu apakah populasi ini benar-benar bisa bertahan hidup secara mandiri tanpa bantuan manusia.
Untuk menghubungkan berbagai riset tersebut, lahirlah inisiatif global bernama Honey Bee Watch pada tahun 2020. Tujuannya sederhana tapi penting, memahami bagaimana lebah madu hidup di alam liar. Di bawah payung program ini, tim beranggotakan 14 ilmuwan bekerja sama dengan IUCN untuk menilai ulang status konservasi Apis mellifera liar.
Dijelaskan oleh Arrigo Moro, Peneliti Pascadoktoral, Pusat Penelitian Lebah Madu Galway, University Galway, riset besar ini menjadi bagian dari pembaruan European Red List of Bees, yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Mons, Belgia. Mereka meninjau hampir 2.000 spesies lebah, banyak di antaranya belum pernah dikaji sebelumnya.
Pada 2014, lebah madu liar di Eropa sempat dikategorikan "data kurang" karena sulit menentukan apakah lebah yang ditemukan di pohon benar-benar liar atau hanya kabur dari sarang peliharaan.
Peternak lebah dan pemilik Domagoj Balja memeriksa madu dari sarangnya di "Hotel lebah dengan bintang lima" di Garesnica, Kroasia. Foto: Antonio Bronic/REUTERS
Dalam penilaian baru ini, para peneliti menggunakan pendekatan berbeda. Lebah madu sejatinya belum benar-benar didomestikasi, karena mereka masih bisa kawin silang bebas antara koloni liar dan peliharaan. Jadi, batas genetik keduanya sulit ditentukan.
Alih-alih meneliti genetik, para ilmuwan memilih pendekatan ekologis, yakni koloni disebut liar jika hidup bebas tanpa pengelolaan manusia, dan populasi tersebut bisa berkembang biak serta bertahan tanpa tambahan koloni baru dari sarang peliharaan.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menilai status konservasi lebah madu liar dengan lebih akurat. Eropa kini tercatat memiliki kepadatan koloni lebah liar paling rendah di dunia, karena populasi lebah peliharaan jauh lebih banyak.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa jumlah lebah liar terus menurun, diperparah oleh hilangnya habitat alami, serangan parasit, penyakit, serta hibridisasi akibat campur tangan manusia.
Hasilnya, lebah madu liar sedang berada dalam bahaya. Karena itu, statusnya kini resmi diperbarui menjadi "Terancam Punah di Uni Eropa". Kendati begitu, untuk wilayah Eropa yang lebih luas (termasuk Balkan, Baltik, Skandinavia, dan Eropa Timur), statusnya masih "data kurang" karena belum cukup penelitian.
Melindungi lebah madu liar bukan sekadar soal menyelamatkan satu spesies ikonik. Ini tentang menjaga ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, dan keseimbangan ekosistem.
Lebah liar memiliki kemampuan alami untuk bertahan menghadapi parasit, penyakit, dan kondisi ekstrem, sesuatu yang kerap membuat koloni peliharaan kolaps. Artinya, mereka menyimpan cadangan genetik penting yang bisa membantu semua jenis lebah lebih tangguh di masa depan.
Penetapan status terancam punah ini bukan akhir, tapi awal dari upaya pelestarian. Karena kini, dunia mengakui lebah madu liar adalah bagian dari satwa liar yang harus dilindungi, bukan sekadar hewan penghasil madu. Dan kita tak lagi bisa membiarkan mereka punah dalam diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar