Sugiyo, tunanetra yang merupakan salah satu guru di Yayasan Mitra Netra dan kini berhasil menyabet gelar Magister Teknik Informatika (S2) di Universitas Pamulang (Unpam). Foto: kumparan/Habib Allbi Feridan
Di balik suara pembaca layar yang memadu dengan barisan kode di monitor, ada kisah dua orang yang menolak menyerah dengan keterbatasan. Mereka adalah Sugiyo dan Putri Rokhmayati, guru dan murid yang sama-sama kehilangan penglihatan (tunanetra).
Keterbatasan sebagai tunanetra bagi mereka bukan hal yang membuatnya kehilangan arah. Dari Yayasan Mitra Netra di Jakarta, mereka mencari jalan untuk menembus dunia teknologi.
Sugiyo: Dari Pijat hingga ke Pemrograman
Di sebuah ruang kecil di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, ada salah satu sosok penting dalam Yayasan Mitra Netra yang kiprahnya jarang terekspos. Dia adalah Sugiyo, seorang penyandang disabilitas tunanetra yang kini menjadi salah satu penggerak pembelajaran di Mitra Netra.
Berasal dari daerah di Jawa Tengah, yaitu Pemalang, Sugiyo memutuskan untuk merantau ke kota besar Jakarta di awal 1990-an untuk mencari penghidupan. Seperti kebanyakan tunanetra lain, Sugiyo sempat bekerja sebagai tukang pijat sebelum akhirnya bergabung dengan Mitra Netra pada 1997.
"Dulu saya kerja pijat, sambil cari peluang lain. Baru ketika tahu ada komputer di Mitra Netra, saya tertarik untuk belajar," kata Sugiyo, salah satu pengajar di Yayasan Mitra Netra, kepada kumparanTECH saat ditemui di kantornya.
Sugiyo memiliki ketertarikan dengan komputer berbicara yang saat itu baru saja dikenalkan di Mitra Netra. Rasa ingin tahu yang tinggi, bikin dia mau belajar mengetik tanpa melihat.
Sugiyo membuat modul pembelajaran seputar teknik informatika, salah satunya tentang Natural Language Processing. Foto: kumparan/Habib Allbi Ferdian
Mengenal Teknologi dari DOS hingga AI
Sugiyo mulai masuk pada dunia teknologi sejak komputer masih berbasis sistem operasi DOS (Disk Operating System), jauh sebelum adanya Windows dikenal luas. Seiring waktu, ia menjadi pengajar tetap di Mitra Netra dan menyusun pembelajaran komputer untuk para penyandang tunanetra, mulai dari mengetik sepuluh jari, Microsoft Word, Excel, hingga pemrograman.
"Hampir semua materi pengajaran saya yang menyusun. Termasuk pemrograman dan Natural Language Processing (NLP) yang sekarang dipakai di bidang AI," ujar Sugiyo.
Latar belakang pendidikannya turut memperkuat kiprahnya. Sugiyo menempuh S1 Teknik Informatika di Universitas Pamulang (Unpam) dan melanjutkan ke Magister Teknik Informatika. Saat ini, ia baru saja menyelesaikan sidang tesis. Dia bilang, masih ada beberapa revisi yang harus dirampungkan sebelum akhirnya memakai toga lagi. Semua pencapaian itu dilakukan hanya dengan bantuan screen reader, tanpa melihat huruf sekalipun.
Putri Rokhmayati: Dari Kimia Beralih ke Pengkodean
Sama seperti Sugiyo, kesuksesan lain dicapai oleh Putri Rokhmayati. Kini Putri telah menjalankan bab baru dalam hidupnya di Wonosobo. Dia adalah murid Sugiyo yang juga mengikuti jejaknya menjadi seorang yang bergelut di bidang IT. Kalau Sugiyo memilih menjadi pengajar, Putri justru ikut bersaing di dunia industri.
Putri bukan lahir sebagai tunanetra, ketika ia masih duduk di bangku kuliah jurusan Teknik Kimia, Universitas Indonesia, kehidupannya mendadak berubah karena serangan penyakit TBC otak. Penyakit ini membuat penglihatannya hilang pada tahun 2016.
Putri Rokhmayati, salah satu alumni di Yayasan Mitra Netra yang telah bekerja di bidang IT di salah satu perusahaan swasta. Foto: Dok. Pribadi
"Tadinya saya pikir bisa sembuh. Tapi dokter bilang tidak ada harapan untuk kembali melihat dengan normal," kata Putri, saat diwawancarai oleh kumparanTECH.
Putri sempat terpuruk, ia cuti kuliah dan kehilangan arah. Namun dukungan yang ia dapatkan membuat Putri perlahan belajar untuk menyesuaikan dirinya kembali.
Hingga suatu hari, dokternya menyarankan agar ia melanjutkan studinya dan bergabung dengan komunitas sesama penyandang tunanetra. Di sinilah putri menemukan harapan, belajar komputer di Yayasan Mitra Netra. Di sana pula ia pertama kali mengenal Sugiyo, salah satu guru yang mengubah jalan hidupnya.
"Awalnya atas saran dari Pak Sugiyo, pengajar saya di Mitra Netra. Beliau yang menyarankan saya untuk belajar coding dan teknik informatika. Dari beliau saya mengenal dunia IT dan akhirnya berani melanjutkan kuliah di bidang itu," ujar Putri.
Putri berharap akan lebih banyak kursus di bidang teknologi, terutama bagi penyandang disabilitas. Ia juga mengungkap pentingnya aksesibilitas pada aplikasi dengan desain universal, sehingga bisa digunakan juga oleh semua orang, termasuk disabilitas.
Kini, Putri telah bekerja penuh waktu sebagai Quality Assurance Engineer di perusahaan teknologi swasta Bhumi Varta Technology (BVT). Ia memiliki tugas untuk menguji aplikasi (testing) dan mengotomasi prosesnya, semuanya dilakukan dengan bantuan screen reader (komputer berbicara).
Yayasan Mitra Netra, tempat bernaung para tunanetra, belajar dan menimba ilmu agar bisa bersaing di dunia yang semakin kompetitif. Foto: kumparan/Habib Allbi Ferdian
Bekerja dengan Bantuan Komputer Berbicara
Layaknya tunanetra lain, sehari-hari Putri bergelut dengan suara screen reader yang terdengar seperti melodi cepat, ritme logika, dan algoritma yang dipahami hanya lewat telinga. Di samping itu, ia memiliki tantangan tersendiri, terkadang aplikasi yang akan diuji tidak kompatibel dengan screen reader. Namun, solusi baginya adalah komunikasi dengan tim apabila terjadi kendala.
Ia mengaku beruntung mendapatkan perusahaan yang ramah terhadap disabilitas. Perusahaan tempat Putri bekerja memberikan fleksibilitas penuh dengan remote working, dan yang terpenting baginya adalah ruang dialog.
"Saya bekerja dalam tim. komunikasi berjalan baik meski kadang ada tantangan tersendiri. Tapi semua bisa diatasi dengan komunikasi," ungkapnya.
Bagi Putri, teknologi kini menjadi jembatan, terutama di era AI seperti sekarang. Ia bilang, dulu ketika rekan kerjanya mengirim tangkapan layar, ia harus meminta bantuan orang lain. Kini, dengan bantuan AI ia cukup mengunggah dan meminta AI untuk mendeskripsikan gambar tersebut.
Namun, di balik kekagumannya itu, terselip kecemasan. Menurutnya, pekerjaan yang sering diberikan ke teman-teman disabilitas biasanya yang repetitif, sementara pekerjaan repetitif itu paling mudah digantikan oleh AI, seperti customer service.
Bagaimanapun, tunanetra memang harus beradaptasi. Keluar dari zona nyaman dan menembus batas-batas luhur agar bisa bersaing di dunia yang semakin dinamis.
Dari Mitra Netra ke Dunia yang Terang di Teknologi
Sugiyo dan Putri adalah bukti bahwa Mitra Netra bukan sekedar tempat belajar, namun tempat tumbuhnya mimpi. Dari lembaga kecil di sudut kota Jakarta, lahir generasi tunanetra yang kini bekerja di perusahaan besar teknologi, pengajar, hingga programmer.
Aplikasi Arabic Mitranetra Braille Converter yang dikembangkan oleh Yayasan Mitra Netra. Foto: kumparan/Habib Allbi Ferdian
"Kita memang punya keterbatasan fisik, tapi juga punya potensi. Banyak teman-teman tunanetra yang kuliah sampai S2, S3, dan bahkan ke luar negeri," ujar Putri.
Ia menyebutkan bahwa terkadang masyarakat di luar sana cepat berasumsi dengan stigma yang tidak mengenakan terhadap penyandang disabilitas. Namun, menurutnya hal ini terjadi karena ketidaktahuan.
Seperti halnya perusahaan yang masih takut untuk merekrut penyandang tunanetra, hal ini disebabkan karena ketidaktahuan bagaimana memperlakukan penyandang disabilitas di perusahaan tersebut.
Bagi Putri, solusinya cukup mudah, dengan membuka ruang komunikasi dan dialog. Sama halnya seperti yang dilakukan perusahaan tempat dimana kini Putri bekerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar