Bahasa Ibu Harus Tetap Dilestarikan, agar Tetap Menjadi Kekayaan Budaya. Ilustrasi: Bill Van Ricardo Zalukhu
Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan budaya dan bahasa yang luar biasa. Di antara semua wilayah, Papua menempati posisi istimewa karena memiliki lebih dari 400 bahasa daerah yang hidup di tengah masyarakat. Namun, modernisasi, urbanisasi, dan globalisasi kini membuat banyak bahasa Papua berada di ujung tanduk. UNESCO mencatat sebagian besar bahasa Papua tergolong rentan hingga terancam punah. Hilangnya bahasa berarti hilangnya seluruh warisan leluhur yang terkandung di dalamnya.
Bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin identitas. Setiap kosakata menyimpan pengetahuan lokal, mulai dari cara masyarakat mengenal alam, membedakan jenis flora dan fauna, hingga memahami filosofi hidup. Misalnya, bahasa Biak memiliki istilah khusus untuk menyebut jenis-jenis ikan laut yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia. Jika bahasa tersebut punah, pengetahuan ekologis yang terkandung di dalamnya ikut hilang.
Selain bahasa, cerita rakyat Papua juga menyimpan kearifan lokal yang luar biasa. Kisah-kisah seperti legenda Manarmakeri atau dongeng Empat Raja di Raja Ampat bukan hanya hiburan, melainkan media pendidikan moral. Generasi muda belajar tentang kejujuran, keberanian, dan rasa hormat terhadap alam melalui cerita rakyat. Namun sayangnya, tradisi lisan ini mulai tergerus. Anak-anak lebih akrab dengan cerita dari televisi atau media sosial dibandingkan dongeng dari nenek moyang mereka.
Kondisi terkini cukup memprihatinkan. Data Balai Bahasa Papua menyebutkan hanya sedikit bahasa daerah yang masih dituturkan oleh generasi muda, seperti bahasa Dani dan Mee. Sebagian besar bahasa lain hanya tersisa penutur usia lanjut. Bahkan, beberapa bahasa seperti Tandia dan Air Matoa sudah benar-benar punah. Jika tidak ada upaya serius, ratusan bahasa Papua lainnya bisa menyusul hilang dalam beberapa dekade ke depan.
Tantangan pelestarian bahasa dan cerita rakyat Papua memang kompleks. Dominasi bahasa Indonesia di sekolah dan media membuat generasi muda jarang menggunakan bahasa ibu. Rasa gengsi juga muncul; sebagian anak muda menganggap bahasa daerah sebagai sesuatu yang kuno. Selain itu, minimnya dukungan formal dan bahan ajar menambah kesulitan. Banyak sekolah ingin mengajarkan bahasa lokal, tetapi kekurangan guru dan buku pendukung.
Meski begitu, harapan tetap ada. Upaya pelestarian bisa dilakukan dari tiga arah: pelajar, masyarakat, dan pemerintah. Pelajar dapat menjadi garda terdepan dengan mengikuti lomba bahasa daerah, membuat konten kreatif di media sosial, atau sekadar membiasakan diri berbicara dengan bahasa ibu di rumah. Masyarakat adat juga berperan penting, misalnya dengan menggunakan bahasa lokal dalam upacara adat, kebaktian, atau kegiatan kampung. Orang tua perlu membiasakan anak mendengar dan berbicara bahasa ibu sejak dini.
Pemerintah pun sudah bergerak melalui program Revitalisasi Bahasa Daerah dalam kebijakan Merdeka Belajar. Beberapa bahasa Papua seperti Sentani, Biak, dan Moi mendapat perhatian khusus untuk diajarkan kembali di sekolah melalui muatan lokal. Balai Bahasa Papua juga menerbitkan buku cerita rakyat dwibahasa yang dibagikan ke sekolah-sekolah, sehingga anak-anak dapat membaca kisah leluhur mereka dengan cara yang lebih modern.
Langkah-langkah ini penting agar bahasa dan cerita rakyat Papua tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi tetap hidup dalam keseharian generasi muda. Dengan kolaborasi bersama, kita bisa menjaga agar setiap kata dalam bahasa ibu dan setiap dongeng leluhur terus diwariskan. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan warisan nenek moyangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar