Search This Blog

Begini Cara Petugas Sulap Sampah Besar Jadi Barang Baru di TB Simatupang

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Begini Cara Petugas Sulap Sampah Besar Jadi Barang Baru di TB Simatupang
Oct 11th 2025, 12:19 by kumparanNEWS

Petugas menggunakan alat berat mengakut sampah di pusat pembuangan sampah besar (bulky waste) di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Petugas menggunakan alat berat mengakut sampah di pusat pembuangan sampah besar (bulky waste) di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Di salah satu sudut Saringan Sampah TB Simatupang (SSTBS), Jagakarsa, Jakarta Selatan, sejumlah barang bekas tak hanya sekadar jadi limbah.

Di tangan para petugas, kursi rusak, ban mobil, hingga potongan besi disulap menjadi benda-benda baru yang berguna. Dari ban bekas dijadikan pot tanaman, besi disusun ulang menjadi penyangga kursi, hingga instrumen air conditioner (AC) yang diubah menjadi kipas angin.

Koordinator Pengawas SSTBS, Adhitya Oktabery (36), mengatakan pihaknya berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah besar atau bulky waste. Menurutnya, tidak semua barang bekas harus langsung berakhir menjadi sampah.

"Sampah bulky waste ini nggak semuanya dicacah. Tetap kita akan memanfaatkan sampah-sampah bulky waste yang memang masih bisa dimanfaatkan," ujar Adhit saat ditemui kumparan di lokasi, Sabtu (11/10).

"Karena mindset-nya kita harus ubah nih dari sekarang, sampah bukanlah sesuatu hal yang memang sudah tidak bisa digunakan. Tapi mindset-nya diubah, sampah adalah sisa barang yang sudah terpakai dan tapi masih bisa dimanfaatkan," tambahnya.

Menurut Adhit, para petugas di SSTBS rutin memilah sampah besar yang datang dari berbagai instansi dan masyarakat. Barang-barang yang masih layak pakai akan diperbaiki atau dimanfaatkan kembali.

"Contohnya apa? Seperti bangku ini yang saya dudukkin. Ini bulky waste. Tapi kita manfaatkan lagi karena masih punya nilai kadar yang bisa dimanfaatkan, kan. Nah, itu kita manfaatkan," ujar Adhit.

Petugas mengakut sampah di pusat pembuangan sampah besar (bulky waste) di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Petugas mengakut sampah di pusat pembuangan sampah besar (bulky waste) di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Tak hanya kursi, beberapa barang lain juga dimodifikasi untuk fungsi baru. Styrofoam urethane dari kulkas bekas diubah menjadi media tanam, sementara limbah logam dijadikan bahan dasar kerajinan tangan.

Kreativitas para petugas juga terlihat saat mereka memanfaatkan barang yang dianggap rusak, seperti dispenser atau kasur, untuk kebutuhan sehari-hari di tempat kerja.

"Contohnya misalkan seperti bulky waste dari kulkas nih. Di kulkas itu kan ada styrofoam urethane tuh, yang di mana kalau dibuang itu jadi pencemaran lingkungan, kan. Kita manfaatkan untuk jadi tempat media penanaman," tutur Adhit.

"Terus kita juga recycle, contohnya kemarin waktu acara Festival Ciliwung yang di MT Haryono. Nah, perahu-perahu yang kita paradekan sebanyak 43 perahu, full semua itu hasil recycle atau olahan dari sampah-sampah non-organik," sambung dia.

Pemanfaatan sampah besar itu tak hanya digunakan di lingkungan SSTBS, tetapi juga untuk kegiatan masyarakat. Beberapa hasil olahan dikirim ke wilayah sekitar, seperti ondel-ondel dari bahan korek gas bekas hingga mainan anak dari limbah plastik.

"Ke masyarakat, betul. Terus juga kan kita bikin ya kerajinan tangan seperti ondel-ondel ya kan. Ada beberapa teman-teman juga di wilayah yang coba manfaatin sampah korek gas dijadiin mainan buat anak-anak, kan punya nilai plus di situ," jelasnya.

Suasana pusat pembuangan sampah besar (bulky waste) di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Suasana pusat pembuangan sampah besar (bulky waste) di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Namun, Adhitya menegaskan tidak semua jenis sampah dapat langsung diolah. Untuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), pengelolaannya dilakukan secara terpisah agar tidak mencemari lingkungan.

"Kalau itu udah pasti. Kalau sampah B3 itu nanti akan ada alurnya sendiri. Karena memang itu melewati beberapa prosesan atau tahap-tahapan lanjutan," kata Adhit.

"Karena memang kenapa bahan B3 itu tidak bisa kita langsung terima di sini? Karena kita langsung bersandingan dengan alam, dengan lingkungan, yang nantinya yang ditakutkan adalah menimbulkan efek negatif untuk lingkungan," lanjutnya.

Ia menambahkan, kreativitas tim di SSTBS turut mendorong terciptanya suasana kerja yang produktif dan efisien.

"Makanya saya bersyukur, tim saya ini pada kreatif. Karena kan kadang warga ada kipas rusak nggak terpakai, main buang aja. Padahal pas kita cek masih bisa dipakai, jadilah kita gunakan di sini. Bahkan saya aja toren nggak pernah beli, saya pakai buangan terus," ujarnya sambil tersenyum.

Saringan Sampah TB Simatupang Targetkan Zero Waste ke Bantargebang

Adhitya Oktabery (36), pengawas di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Adhitya Oktabery (36), pengawas di Saringan Sampah TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (11/10). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Adhitya menegaskan semua jenis bulky waste diterima di SSTBS, mulai dari kayu, logam, hingga kaca. Seluruh proses itu dilakukan dengan tujuan utama untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

"Kalau untuk jenis sampah bulky semua kita terima. Baik itu apa namanya, logam atau pun dari kayu, jenis apa pun kita terima," kata Adhit.

"Ya, kita memaksimalkan pelayanan pembuangan bulky waste yang di mana tujuan akhirnya sebenarnya mengurangi volume sampah yang akan kita bawa ke Bantargebang. Goal-nya di situ," tambah dia.

Menurutnya, sebagian besar sampah besar yang diterima di SSTBS kini tidak lagi dikirim ke Bantargebang. Sampah organik diolah menjadi bahan dasar Refuse Derived Fuel (RDF), sedangkan logam dan bahan non-RDF lainnya disalurkan ke bank sampah.

"Jadi gini, kalau untuk semua sampah yang ada di SSTBS, Insyaallah itu tidak akan dibawa ke Bantargebang. Jadi kan untuk sampah Bulky sendiri kan masih ada yang seperti jenis-jenis kayu, atau nggak jenis organik. Nah, itu akan menjadi bahan dasar untuk RDF," tegasnya.

"Karena kalau untuk RDF-nya sendiri kan memang udah ada di Rorotan dan di Bantargebang. Nah tapi untuk pengolahan bahan RDF itu di kami ada. Sampah-sampah logam nggak masuk kategori sebagai jenis untuk bahan RDF akan kita pisahkan. Untuk dimasukkan ke bank sampah," tutupnya.

Media files:
01k78gwsq6k9kchn8y0wrn66tr.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar