Seorang petugas menunjukan pecahan Dolar AS dan Rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang asing di Kwitang, Jakarta, Senin (9/12/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Aliran dana asing terus menekan pasar keuangan domestik sepanjang 2025. Hingga awal September, total dana asing yang hengkang dari Indonesia mencapai puluhan triliun rupiah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sepanjang tahun berjalan hingga September 2025, pasar modal mengalami net sell asing sebesar Rp 50,95 triliun. Meski begitu, OJK menegaskan bahwa kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi nasional masih terjaga.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menyebut kembalinya aliran modal asing pada Agustus menjadi indikator penting. Pada bulan itu, investor asing mencatat inflow sebesar Rp 10,96 triliun setelah dua bulan sebelumnya didominasi aksi jual.
"Meskipun secara year to date tercatat net sales sebesar Rp 50,95 triliun. Hal ini menunjukkan kepercayaan global pada prospek ekonomi Indonesia yang semakin baik," ujarnya dalam konferensi pers RDKB OJK, Kamis (4/9).
Optimisme serupa juga diungkapkan Bank Indonesia (BI). Pada pekan pertama September, BI mencatat arus keluar bersih modal asing dari pasar keuangan domestik senilai Rp 16,85 triliun, yang terdiri dari penjualan bersih di pasar saham Rp 3,87 triliun, Surat Berharga Negara (SBN) Rp 7,69 triliun, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) Rp 5,29 triliun.
"Berdasarkan data transaksi 1-3 September 2025, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp 16,85 triliun," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Sabtu (6/9).
Sejak awal tahun hingga 3 September, investor asing telah menarik dana cukup besar dari pasar saham dan SRBI masing-masing Rp 51,78 triliun dan Rp 106,38 triliun. Namun, aliran modal asing masih mencatatkan net inflow di pasar SBN sebesar Rp 68,02 triliun.
Tekanan pasar ini turut tercermin pada indikator risiko dan nilai tukar. Credit Default Swaps (CDS) tenor 5 tahun naik ke level 71,57 basis poin, sementara rupiah melemah tipis ke Rp 16.430 per dolar AS pada Kamis (4/9).
Meski demikian, OJK menegaskan daya tarik pasar Indonesia tetap tinggi, terbukti dari pertumbuhan industri pengelolaan investasi dan meningkatnya dana kelolaan (AUM) yang mencapai Rp 885,95 triliun pada Agustus. Di sisi lain, BI memastikan akan menjaga stabilitas.
"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan perekonomian eksternal Indonesia," pungkas Denny.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar