Search This Blog

Menjahit Harapan dari Rumah Kecil Keluarga Gaza di Amman Yordania

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Menjahit Harapan dari Rumah Kecil Keluarga Gaza di Amman Yordania
Sep 14th 2025, 10:31 by kumparanNEWS

Dompet Dhuafa sambangi rumah keluarga pengungsi Gaza di Yordania. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Dompet Dhuafa sambangi rumah keluarga pengungsi Gaza di Yordania. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Sore itu, cahaya matahari menembus jendela berlapis gorden merah di sebuah rumah sewaan sederhana di Amman, Yordania. Ruang tamu kecil itu terasa hangat, dengan sofa merah marun yang menempel di dinding serta kipas angin menggantung di langit-langit plafon rumah. Di sanalah Linda, 29 tahun, menyambut kami bersama suami, ibunya, dan kelima anaknya: Nisrin, Ahmad, Uday, Nuruddin, dan Izuddin.

Linda tersenyum tipis, seolah ingin menyembunyikan kelelahan yang ia bawa dari Gaza. Di sampingnya, sang ibu mengenakan kerudung putih, sementara Nisrin, anak sulungnya, berdiri malu-malu dengan sorot mata yang penuh rasa penasaran.

"Ini rumah sementara kami," kata Linda pelan. "Tidak ada yang tahu kapan kami bisa kembali."

Suami Linda, Abu Samour, kini tidak bekerja. Kejiwaanya masih terguncang akibat peristiwa tragis yang banyak mereka lalui. Kini, mereka hidup dari pertolongan Kerajaan Yordania, serta dari donasi berbagai negara termasuk dari Indonesia.

Dompet Dhuafa sambangi rumah keluarga pengungsi Gaza di Yordania. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Dompet Dhuafa sambangi rumah keluarga pengungsi Gaza di Yordania. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

kumparan menyambangi rumah keluarga Linda pada Selasa (9/9) sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Kami datang bersama rombongan Dompet Dhuafa usai sebelumnya bertolak dari Tunisia untuk menghadiri acara Global Sumud Flotilla, sebuah gerakan masyarakat sipil dari 44 negara yang akan berlayar ke Gaza dengan cara menembus blokade Israel.

Dari Gaza ke Amman

Linda lahir dan besar di Khan Yunis, Jalur Gaza. Sebelum kehidupannya hancur akibat ulah zionis Israel, keluarganya punya kebun luas. Mereka hidup dari bercocok tanam, berkumpul bersama keluarga besar. Kini semua itu hanya tinggal kenangan.

"Kami dulu punya kebun yang luas, tapi kini semuanya rata dengan tanah," ujarnya. Puluhan anggota keluarganya syahid, hanya sebagian kecil yang tersisa.

Linda menunjukkan foto rumahnya yang hancur akibat dibom Israel. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Linda menunjukkan foto rumahnya yang hancur akibat dibom Israel. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Linda lalu bercerita bahwa usai rumahnya dibom Israel, keluarganya berpindah ke sekolah yang dikelola UNRWA (badan PBB khusus untuk pengungsi Palestina). Namun, sekolah yang mestinya aman itu juga dihantam bom Israel. Mereka kemudian tinggal di rumah sakit dengan anak bungsunya yang kekurangan gizi selama tiga bulan.

"Tidak ada tempat aman di Gaza. Sekolah tidak aman, rumah sakit pun tidak aman. Apa yang terlihat di televisi, kenyataannya lebih buruk," kenang Linda.

Meski berada di rumah sakit, kata Linda, situasinya jauh dari kata ideal. Anaknya yang bungsu, Izuddin, berbaring di tanah sepanjang waktu. Tidak ada tempat tidur yang tersedia. Perawatannya pun kurang.

Dompet Dhuafa sambangi rumah keluarga pengungsi Gaza di Yordania. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Dompet Dhuafa sambangi rumah keluarga pengungsi Gaza di Yordania. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Kesempatan keluar dari Gaza lalu datang tiba-tiba. Saat itu Linda dan keluarganya tengah berada di rumah sakit milik Kerajaan Yordania. Dari sanalah jalan menuju Amman terbuka. Keluarganya lalu pindah dan memulai hidup baru di Yordania sejak delapan bulan lalu.

Kini, rumah sewaan dengan dinding putih dan sofa marun itu menjadi tempat mereka bertahan hidup. Anak-anak bersekolah di sekolah umum Yordania. Nisrin duduk di kelas 2 SMP, Ahmad di kelas 1 SMP, Uday di kelas 6 SD, sementara dua adiknya masih kecil.

Setiap pagi, mereka berjalan lebih dari tiga kilometer untuk sampai ke sekolah. "Transportasi tidak ada, jadi mereka jalan kaki. Kurikulumnya pun sulit, tapi saya hanya bisa berdoa agar mereka kuat," ujar Linda.

Linda menunjukkan prestasi anak-anaknya. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Linda menunjukkan prestasi anak-anaknya. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Di sela sekolah, anak-anak juga belajar tahfiz Quran di masjid sekitar. Ahmad bahkan sudah menghafal empat juz. Baru-baru ini ia menerima ijazah hafalan dalam perayaan maulid.

"Itu membuat saya bangga," ucap Linda.

Jurnalis kumparan Memberikan Jamnya ke Ahmad

Ada momen menarik ketika saya bertemu dengan Ahmad. Kala itu, Ahmad penasaran dengan jam tangan yang saya gunakan. Dia pun ingin mencoba menggunakannya.

Saat Ahmad menggunakannya, dia bilang jam tangan itu keren. Ahmad lalu meminta jam tangan itu. Matanya berbinar-binar. Saya pun mengiyakannya, sambil berkata bahwa jam itu silakan dipakai dan semoga bermanfaat.

Rizki Baiquni jurnalis kumparan bertemu dengan Ahmad saat bersama Dompet Dhuafa sambangi rumah keluarga pengungsi Gaza di Yordania. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Rizki Baiquni jurnalis kumparan bertemu dengan Ahmad saat bersama Dompet Dhuafa sambangi rumah keluarga pengungsi Gaza di Yordania. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Ahmad sebetulnya sedikit ragu saat menerima jam tangan itu. Dia sempat melepasnya lagi dan mengembalikannya ke saya. Lalu, saya kembali meyakinkan bahwa jam tangan itu memang sudah jadi miliknya.

Jam tangan itu sendiri baru saya saya beli dan gunakan sekitar dua pekan. Kondisinya masih sangat baik.

Ingin Pulang ke Gaza

Kembali ke Linda, meski kini punya kehidupan yang lebih aman, dirinya tak pernah berhenti memikirkan Gaza. "Kalau Gaza sudah aman, kami pasti kembali. Tapi dengan satu syarat: kami semua pulang bersama-sama," katanya tegas.

Linda usai menunjukkan foto rumahnya yang hancur akibat dibom Israel. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Linda usai menunjukkan foto rumahnya yang hancur akibat dibom Israel. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Sekarang, kata Linda, impiannya sederhana: Nisrin, Ahmad, Uday, Nuruddin, dan Izuddin bisa belajar dengan baik, punya sarana transportasi, dan masa depan yang lebih cerah.

"Saya hanya ingin Gaza kembali seperti dulu—bercocok tanam, anak-anak bisa sekolah, menyambut tamu-tamu ramah. " ujarnya.

Di antara keterbatasan, Linda merasakan betul uluran tangan dari Indonesia. "Tidak ada kata selain terima kasih. Baik di Gaza maupun di sini, orang Indonesia selalu ada. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana hidup tanpa mereka," ucapnya.

Ketika ditanya apakah suatu hari ingin ke Indonesia, matanya berbinar. "Insyaallah, mau," ucapnya.

Dompet Dhuafa sambangi rumah keluarga pengungsi Gaza di Yordania. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Dompet Dhuafa sambangi rumah keluarga pengungsi Gaza di Yordania. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Sementara itu, Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ahmad Juwaini, menyampaikan bahwa kedatangannya untuk memberikan bantuan untuk keluarga Linda. Bantuan itu berupa pakaian jelang persiapan musim dingin.

"Di tempat ini kami memberikan bantuan pakaian untuk kehidupan musim dingin yang akan segera masuk. Di Yordania ini ketika musim dingin suhunya dingin sekali bisa minus 14 derajat," katanya.

Menurut Juwaini, keluarga Linda di awal-awal merasa tertekan, bersedih, kemudian khawatir. Namun, kata Zuwaini, mereka mendapatkan bahwa saudara-saudara mereka di Yordania ini sangat baik. Dirinya pun berpesan supaya anak-anak Linda tetap bersemangat.

"Anak-anak Gaza diharapkan untuk bersemangat, sekolah lebih baik, dan punya motivasi untuk terus mengembangkan dirinya. Dan kita mengharapkan bahwa masyarakat Gaza dan anak-anak Gaza ini nantinya dapat berjuang mencapai kemerdekaannya," pungkas Juwaini.

Ketua Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, saat bersama anak pengungsi Gaza. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Ketua Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, saat bersama anak pengungsi Gaza. Foto: Rizki Baiquni Pratama/kumparan

Media files:
01k53003zhktedhrz76wnzrnj1.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar