Ilustradi Digital Fatigue (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/pencarian/digital/)
Digital students, sejak pandemi, wajah pendidikan Indonesia berubah drastis. Ruang kelas bergeser menjadi ruang virtual, buku catatan berganti dengan layar gawai, dan tatap muka langsung digantikan dengan rapat daring. Transformasi ini memang membawa kemudahan, tetapi juga melahirkan tantangan baru, fenomena digital fatigue atau kelelahan digital. Bagi banyak pelajar, sekolah bukan lagi sekadar tugas dan ujian, melainkan juga tatapan layar berjam-jam yang melelahkan mata, pikiran, bahkan jiwa.
Pertanyaan pun muncul: apakah kita sedang menyiapkan generasi yang cerdas digital, atau justru generasi yang kelelahan sejak dini?
Data yang Mengkhawatirkan
Survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2021) mencatat bahwa lebih dari 79% pelajar mengeluh kelelahan saat mengikuti pembelajaran daring. Gejalanya mulai dari sakit kepala, mata kering, insomnia, hingga penurunan motivasi belajar. Studi lain dari Common Sense Media (2022) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa remaja menghabiskan rata-rata 8 jam per hari di depan layar, bukan hanya untuk belajar, tapi juga hiburan digital. Kondisi ini berkontribusi pada meningkatnya stres, kecemasan, dan penurunan fokus.
Di Indonesia, kasus nyata memperlihatkan dampaknya. Pada puncak pandemi 2020–2021, media melaporkan banyak siswa di daerah terpencil jatuh sakit karena dipaksa duduk berjam-jam di depan gawai untuk mengikuti pembelajaran daring. Seorang siswa SMP di Kabupaten Banyumas, misalnya, harus dirawat karena mengalami gangguan mata dan sakit kepala kronis akibat terlalu lama menatap layar (Tribun Jateng, 12/2021). Kasus serupa juga muncul di Sulawesi Selatan, ketika seorang siswi SMA mengaku mengalami depresi ringan karena kelelahan menghadapi tumpukan tugas daring yang tidak pernah selesai (Kompas, 2021).
Fenomena ini menegaskan bahwa digitalisasi pendidikan tidak selalu berarti kemajuan tanpa konsekuensi. Ada harga sosial dan psikologis yang kini harus dibayar oleh para pelajar.
Perspektif Sosiologi: Teknologi yang Membebaskan atau Membelenggu?
Émile Durkheim pernah menekankan pentingnya solidaritas sosial dalam menjaga keseimbangan masyarakat. Namun, pembelajaran digital sering kali justru mengikis ikatan sosial antar siswa. Alih-alih membangun solidaritas, layar digital menciptakan keterasingan. Diskusi kelas yang seharusnya hangat berubah menjadi ruang hening penuh ikon mikrofon mati. Bukankah ini bentuk baru dari anomie—kekosongan interaksi sosial—dalam dunia pendidikan modern?
Michel Foucault bisa memberi perspektif lain, sekolah daring dengan aplikasi belajar adalah bentuk baru dari "panoptikon digital". Kamera, absensi daring, hingga aplikasi monitoring waktu layar membuat siswa merasa terus diawasi. Alih-alih membebaskan, teknologi justru menambah tekanan psikologis. Apakah kita sedang melahirkan siswa yang terlatih disiplin, atau sekadar terjebak dalam pengawasan tanpa henti?
Lelah yang Tak Terucapkan
Banyak pelajar sebenarnya menyimpan rasa lelah yang tak terucapkan. Di balik layar, mereka bergulat dengan notifikasi yang tak ada habisnya, tugas digital yang menumpuk, dan rasa kesepian karena minim interaksi langsung. Tidak sedikit yang mengalami gejala burnout meski masih duduk di bangku sekolah. Ironisnya, suara mereka jarang terdengar karena kesehatan mental masih dianggap isu sekunder dalam pendidikan.
Bagaimana mungkin pelajar bisa menyerap ilmu dengan baik jika setiap hari tubuh dan pikirannya dilumpuhkan oleh kelelahan digital?
Belajar dari Negara Lain
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Korea Selatan, yang dikenal dengan digitalisasi pendidikan maju, melaporkan peningkatan signifikan kasus depresi remaja akibat intensitas penggunaan layar selama pandemi (OECD, 2021). Di Jepang, muncul istilah "zoom fatigue" yang menggambarkan kelelahan ekstrem akibat tatap muka virtual yang berlebihan.
Sebaliknya, Finlandia menerapkan kebijakan unik, jam belajar daring lebih singkat, siswa didorong beristirahat di luar ruangan, dan pembelajaran digital tidak menggantikan interaksi sosial. Hasilnya, kualitas pendidikan tetap tinggi, tetapi kesehatan mental siswa lebih terjaga.
Apakah Indonesia mau terus membiarkan generasinya tenggelam dalam kelelahan digital, atau belajar dari negara lain untuk menemukan keseimbangan?
Pendidikan yang Lebih Berimbang
Pendidikan digital memang tidak bisa ditolak. Namun, sistem ini harus diimbangi dengan kesadaran akan batas tubuh dan jiwa manusia. Sekolah perlu merancang jam belajar yang lebih manusiawi, memberikan ruang bagi siswa untuk beristirahat dari layar, dan mengintegrasikan metode pembelajaran berbasis interaksi nyata.
Orang tua juga memiliki peran penting, mendampingi anak, memberi batasan penggunaan gawai, dan memastikan mereka tetap memiliki waktu bermain serta bersosialisasi secara langsung.
Apakah benar pendidikan digital telah membuat anak-anak kita lebih pintar, atau sekadar lebih cepat lelah? Apakah sekolah daring benar-benar membentuk generasi adaptif, atau justru generasi rapuh yang kehilangan daya tahan? Apakah kita masih mengendalikan teknologi, atau teknologi kini yang mengendalikan kita?
Menemukan Keseimbangan
Digitalisasi pendidikan memang membawa peluang besar, tetapi tanpa keseimbangan, ia berisiko melahirkan generasi lelah. Pendidikan seharusnya membangun manusia utuh, bukan hanya cerdas digital, tetapi juga sehat jiwa, raga, dan sosial.
Sekolah bukan sekadar layar yang menyala, melainkan ruang hidup yang menumbuhkan. Jika kita gagal menyeimbangkan digitalisasi dengan kemanusiaan, maka masa depan pendidikan hanyalah masa depan generasi yang letih sejak usia belia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar