Ilustrasi perut ibu hamil. Foto: Mila Supinskaya Glashchenko/Shutterstock
China beberapa waktu lalu ramai dikabarkan sedang merancang robot kehamilan pertama di dunia, yang dirancang memiliki rahim buatan di perutnya. Bahkan, pemimpin proyek ini, Dr. Zhang Qifeng, mengeklaim robot humanoid ini bisa mereplikasikan seluruh proses kehamilan, mulai dari pembuahan hingga proses persalinannya.
Beberapa media, termasuk Newsweek, The Economic Times, The Daily Mail, dan ChosunBiz, menyebut sebuah media asal China, Kuai Ke Zhi, sebagai sumber berita tersebut.
Sejumlah foto yang memperlihatkan robot hamil tersebut juga tersebar, dengan menampilkan seperti bayi manusia yang meringkuk di dalam perut robot berlapis krom, dilengkapi dengan kabel-kabel. Robot tersebut juga tidak memiliki kelenjar susu.
Bahkan, digadang-gadang teknologi reproduksi ini menciptakan peluang baru bagi pasangan yang menghadapi masalah infertilitas.
Namun kemudian kemunculan laporan ini menjadi sorotan dunia, bahkan beberapa orang mempertanyakan, "Apa benar akan ada robot yang bisa menggantikan peran manusia dalam menjalankan kehamilan?".
Sosok Qifeng juga dipertanyakan, ia disebut-sebut merupakan seorang doktor dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura, yang juga pendiri Kaiwa Technology di Guangzhou, China. Namun, menurut hasil penelusuran Live Science, ternyata mereka tidak menemukan bukti daring apa pun terkait Kaiwa Technology. Mereka juga menghubungi pihak NTU dengan dugaan afiliasi mereka dengan Zhang Qifeng.
"Kami ingin informasikan bahwa tidak ada seorang pun bernama Zhang Qifeng yang lukus dari NTU dengan gelar PhD. Pemeriksaan kami juga menunjukkan tidak ada penelitian tentang robot kehamilan dan hal-hal semacam itu dilakukan di NTU," kata juru bicara NTU kepada Live Science melalui surat elektronik.
Akan Tetapi, Mungkinkah Robot Kehamilan Benar-benar Ada di Kemudian Hari?
Viralnya kabar robot yang bisa mengandung dan melahirkan ini menimbulkan pertanyaan tentang potensi teknologi rahim buatan. Namun, Direktur Unit Penelitian Reproduksi dan Plasenta, Fakultas Kedokteran Yale University, Dr. Harvey Kliman, menegaskan tidak akan mungkin konsep ini direalisasikan.
"Jawaban saya pasti 'tidak'," ucap Dr. Kliman.
Meski robot kehamilan itu sudah dipastikan hoaks, tetapi para ilmuwan sebenarnya telah mengembangkan rahim buatan. Di Rumah Sakit Anak Philadelphia, para ilmuwan sedang mengembangkan perangkat mirip rahim buatan yang disebut "extra-uterine environment for newborn development" atau EXTEND. Harapan akhir dari perangkat ini adalah bisa mendukung bayi yang lahir sangat prematur, antara usia kehamilan 23-28 minggu.
Bayi prematur. Foto: Shutter Stock
Kemajuan teknologi yang satu ini telah menurunkan angka kematian akibat kelahiran prematur. Tetapi masalah kesehatan, termasuk penyakit paru-paru kronis dan masalah perkembangan saraf, tetap menjadi perhatian utama bagi bayi yang lahir prematur. Untuk mengurangi risiko ini, para peneliti di RS tersebut bertujuan untuk menciptakan lingkungan seperti rahim tempat bayi dapat ditempatkan setelah persalinan untuk membantu mereka melewati minggu ke-28.
Alat ini mencakup kantung berisi cairan ketuban, yang dibuat di laboratorium dan mengandung nutrisi penting serta faktor pertumbuhan. Tali pusar dihubungkan ke "oksigenator eksternal" yang sebagian berfungsi sebagai plasenta, memfasilitasi pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Di dalam alat ini, bayi akan terisolasi dari perubahan suhu, tekanan, dan cahaya, serta dari paparan kuman.
EXTEND sejauh ini telah diuji pada domba. Dalam sebuah makalah tahun 2017 , tim menunjukkan bahwa janin domba dapat didukung dalam perangkat tersebut selama sebulan dan perkembangan mereka berlanjut seperti di dalam rahim. Dalam sebuah makalah tahun 2024, mereka berkolaborasi dengan para peneliti Duke University untuk melihat bagaimana EXTEND memengaruhi aktivitas gen di otak. Perangkat ini membantu melestarikan aktivitas gen di otak domba prematur sehingga menyerupai otak domba yang berada di dalam rahim lebih lama.
Sementara itu, beberapa peneliti sedang mengembangkan plasenta buatan yang dapat memenuhi tujuan yang sama dengan EXTEND, yaitu mendukung bayi prematur. Perangkat ini juga telah diuji pada domba, tetapi masih dalam tahap uji coba pada manusia dibandingkan EXTEND.
Tim EXTEND ingin segera melakukan uji coba pada manusia, namun kenyataannya tidak semudah itu untuk dilakukan, Moms. Mengapa?
"Pada manusia, beberapa minggu saja tidak cukup. Studi tersebut menunjukkan bahwa konsep ini mungkin saja terjadi, tetapi lebih rumit dari yang kita duga," ujar kata Dr. Lusine Aghajanova, spesialis fertilitas dan profesor klinis obstetri dan ginekologi di Stanford Medicine kepada Live Science.
Sepanjang upaya mereka, para pengembang EXTEND telah menekankan bahwa perangkat ini dimaksudkan sebagai jembatan bagi bayi prematur yang bergerak dari rahim ke dunia. Perangkat ini tidak dimaksudkan untuk digunakan untuk mendorong kelangsungan hidup janin sebelum usia 23 minggu.
Namun diakui akan tetap ada perbedaan besar antara menjaga bayi yang sakit tetap hidup dan mengandung bayi sejak pembuahan, seperti yang diklaim dapat dilakukan oleh robot kehamilan palsu buatan Kaiwa Technology.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar