Tiga makam Zaman Tembaga berisi sisa-sisa jasad perempuan dan ratusan gigi hewan. Foto: State Office for Heritage Management and Archaeology Saxony-Anhalt/Klaus Bentele
Penemuan unik terjadi di Jerman, ketika tim arkeolog menemukan tiga kerangkawanita dari Zaman Tembaga yang dikuburkan bersama benda misterius seperti pouch besar mirip gendongan bayi, dihiasi ratusan gigi anjing dan serigala.
Meski kain atau kulit dari pouch tersebut sudah lama membusuk, barisan gigi hewan yang ditemukan di tiga makam berbeda menunjukkan bahwa hiasan itu pernah dijahit membentuk pola bersusun seperti genteng atap.
Menurut para peneliti, pouch ini berasal dari budaya Corded Ware, peradaban yang tersebar luas di Eropa, dari Skandinavia hingga wilayah yang kini menjadi Ukraina, dan berkembang antara tahun 2900 hingga 2350 SM.
"Susunan gigi yang ditemukan ini memberikan petunjuk langka akan benda berharga yang biasanya sudah musnah," ujar Oliver Dietrich, arkeolog dan juru bicara Kantor Warisan Budaya Saxony-Anhalt, yang tidak terlibat langsung dalam penggalian sebagaimana dikutip Live Science.
Ia menambahkan, mengumpulkan gigi anjing dalam jumlah sebanyak itu bukan hal mudah. Maka besar kemungkinan pouch tersebut melambangkan status sosial tinggi.
Para arkeolog memperkirakan bahwa pouch punya ukuran lebar 30 cm, dan masing-masing dihiasi hampir 350 gigi anjing, terutama gigi taring dan seri dari anjing berukuran sedang, mirip ras Münsterländer kecil, yang sengaja dibesarkan dan dikorbankan di usia muda untuk keperluan ini.
Tali lebar yang digunakan untuk membawa pouch juga dihiasi dengan gigi serigala. Beberapa gigi rubah dan hiasan tiruan dari tulang ikut ditemukan, kemungkinan sebagai pengganti jika gigi asli hilang.
Dugaan bahwa pouch ini adalah gendongan bayi kuno diperkuat dengan penemuan tulang bayi di dalam salah satunya. Meski ukuran pouch tak memungkinkan kepala, tangan, dan kaki bayi masuk sepenuhnya, kemungkinan bayi tersebut dibaringkan telentang dan ditutupi selimut kecil yang dihiasi gigi geraham anjing.
Para peneliti menemukan 10 pemakaman wanita dari budaya Corded Ware di Krauschwitz, Jerman. Foto: State Office for Heritage Management and Archaeology Saxony-Anhalt/Klaus Bentele
Selimut itu sendiri seolah memiliki efek berpayet, meski belum diketahui bahan dasar ornamen tersebut.
Dietrich menambahkan bahwa kelangkaan pouch ini juga menunjukkan benda tersebut sangat berharga, karena hanya ditemukan di segelintir makam Corded Ware. Dalam penggalian terbaru di dekat desa Krauschwitz, Saxony-Anhalt, yang dilakukan untuk persiapan pembangunan jaringan listrik, ditemukan 10 makam perempuan, namun hanya dua di antaranya yang memiliki pouch. Satu pouch lainnya ditemukan di makam di desa Nessa, sekitar 1,7 kilometer dari lokasi utama.
"Pouch serupa juga pernah ditemukan di beberapa lokasi lain di Saxony-Anhalt," kata Dietrich.
Dalam makam di Nessa, pouch tersebut ditemukan mengandung tulang bayi yang baru lahir. Para peneliti akan menganalisis sisa tulang perempuan yang dikubur bersama pouch untuk mengetahui usia saat wafat. Jika DNA bayi cukup terjaga, akan dilakukan tes untuk mengetahui hubungan ibu-anak di antara keduanya.
Menariknya, makam-makam dari budaya Corded Ware ini berada dekat dengan makam budaya Baalberg yang jauh lebih tua, berusia sekitar 6.000 tahun, berasal dari periode Neolitikum (4100–3600 SM). Masyarakat Baalberg dikenal menguburkan jenazah di bawah bangunan kayu, namun praktik ini tidak lagi digunakan oleh Corded Ware pada Zaman Tembaga (Eneolitik).
Setiap budaya memiliki cara unik dalam memperlakukan jenazahnya, yang mencerminkan nilai dan norma sosial saat itu.
Menurut Dietrich, budaya Eneolitik menekankan identitas gender dan peran sosial dalam pemakaman. Pria biasanya dikuburkan dalam posisi menyamping ke kanan, sedangkan perempuan ke kiri. Pria dikubur bersama kapak, simbol pejuang, sementara perempuan diberi perhiasan dan ornamen. Kedua jenis kelamin hampir selalu dikuburkan dengan kepala menghadap ke selatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar