Jan 14th 2024, 20:14, by Ema Fitriyani, kumparanBISNIS
Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai (offshore). Foto: SINCHAI_B/Shutterstock
SKK Migas mengungkapkan Work Program & Budget (WP&B) liftingminyak dan gas bumi (migas) di tahun ini di bawah target APBN 2024. Lifting minyak ditetapkan 596 ribu barel per hari (BOPD).
Sementara lifting gas dalam WP&B di 2024 ditentukan sebesar 5.544 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Dalam APBN 2024, target lifting minyak yakni 635 ribu BOPD dan lifting gas sebesar 5.785 MMSCFD.
Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas), Moshe Rizal, mengatakan produksi migas Indonesia memang menurun secara natural (natural declining) jika tidak ada intervensi melalui teknologi, investasi, dan penemuan baru.
"Trennya sekarang jujur mengkhawatirkan, mesti ada gebrakan baru yang revolusioner tidak cuma itu-itu saja, karena investor itu tidak cuma melihat Indonesia aja yang punya potensi migas, tempat lain juga banyak," tegasnya saat dihubungi kumparan, Minggu (14/1).
Menurut Moshe, investasi di hulu migas, baik itu jangka pendek maupun panjang, terbukti belum mampu efektif menggenjot produksi migas di Indonesia sehingga perlu ada evaluasi.
"Jangka panjang sendiri eksplorasi kita juga tidak begitu marak, walaupun memang ada penemuan baru tapi tidak begitu signifikan, tidak memberikan prospek yang bagus untuk peningkatan produksi secara jangka panjang," jelasnya.
Pertamina Hulu Rokan (PHR) melakukan pengeboran perdana sumur migas Gulamo di Blok Rokan, Riau. Foto: Pertamina
Dia menambahkan, penemuan besar di Indonesia baru-baru ini mayoritas adalah cadangan gas. Dengan demikian, dia meminta pemerintah untuk memaksimalkan saja potensi gas ini seiring dengan upaya transisi energi, sebab gas adalah energi fosil yang lebih bersih daripada minyak.
"Itu akan banyak demand-nya dan untuk kita secure produksi gas kita naik terus, pemerintah harus lebih giat membangun infrastruktur sehingga permintaan dalam negeri meningkat secara signifikan," tutur Moshe.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, mengatakan target lifting migas akan selalu rendah sepanjang Indonesia masih mengandalkan lapangan-lapangan yang sudah tua alias mature.
"Menaikkan produksi agak sulit karena bisa menahan laju saja sudah prestasi karena secara alamiah lapangan-lapangan yang sudah mature sudah memasuki masa decline artinya memang ada penurunan alamiah tahunan," jelas dia.
Semakin tua lapangan migas, lanjut Komaidi, semakin sulit dan mahal pula kegiatan produksinya. Dengan demikian, dibutuhkan investasi yang lebih besar.
Pertamina Hulu Rokan (PHR) melakukan pengeboran perdana sumur migas Gulamo di Blok Rokan, Riau. Foto: Pertamina
"Sebelumnya mungkin butuh USD 8 per barel tapi tahun berikutnya mungkin sudah USD 81-82 per barel atau lebih tinggi, ini yang saya kira secara ekonomi bisa memengaruhi produksinya seperti apa," pungkasnya.
Sebelumnya, Deputi Eksploitasi SKK Migas, Wahju Wibowo, menuturkan dalam WP&B yang dibahas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), disepakati lifting minyak sebesar 596 BOPD.
Wahju mengakui, target WP&B di tahun ini juga relatif turun dari realisasi lifting minyak di tahun 2023 lalu sebesar 605 ribu BOPD, yang juga di bawah APBN 2023 dan WP&B.
"Seluruh KKKS mengajukan usulannya dan kita evaluasi dengan segala diskusi dan dinamikanya, dijumlahkan ternyata sekitar 596 (ribu BOPD), dilihat dengan 605 ribu BOPD relatif turun," ungkap Wahju saat konferensi pers, Jumat (12/1).
Wahju menjelaskan, pihaknya sudah berupaya meningkatkan angka yang tercantum dalam WP&B dari usulan awal KKKS dengan melihat recovery plan untuk meningkatkan produksi.
"Semua program itu kita bungkus dalam program filling the gap. Biasanya setiap tahun bisa tambah 15 ribu sampai 20 ribu di atas apa yang jadi capaian WP&B," tutur Wahju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar