Nov 16th 2023, 20:06, by Nicha Muslimawati, kumparanBISNIS
Veranita Yosephine bersama awak kabin AirAsia Indonesia. Foto: AirAsia Indonesia
Tahun 2023 menjadi waktu pemulihan dunia aviasi Indonesia akibat pandemi COVID-19. Salah satu maskapai penerbangan yang terkena dampak pandemi adalah PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP).
Hingga September 2023, maskapai tersebut mencatatkan pertumbuhan pendapatan 97 persen atau Rp 4,9 triliun dibandingkan dengan Rp 2,5 triliun pada periode yang sama tahun 2022.
Meski pendapatan naik, AirAsia masih mencetak rugi bersih senilai Rp 875,42 miliar di kuartal III 2023. Direktur Utama AirAsia Indonesia, Veranita Yosephine Sinaga, memprediksi pemulihan yang terjadi saat ini menyebabkan target perusahaan meraup keuntungan akan mundur.
"Delay-nya recovery tersebut menjadikan beban pos kita masih tetap besar, tapi revenue kita belum dapat dari armada tersebut. Itu bisa menyebabkan kita harus terima bahwa rencana company yang profitable itu agak sedikit mundur," kata Vera dalam paparan publik AirAsia virtual, Kamis (16/11).
Awalnya Vera berharap kondisi keuangan AirAsia di kuartal III dan kuartal IV 2023 positif. Meski begitu, AirAsia masih menemui tantangan untuk membalikkan kondisi keuangannya.
"Sayangnya kita harus mengakui recovery pesawat masih menjumpai hambatan dan ini hal di luar kontrol kita berkaitan ketersediaan spare part, material. Ternyata ada recovery effort yang harus kita lakukan lebih dari kita antisipasi, jadi agak-agak sedikit delay," tuturnya.
Maskapai belum optimistis dapat mengantongi laba hingga akhir tahun 2023. Target AirAsia Indonesia mencetak laba mundur dan diprediksi pada semester I tahun 2024.
"Delay menjanjikan armada perusahaan profitable, kita sangat confident position awal maksimum pertengahan tahun depan," sambung Vera.
Hambatan yang dihadapi AirAsia Indonesia antara lain biaya perbaikan pesawat yang sudah jatuh tempo hingga sejumlah pesawat yang lama parkir di hanggar akibat pandemi.
"Memang belum 100 persen positif, dan kita akan lihat akan capai 2024 tapi loncatan at background of industry yang masih sangat sangat menantang," imbuh Vera.
Selain adanya peningkatan pendapatan, maskapai berhasil memperbaiki EBITDA dari minus Rp 718 miliar menjadi minus Rp 30 miliar di tahun ini. Dengan penambahan pesawat yang beroperasi dari 16 menjadi 23 pesawat, kapasitas meningkat hingga 95 persen dan jumlah penumpang naik hingga 4,5 juta per September 2023.
Dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada penumpang, maskapai mengoperasikan 35 rute penerbangan terdiri dari 14 rute domestik dan 21 rute internasional, dengan total frekuensi mencapai 400 penerbangan setiap minggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar