Nov 16th 2023, 21:36, by Fachrul Irwinsyah, kumparanNEWS
Pengamat Politik Hendri Satrio. Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan
Pengamat Politik Hendri Satrio menyorot nilai, moral, dan semangat reformasi mulai terkikis jelang Pilpres 2024. Ia melihat sejumlah pihak mulai memanipulasi situasi politik dengan penyalahgunaan kekuasaan.
"1998, reformasi kritik atas pemusatan atau privatisasi kekuasaan. Reformasi kembalikan harkat dan kedudukan negara sebagai alat bangsa mencapai cita-cita luhur. Sekarang muncul tanda-tanda kemunduran," kata sosok yang akrab dipanggil Hensat itu dalam konpers di YouTube KedaiKopi, Kamis (16/11).
"Satu per satu lembaga yang lahir dari reformasi alami pelemahan. Lahir kebijakan melawan reformasi. Agenda Reformasi dilawan. Bayangkan, sementara kasus-kasus hukum melanda pejabat publik yang datang dari proses pemilu. Tapi ya inilah wajah demokrasi kita," imbuhnya.
Hensat juga memandang demokrasi mulai dicederai pengabaian, bahkan pembungkaman kritik publik.
"Negara wajib melindungi ruang politik yang sehat. Kritik harus diterima. Kritik bukan kebencian, masa kritik kebencian? Kritik rasa cinta Tanah Air. Negara harus bisa menerima kritik karena kekuasaan negara adalah milik rakyat," kata dia.
"Pembatasan kritik hanya menimbulkan rasa takut. Demokrasi yang berisi ruang bagi rasa takut bukan demokrasi," tambah dia.
Hensat lalu menyinggung polemik putusan Mahkamah Konstitusi dan pelanggaran etik Anwar Usman. Ia menyadari persoalan tersebut bahkan disorot tokoh-tokoh seperti Goenawan Muhammad hingga Gus Mus.
Ini, menurut Hensat, salah satu bukti moral di Indonesia sedang terancam.
"Belakangan kita dengar sejumlah tokoh pergi ke luar kota dari Jakarta tujuannya mencari suara moral. Tokoh-tokoh ini keluar Jakarta mencari suara moral," kata Hensat.
"Secara akademik bila moral tidak dapat tempat, maka hukum dalam bahaya. Karena hukum berpeluang melawan cita-cita kemerdekaan, bisa menjadi alat kekuasaan," ujar dia.
Selain itu, Hensat juga menyindir pemerintah saat ini yang dinilai tak lagi membuat pembangunan merata, dan justru membuat kalangan warga makin tak setara.
"Sekarang ada yang makmur ada yang enggak. Kesenjangan sosial dan ketidakadilan akan memunculkan praktik buruk dalam demokrasi," ujar dia.
"Moral makin marginal batas-batas ditrabas, institusi rusak. Pembusukan. Pembangunan makin gak relevan dengan problem pokok bangsa. Pembangunan memperparah ketidaksetaraan itu," jelasnya.
Hensat berpesan agar capres-cawapres ke depan bisa memperhatikan masalah-masalah ini. Ia mewanti-wanti agar para calon menjadikan pemilu sebagai ajang perbaikan negeri.
"Kita masih punya asa nggak kira-kira? Saya percaya masih ada cinta yang bersemayam di tiap-tiap warga. Cinta Tanah Air. Kita percaya masih ada rasa ingin memperbaiki negeri," pungkas dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar