Search This Blog

Hensat: Demokrasi Melorot, Dari Adu Gagasan Jadi Transaksi Sembako

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Hensat: Demokrasi Melorot, Dari Adu Gagasan Jadi Transaksi Sembako
Nov 16th 2023, 21:30, by Fachrul Irwinsyah, kumparanNEWS

Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio di Jakarta, Jumat (9/9/2022). Foto: Zamachsyari/kumparan
Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio di Jakarta, Jumat (9/9/2022). Foto: Zamachsyari/kumparan

Pengamat Politik Hendri Satrio khawatir nilai-nilai demokrasi semakin menurun dan masyarakat mulai apatis terhadap Pemilu 2024. Ia menyorot calon yang ikut dalam kontestasi pemilu cenderung mengandalkan kekuasaan dan uang, bukan adu gagasan.

Hal ini dinilainya terbukti dari masih maraknya praktik bagi-bagi sembako jelang Pilpres 2024.

"Komunikasi yang berlangsung pasti bukan rasional lagi udah nggak pakai akal sehat. Tak lagi pakai argumen yang kaya ataupun terbuka," kata sosok yang akrab dipanggil Hensat itu dalam konpers di YouTube KedaiKopi, Kamis (16/11).

"Demokrasi yang plus sembako sebetulnya bentuk manipulasi demokrasi. Prinsip demokrasi diabaikan, demokrasi merosot tajam," imbuh dia.

Hensat mengingatkan sembako seharusnya diselenggarakan sebagai pemenuhan hak rakyat, bukan digunakan sebagai alat politik. Ia khawatir maraknya bagi-bagi sembako membuat calon yang berkualitas tidak punya tempat.

"Keputusan politik rakyat akan ditentukan oleh distribusi sembako. Dalam praktiknya, pembagian sembako menjadi menu utama kampanye. Bahkan mungkin mohon maaf nih kalau ada yang tercolek, aksi sembako ini tidak hanya dianggap wajar tapi justru dinanti-nantikan, sembako mana ya?" ujar dia.

"Yang tidak bagi-bagi sembako biasanya merasa kalah sebelum bertanding. Yang tidak bagi-bagi sembako akan mundur dari arena dan akhirnya arena diisi oleh para petualang sembako. Padahal kualitas yang tidak bagi-bagi sembako sangat mungkin melebihi kualitas yang bagi-bagi sembako," tambahnya.

Ilustrasi Pemilu.  Foto: Dok Kemenkeu
Ilustrasi Pemilu. Foto: Dok Kemenkeu

Hensat juga khawatir moral masyarakat semakin menurun. Mengingat masyarakat memandang pemilu sebagai ajang bagi-bagi sembako, bukan pesta demokrasi menentukan arah Indonesia ke depan.

"Sembako sebagai alat politik merupakan virus ganas yang menyerang jantung demokrasi. Kalau udah keserang jantungnya bisa bahaya, Bos," kata dia.

"Miskinnya pendidikan politik membuat rakyat cuek pada pemilu ini lebih ngeri lagi. Akibatnya Pemilu 2024 hanya dianggap sebagai acara urusan KPU partai-partai urusan tidak capres-cawapres dan bukan lagi urusan rakyat," tambahnya.

Sebab itu, Hensat mengajak para capres, caleg, hingga masyarakat kembali mengingat nilai dasar dan moral jelang Pilpres 2024. Ia yakin masih banyak pihak yang punya nurani untuk mewujudkan pemilu lebih berkualitas.

"Marilah hindari menjadi sembako sebagai alat politik. Demokrasi tumbuh sehat dan subur hadirkan pendidikan politik yang emansipatif. Jadikan pemilu politik akbar dengan cara menghadirkan pertarungan gagasan dan strategi pembangunan, bukan dengan sembako," ujarnya.

"Rakyat ingin pemilu jadi pintu utama perbaikan masalah bangsa. Saya pesan khusus kepada capres-cawapres yang sudah mendapatkan nomor 1, 2 dan 3, gunakan momentum ini menjadi wahana pembelajaran bangsa," tandas dia.

Media files:
01gcgtygakk48mfw5b7vwgcvgz.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar