Search This Blog

Mengapa Masyarakat Aceh Tidak Suka Kepada Jepang?

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Mengapa Masyarakat Aceh Tidak Suka Kepada Jepang?
Jun 2nd 2023, 20:11, by Berita Terkini, Berita Terkini

Ilustrasi Mengapa Masyarakat Aceh Tidak Suka kepada Jepang? | Sumber: Unsplash/Pierre Bamin
Ilustrasi Mengapa Masyarakat Aceh Tidak Suka kepada Jepang? | Sumber: Unsplash/Pierre Bamin

Mengapa masyarakat Aceh tidak suka kepada Jepang? Dahulu bangsa Indonesia mengalami penjajahan dalam periode yang sangat lama oleh beberapa bangsa asing. Salah satu bangsa yang menjajah Indonesia adalah Jepang.

Rakyat Indonesia mengalami penderitaan yang sangat berat saat masa penjajahan. Para pahlawan terdahulu juga berjuang dengan mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan bangsa. Oleh karena itu, generasi muda saat ini perlu mengetahui sejarah penjajahan di Indonesia.

Alasan Mengapa Masyarakat Aceh Tidak Suka kepada Jepang

Ilustrasi Mengapa Masyarakat Aceh Tidak Suka kepada Jepang? | Sumber: Unsplash/Franco Alva
Ilustrasi Mengapa Masyarakat Aceh Tidak Suka kepada Jepang? | Sumber: Unsplash/Franco Alva

Terdapat banyak sekali tokoh-tokoh yang berjuang melawan para penjajah. Perjuangan ini berlangsung di berbagai daerah di Indonesia dan melawan penjajah dari berbagai bangsa. Dikutip dari Super Complete Kelas 4, 5, 6 SD/MI, Mudikawaty (2018:358), berikut adalah tokoh-tokoh yang berjuang melawan Jepang:

1. Teuku Abdul Jalil

Teuku Abdul Jalil merupakan seorang ulama yang berasal dari Cot Plieng, Aceh. Beliau melakukan perlawanan kepada penjajah Jepang di Aceh. Mengapa masyarakat Aceh tidak suka kepada Jepang? Masyarakat Aceh tidak suka kepada Jepang karena tentara Jepang bertindak sewenang-wenang.

Para penjajah Jepang tidak menghormati kehidupan beragama umat Islam di Indonesia. Pasukan Jepang menyerang Cot Plieng di tanggal 10 November 1942. Mereka menyerang ketika masyarakat sedang melaksanakan salat subuh di masjid. Namun, masyarakat berhasil menahan serangan tersebut.

Pasukan Jepang kembali menyerang dengan membakar masjid yang sedang digunakan oleh masyarakat untuk salat. Teuku Abdul Jalil gugur dengan ditembak ketika sedang melakukan salat.

2. Supriyadi

Supriyadi adalah anggota PETA. Karena kekejaman Jepang terhadap rakyat Indonesia, pasukan PETA di Blitar melakukan perlawanan di bawah pimpinan Shodanco Supriyadi. Perang terjadi pada 14 Februari 1945. Pasukan Supriyadi meninggalkan Blitar setelah membunuh orang-orang Jepang yang ada di Blitar.

Perlawanan tersebut memberikan pukulan cukup hebat ke Jepang. Sayangnya, perlawanan tersebut dapat dihentikan karena beberapa hal seperti:

  • tidak siapnya dukungan rakyat

  • perencanaan perlawanan kurang matang

  • kerjasama antar batalyon kurang

  • rakyat Indonesia mudah ditipu oleh Jepang

3. K. H. Zaenal Mustafa

K. H. Zaenal Mustafa merupakan ulama yang berasal dari Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Beliau memimpin masyarakat di daerahnya untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Pertempuran antara masyarakat dan pasukan Jepang terjadi pada tanggal 25 Februari 1944.

Banyak korban berjatuhan dari kedua kubu pada pertempuran tersebut. K. H. Zaenal Mustafa dan kawan-kawannya ditangkap dan ditahan di Tasikmalaya. Mereka kemudian dipindahkan ke Jakarta. K. H. Zaenal Mustafa akhirnya dihukum mati dan dimakamkan di Ancol, jenazahnya kemudian dipindahkan ke Singaparna.

Baca juga: Sikap Kaum Pergerakan terhadap Penjajahan yang Dilakukan Jepang

Alasan mengapa masyarakat Aceh tidak suka kepada Jepang adalah karena Jepang bertindak sewenang-wenang dan tidak menghormati agama Islam. (KRIS)

Media files:
01h1xr7qqq7y5pq83v69w22kk1.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar