Search This Blog

20 Ribu Kepala Keluarga Korban Gempa Cianjur Masih Tinggal di Tenda Pengungsian

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
20 Ribu Kepala Keluarga Korban Gempa Cianjur Masih Tinggal di Tenda Pengungsian
Apr 9th 2023, 17:39, by Tim kumparan, kumparanNEWS

Sebanyak 20.154 kepala keluarga terdampak gempa bumi Cianjur, Jawa Barat masih tinggal dan menempati tenda pengungsian, Minggu (9/4/2023). Foto: Dok. Istimewa
Sebanyak 20.154 kepala keluarga terdampak gempa bumi Cianjur, Jawa Barat masih tinggal dan menempati tenda pengungsian, Minggu (9/4/2023). Foto: Dok. Istimewa

Sebanyak 20.154 kepala keluarga terdampak gempa bumi Cianjur, Jawa Barat masih tinggal dan menempati tenda pengungsian, Minggu (9/4). Gempa bumi berkekuatan 5,6 magnitudo itu mengguncang Cianjur sekitar 4 bulan lalu, Senin (21/11/2022) pukul 13.21 WIB hingga membuat kerusakan yang cukup parah.

Juru Bicara Penanganan Gempa Bumi Cianjur, Budhi Rahayu Toyib mengatakan puluhan ribu keluarga terdampak gempa itu tersebar di sejumlah lokasi pengungsian, terutama di wilayah terdampak parah seperti Kecamatan Cianjur Kota, Cugenang, dan Pacet.

"Berdasarkan data sebanyak 20.154 kepala keluarga warga terdampak gempa bumi Cianjur masih tinggal dan menempati tenda pengungsian. Mereka masih menunggu perbaikan rumah," kata Budhi, kepada wartawan, Minggu (9/4).

Budhi mengungkapkan, pemerintah terus melakukan percepatan penanganan gempa bumi, terutama proses pencairan dana stimulan rumah rusak terdampak gempa bumi.

"Saat ini sudah masuk pada pencairan stimulan tahap ketiga, kita terus lakukan percepatan agar warga terdampak gempa dapat segera kembali ke rumahnya mereka," jelasnya.

Sebanyak 20.154 kepala keluarga terdampak gempa bumi Cianjur, Jawa Barat masih tinggal dan menempati tenda pengungsian, Minggu (9/4/2023). Foto: Dok. Istimewa
Sebanyak 20.154 kepala keluarga terdampak gempa bumi Cianjur, Jawa Barat masih tinggal dan menempati tenda pengungsian, Minggu (9/4/2023). Foto: Dok. Istimewa

Sementara itu, seorang warga Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Aziz (40) mengaku masih belum mendapatkan kejelasan terkait bantuan dana stimulan rumah rusak terdampak gempa bumi.

"Sudah empat bulan lebih, saya dan keluarga menempati tenda pengungsian. Karena, masih belum dapat melakukan perbaikan rumah. Bagaimana mau lakukan perbaikan, stimulannya juga masih belum jelas kapan akan cair," kata Aziz.

Aziz mengungkapkan, proses pendataan rumah rusak terdampak gempa bumi Cianjur sejak awal dinilai carut marut.

"Hingga saat ini masih banyak warga terdampak gempa yang masih belum masuk data stimulan, padahal proses pendataan mulai dari survey hingga verifikasi sudah sangat sering dilakukan, tapi datanya masih saja tidak ada," ujarnya.

Senada, seorang warga Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Fauzi (36) mengaku proses pendataan rumah rusak yang dilakukan tim gabungan dinilai tidak efektif.

Bahkan, kata Fauzi, pemerintah terkesan mewajibkan warga terdampak gempa yang rumahnya rusak parah agar menggunakan jasa aplikator. Sementara kualitas pekerjaan aplikator sangat buruk.

"Dari nilai Rp 60 juta rupiah, bagi yang rusak berat. Hanya Rp 42 juta saja yang melekat menjadi bangunan rumah. Sisanya mungkin dijadikan bancakan oleh mereka. Masa rumah tahan gempa yang aplikator bangun tidak ada lantai keramik dan plafonnya dan dindingnya hanya terbuat dari GRC saja," jelas Fauzi.

Media files:
01gxjnrvxsx6mdy4bbz03bkt46.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar