Dec 26th 2022, 16:03, by Salmah Muslimah, kumparanNEWS
Kepala BPOM Penny Lukito Foto: Dok. YouTube BPOM
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan sejumlah produk pangan olahan yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) di masa libur Natal dan jelang Tahun Baru (Nataru) 2023.
Pengawasan dilakukan di 2.412 sarana yang terdiri dari 1.928 sarana ritel, 437 gudang distributor, 15 gudang e-commerce dan 46 gudang importir. Hasilnya, terdapat 769 atau 31,98% sarana menjual produk TMK.
"Tidak memenuhi ketentuan seperti legalitasnya tanpa izin edar, kedaluwarsa, dan rusak," kata Kepala BPOM Penny K. Lukito dalam keterangan pers virtual, Senin (26/12).
Data tersebut merupakan bagian dari Hasil Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Natal Tahun 2022 dan Tahun Baru 2023. Periode pengawasan sejak 1 Desember 2022 hingga 4 Januari 2023 mendatang.
Penny menyebut, langkah selanjutnya dari temuan BPOM itu adalah mengecek sumber dari temuan, apakah berasal dari sarana formal yang merupakan binaan BPOM atau bukan. Bila sarana tersebut formal, maka akan dilakukan pemberitahuan dan sanksi berupa pembinaan.
Sementara untuk sarana peredaran, BPOM akan meminta distributor untuk mengembalikan barang ke supplier. Bila barang-barang tersebut ilegal, rusak atau kedaluwarsa, maka akan dimusnahkan.
"Apabila ditemukan produk-produk yang tidak sesuai ketentuan (TMK) dari badan siber kami, tentu kan kami mengajak e-commerce, asosiasi, dan Kemenkoinfo untuk melakukan takedown," ucap Penny.
Penny menegaskan, BPOM memastikan produk pangan yang diproduksi dan diedarkan tidak bahaya untuk konsumen Indonesia.
Di kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Rita Edang menjabarkan penjualan produk TMK ada 66.113 pieces dengan total ekonomi Rp 666 juta.
"Produk pangan TMK itu sebagai besar ditemukan di sarana ritel," ucapnya.
Sementara untuk produk pangan kedaluwarsa banyak ditemukan di Indonesia bagian timur seperti di Kupang, Manokwari, Ambon, dan Merauke.
Produk pangan tanpa izin edar di Tarakan, Rejang Lebong, Tangerang, Banjarmasin, dan DKI Jakarta.
Sedangkan produk pangan rusak banyak ditemukan di Mimika, Papua, Kupang, Sungai Penuh, Kendari, dan Surabaya.
Umumnya, produk-produk tersebut merupakan makan ringan, mi instan, minuman, minuman serbuk kopi, minuman sari buah, dan produk rusak adalah olahan susu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar