Search This Blog

Henti Jantung Tak Datang Tiba-Tiba, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Henti Jantung Tak Datang Tiba-Tiba, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai
Feb 1st 2026, 08:00 by Donny Nurhamsyah

Menjelaskan henti jantung. Foto: Dokumentasi pribadi
Menjelaskan henti jantung. Foto: Dokumentasi pribadi

Henti jantung tidak selalu datang secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, tubuh sebenarnya telah memberikan tanda peringatan jauh sebelum kondisi berujung pada henti jantung mendadak. Sayangnya, tanda-tanda ini sering diabaikan karena dianggap kelelahan, masuk angin, atau gangguan ringan yang akan hilang dengan sendirinya.

Dosen Keperawatan Gawat Darurat, Donny Nurhamsyah, mengingatkan bahwa rendahnya kewaspadaan terhadap gejala awal gangguan jantung masih menjadi tantangan besar dalam upaya pencegahan henti jantung.

"Henti jantung sering dianggap kejadian mendadak. Padahal, pada banyak kasus, ada gejala yang muncul lebih dulu, tetapi tidak dikenali atau tidak ditindaklanjuti," ujarnya.

American Heart Association (AHA) menegaskan bahwa pengenalan dini tanda-tanda masalah jantung merupakan langkah penting untuk mencegah kondisi fatal. Terlebih, sebagian besar kejadian henti jantung terjadi di luar rumah sakit, yaitu ketika korban berada di tengah keluarga atau masyarakat umum.

Ilustrasi nyeri dada. Foto: Dokumentasi pribadi
Ilustrasi nyeri dada. Foto: Dokumentasi pribadi

Tanda dan Gejala Henti Jantung yang Perlu Diwaspadai

Berikut beberapa tanda dan gejala yang menurut AHA dan praktisi kegawatdaruratan perlu mendapat perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko henti jantung.

  1. Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada: Tidak selalu berupa nyeri hebat. Bisa berupa rasa tertekan, berat, panas, atau seperti tertindih di dada, terutama saat beraktivitas atau mengalami stres. Gejala ini sering hilang saat istirahat, sehingga kerap diabaikan.

  2. Sesak napas tanpa sebab yang jelas: Sesak dapat muncul saat aktivitas ringan, saat berbaring, atau terjadi tiba-tiba. Kondisi ini menandakan jantung tidak memompa darah secara optimal untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

  3. Jantung berdebar atau irama tidak teratur: Detak jantung terasa cepat, meloncat, atau tidak beraturan. Gejala ini dapat menandakan gangguan irama jantung (aritmia), yang pada kondisi tertentu berisiko menyebabkan henti jantung mendadak.

  4. Pusing, lemas, atau hampir pingsan: Kondisi ini bisa terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke otak karena fungsi jantung terganggu. Gejala sering muncul mendadak dan dapat berulang.

  5. Kelelahan ekstrem yang tidak biasa: Mudah lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat, terutama bila muncul tiba-tiba atau semakin berat dari hari ke hari. Ini bisa menjadi tanda awal gangguan fungsi jantung.

  6. Nyeri yang menjalar ke bagian tubuh lain: Nyeri atau rasa tidak nyaman dapat menyebar ke lengan kiri, bahu, leher, rahang, atau punggung. Gejala ini sering tidak dikaitkan dengan masalah jantung oleh masyarakat awam.

  7. Keringat dingin tanpa sebab jelas: Berkeringat tiba-tiba—meski tidak beraktivitas fisik atau berada di tempat panas—sering kali muncul bersamaan dengan gejala lain.

  8. Mual atau muntah mendadak: Gejala ini kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan, padahal dapat menjadi respons tubuh terhadap gangguan aliran darah akibat masalah jantung.

Ilustrasi kesehatan jantung Foto: dok.shutterstock
Ilustrasi kesehatan jantung Foto: dok.shutterstock

AHA juga mengingatkan pentingnya membedakan antara serangan jantung dan henti jantung. Serangan jantung umumnya disebabkan oleh sumbatan pembuluh darah jantung dan sering didahului gejala. Sementara itu, henti jantung merupakan gangguan listrik jantung yang menyebabkan jantung berhenti memompa darah secara efektif. Serangan jantung yang tidak tertangani dengan baik dapat berkembang menjadi henti jantung.

Masyarakat tidak hanya perlu mengenali tanda bahaya, tetapi juga memahami langkah yang harus dilakukan ketika kondisi memburuk. Bila seseorang tiba-tiba tidak sadar dan tidak bernapas normal, orang di sekitar harus segera bertindak. Hand-Only CPR sesuai rekomendasi AHA dapat menjadi pertolongan awal yang menyelamatkan nyawa sebelum bantuan medis tiba.

Edukasi mengenai tanda-tanda masalah jantung dan pertolongan pertama seharusnya menjadi bagian dari literasi kesehatan masyarakat.

Mengenali tanda sejak dini dan berani bertindak adalah kunci mencegah keterlambatan penanganan dan menyelamatkan nyawa.

Media files:
01kebd2v0dcqcvkmemqm73zn1e.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar