Search This Blog

Mengenal Ujang Sang Penjaga Tinggi Muka Air Citarum di Karawang

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Mengenal Ujang Sang Penjaga Tinggi Muka Air Citarum di Karawang
Jan 31st 2026, 09:52 by kumparanNEWS

Ujang Pirdaos petugas pintu air Sungai Citarum di Karawang. Dok: kumparan
Ujang Pirdaos petugas pintu air Sungai Citarum di Karawang. Dok: kumparan

Di balik pentingnya informasi tinggi muka air (TMA) Sungai Citarum bagi masyarakat, ada sosok yang bekerja dalam senyap. Salah satunya Ujang Pirdaos (44), petugas pintu air Daerah Irigasi (DI) Jatiluhur yang ditugaskan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum di wilayah pengamatan Kabupaten Karawang.

Sejak 2007, Ujang menjalani peran vital sebagai penjaga pintu air sekaligus pemantau TMA Sungai Citarum. Setiap hari, ia memastikan kondisi air terpantau demi keselamatan warga, khususnya masyarakat yang tinggal di bantaran sungai.

Tempat tugas Ujang berada di Jembatan Bojong, Pos Pantau Kedung Gede, Kelurahan Tanjung Mekar, Kecamatan Karawang Barat.

Saat ditemui kumparan, Jumat (30/1), Ujang tampak berdiri di tengah jembatan, menatap aliran Citarum sambil mencatat perubahan tinggi muka air.

Dalam kesehariannya, Ujang rutin menyusun laporan TMA sebagai bahan informasi bagi masyarakat dan instansi terkait.

"Tugas saya memantau Sungai Citarum lalu bikin laporan TMA biar masyarakat tahu. Terutama kasihan warga yang dekat bantaran sungai, kalau air naik kondisinya sering memprihatinkan," ujarnya.

Kondisi Sungai Citarum di Karawang. Dok: kumparan
Kondisi Sungai Citarum di Karawang. Dok: kumparan

Dalam kondisi normal, Ujang bekerja lima hari dalam sepekan. Namun, saat hujan deras dan debit air meningkat, ia harus berjaga selama 24 jam bahkan lebih.

"Suka dukanya, ya kadang ngantuk, kehujanan tengah malam, gelap-gelapan. Dulu juga belum ada lampu di jembatan ini. Pos baru ada tahun 2012, sebelumnya ya bertahan sebisanya," kenangnya.

Hingga kini, pemantauan masih dilakukan secara manual menggunakan sistem fiskal. Tak hanya wilayah Karawang, Ujang juga bertanggung jawab atas laporan TMA untuk wilayah Bekasi.

Menurut Ujang, kondisi terparah terjadi pada tahun 2021.

"Waktu itu benar-benar kalang kabut, rel kereta juga sampai terendam," katanya.

Ia mengawali karier dengan gaji Rp 400 ribu per bulan pada 2007. Kini, Ujang bersyukur telah berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dengan gaji Rp 2.450.000.

"Di posko ini saya sendirian buat laporan, tapi dinikmati saja. Informasi ini penting banget, terutama buat masyarakat di bantaran Sungai Citarum," tutupnya.

Media files:
01kg8zakkqkkk1s05z6jha5ky6.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar