Search This Blog

Behavioral Finance: Mengapa Kita Sering Salah Mengambil Keputusan Keuangan?

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Behavioral Finance: Mengapa Kita Sering Salah Mengambil Keputusan Keuangan?
Jan 31st 2026, 11:00 by Joni Iskandar

Ilustrasi behavioral finance. Foto: Dokumentasi pribadi
Ilustrasi behavioral finance. Foto: Dokumentasi pribadi

Dalam banyak buku keuangan, manusia sering digambarkan sebagai sosok rasional. Kita diasumsikan mampu menimbang risiko, membaca peluang, dan mengambil keputusan keuangan secara logis. Namun, jika benar demikian, mengapa masih banyak orang membeli investasi karena ikut-ikutan, panik saat harga turun, atau justru terlena ketika pasar sedang naik?

Jawabannya sederhana: dalam praktiknya, manusia bukan hanya makhluk rasional, melainkan juga makhluk emosional. Di sinilah behavioral finance atau keuangan perilaku menjadi penting untuk dipahami.

Keuangan Bukan Sekadar Angka

Behavioral finance adalah pendekatan dalam ilmu keuangan yang melihat bahwa keputusan finansial sangat dipengaruhi oleh psikologi manusia. Faktor emosi, kebiasaan, persepsi, hingga tekanan sosial sering kali lebih dominan daripada perhitungan rasional.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat contohnya dengan mudah. Saat pasar saham melemah, banyak investor panik dan menjual asetnya karena takut rugi lebih besar.

Ilustrasi aset. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi aset. Foto: Shutter Stock

Sebaliknya, ketika pasar sedang euforia, banyak orang justru berbondong-bondong membeli, meski harga sudah tinggi. Keputusan ini sering kali bukan hasil analisis mendalam, melainkan reaksi emosional.

Emosi: Musuh atau Bagian dari Keputusan?

Rasa takut dan serakah adalah dua emosi yang paling sering muncul dalam pengambilan keputusan keuangan. Takut rugi membuat seseorang terlalu berhati-hati, sementara serakah mendorong keputusan yang terlalu berani.

Masalahnya, keputusan yang diambil dalam kondisi emosional jarang menghasilkan hasil terbaik. Banyak orang menjual aset di saat harga rendah dan membeli di saat harga tinggi, kebalikan dari prinsip investasi yang sehat. Fenomena ini menunjukkan bahwa memahami pasar saja tidak cukup; memahami perilaku diri sendiri jauh lebih penting.

Bias Psikologis yang Sering Menjebak

Bias psikologis adalah pola pikir keliru yang muncul secara otomatis di kepala kita tanpa kita sadari. Bias ini membuat keputusan keuangan kita tidak objektif, meskipun kita merasa sudah berpikir logis.

Ilustrasi finansial. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi finansial. Foto: Shutter Stock

Behavioral finance juga memperkenalkan konsep bias psikologis. Salah satunya adalah overconfidence bias, yaitu rasa percaya diri berlebihan terhadap kemampuan pribadi. Banyak orang merasa yakin dapat "mengalahkan pasar", padahal data menunjukkan hal tersebut sangat sulit dilakukan secara konsisten.

Ada pula loss aversion, yaitu kecenderungan manusia lebih takut mengalami kerugian dibandingkan keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Akibatnya, seseorang sering enggan melepas investasi yang sudah merugi, meski secara rasional peluangnya untuk pulih sangat kecil.

Bias-bias ini bekerja secara halus dan sering tidak disadari, tetapi dampaknya bisa sangat besar terhadap kondisi keuangan jangka panjang.

Tantangan di Era Media Sosial

Di era digital, tantangan perilaku keuangan semakin kompleks. Informasi investasi beredar cepat melalui media sosial, grup percakapan, dan influencer keuangan. Sayangnya, tidak semua informasi disertai analisis yang memadai.

Ilustrasi informasi digital. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi informasi digital. Foto: Shutter Stock

Kemudahan akses aplikasi investasi juga membuat aktivitas keuangan terasa seperti permainan. Dengan beberapa sentuhan layar, seseorang bisa membeli atau menjual aset tanpa berpikir panjang. Tanpa kesadaran akan bias perilaku, keputusan impulsif menjadi sulit dihindari.

Mengelola Diri Sebelum Mengelola Uang

Pelajaran penting dari behavioral finance adalah bahwa mengelola keuangan bukan hanya soal strategi, melainkan juga soal pengendalian diri. Perencanaan yang jelas, disiplin pada tujuan jangka panjang, dan kebiasaan mengevaluasi keputusan secara objektif dapat membantu menekan pengaruh emosi.

Tidak ada keputusan keuangan yang sepenuhnya bebas dari emosi. Namun, dengan memahami bagaimana emosi dan bias bekerja, kita bisa mengambil keputusan yang lebih sadar dan bertanggung jawab.

Penutup

Behavioral finance mengingatkan kita bahwa masalah utama dalam keuangan sering kali bukan terletak pada pasar, melainkan pada perilaku manusia itu sendiri. Dengan memahami keuangan perilaku, kita tidak hanya belajar menjadi investor yang lebih cerdas, tetapi juga individu yang lebih bijak dalam mengelola kehidupan finansial.

Media files:
01kg01n7n1z97t47xdvjvz17qh.png image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar