Search This Blog

Tak Banyak Diketahui Orang, Kopi Muntahan Kelelawar Ini Berusia Ratusan Tahun

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Tak Banyak Diketahui Orang, Kopi Muntahan Kelelawar Ini Berusia Ratusan Tahun
Nov 1st 2025, 08:19 by BASRA (Berita Anak Surabaya)

Kopi ini berasal dari biji kopi yang dimuntahkan oleh kelelawar. Foto: Masruroh/Basra
Kopi ini berasal dari biji kopi yang dimuntahkan oleh kelelawar. Foto: Masruroh/Basra

Indonesia sangat kaya akan kopi, tidak hanya dari jumlah produksi tetapi juga keragaman cita rasanya. Indonesia menempati peringkat keempat sebagai produsen kopi terbesar di dunia.

Sejarah kopi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari jejak kolonialisme Belanda. Belanda mengembangkan kopi di berbagai perkebunan di Pulau Jawa. Salah satu kopi peninggalan Belanda yang hingga kini masih terjaga keberadaannya adalah kopi Leupeh Lalay. Meski merupakan peninggalan kolonial Belanda, nyatanya kopi ini baru ditemukan kembali oleh warga di awal pandemi COVID-19 pada 2020 silam.

"Awal pandemi COVID-19 baru ditemukan kembali dan mulai dikelola secara serius. Ini kopi warisan leluhur tapi tak banyak dikenal orang," ujar Beni Badaruzaman, penggiat kopi yang menaungi para petani kopi Leupeh Lalay, saat ditemui Basra disela gelaran Surabaya City Expo yang kini sedang berlangsung di Ciputra World.

Beni melanjutkan, lokasi tumbuhnya kopi Leupeh Lalay yang berada di kawasan hutan di area Gunung Karang, di Pandeglang, Banten, menjadikan keberadaan kopi tak banyak diketahui orang. Hanya warga lokal setempat yang mengetahui, namun diakui Beni jika warga lokal masih kurang percaya diri menjual kopi Leupeh Lalay.

Tak Banyak Diketahui Orang, Kopi Muntahan Kelelawar Ini Berusia Ratusan Tahun

"Karena kopi ini berasal dari lepehan (muntahan) kelelawar sehingga warga kurang percaya diri untuk menjualnya, jadi ya hanya dikonsumsi pribadi. Padahal kopi ini nikmatnya luar biasa, melebihi cita rasa kopi yang dipetik manusia," terangnya.

Ya, kopi Leupeh Lalay memang bukan berasal dari hasil petik manusia. Kopi ini berasal dari biji kopi yang dimuntahkan oleh kelelawar. Dalam bahasa Sunda, "lalay" berarti kelelawar.

Berbeda dengan kopi luwak yang dicerna sepenuhnya, kelelawar hanya mengunyah buah kopi merah dan meludahkan bijinya.

Biji-biji inilah yang kemudian dikumpulkan oleh petani untuk diproses lebih lanjut.​

"Biji kopi yang benar-benar sudah matang yang dipilih kelelawar untuk dikunyah, jadi benar-benar masak di pohon. Ini yang menjadikan kopi ini bercita rasa istimewa," imbuhnya.

Selain itu, masih kata Beni, pohon-pohon kopi tua berumur ratusan tahun itu tumbuh di antara celah-celah batu karang di gunung, menghasilkan biji kopi kecil yang memiliki karakteristik unik.

Mengingat lokasinya yang jauh dari pemukiman warga dan prosesnya yang alami dari muntahan kelelawar, tak mengherankan jika harga kopi Leupeh Lalay cukup mahal.

"Per kilogram harganya mulai dari Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta tergantung jenisnya," imbuh Beni.

Sebagai kopi yang belum dikenal luas, Beni secara khusus membawa kopi Leupeh Lalay ini ke Surabaya. Apalagi kopi ini hanya ada di kawasan Pandeglang, yang prosesnya di dapat dari muntahan kelelawar.

"Satu-satunya kopi dari muntahan kelelawar ya cuma ada di Gunung Anyar, Pandeglang. Di tempat lain di Indonesia saya belum pernah menjumpai," pungkasnya.

Media files:
01k8ye2ph91y00n6vch4nm5y8q.jpg image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar