Laut Bacan Halmahera Selatan. Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi
Kesenjangan Kurikulum dan Gelisah di Pelosok
Peraturan mengenai sistem pendidikan yang terlegitimasi masih menyisakan jurang kegelisahan yang menganga. Satu pertanyaan krusial pun menghantui: Mengapa para arsitek kurikulum ini tidak melakukan trial mengajar langsung ke seluruh pelosok negeri, bukan hanya untuk sepekan, melainkan berbulan-bulan, agar mereka mencicipi getirnya realitas lapangan?
Sebab, kondisi pendidikan Indonesia memiliki definisi "kesenjangan" tersendiri. Kurikulum ditetapkan untuk seluruh Indonesia, padahal para pembuat kebijakan hanya bersemayam di wilayah dengan SDM sekolah yang sudah berkemajuan.
Memang, secara aplikasi mengajar, guru bisa menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Namun, secara administratif, rencana ajar harus tetap sesuai dengan kurikulum yang ada. Padahal, kapasitas peserta didik di daerah tertinggal masih jauh di bawah standar.
Aturan "Tak Ada Tinggal Kelas" Adalah Bencana
Salah satu aturan yang paling krusial adalah kebijakan "Tidak Ada Siswa Tinggal Kelas" dalam Kurikulum Merdeka. Ini adalah bencana.
Mengapa ini adalah kejahatan? Pihak sekolah, atas nama "nama baik sekolah", turut andil melakukan kejahatan ini. Mereka meloloskan siswa yang belum kompeten hanya demi mematuhi aturan, mengabaikan kondisi faktual di lapangan.
Saat Idealisme Guru Hancur di Halmahera
Saya akhirnya menjadi guru di salah satu sekolah di Halmahera Selatan ini. Sebelum mengajar, saya membawa semangat dan semua ide serta konsep konstruktif belajar yang saya yakini akan berdampak baik.
Namun, setelah masuk ke dalam lingkungan, semua idealisme itu terporak-porandakan. Ternyata, masalahnya bukan hanya pada sistem pendidikan, tetapi ini masalah yang sangat kompleks. Peserta didik, orang tua, semuanya terlibat.
Orang Tua Anggap Sekolah Tempat Penitipan
Orang tua melihat sekolah hanya sebagai tempat penitipan anak. Mereka tidak peduli dengan proses pembelajaran, tetapi akan menjadi yang terdepan memarahi para guru yang mencoba mendisiplinkan anak-anak mereka.
Mereka membela anak tanpa tahu bagaimana anak-anak mereka tidak menghargai guru ketika menjelaskan pelajaran. Mereka juga tidak tahu bahwa anaknya meloncati pagar, mengabaikan panggilan guru, atau bahkan menghisap rokok dan meminum minuman memabukkan secara sembunyi-sembunyi yang merepotkan guru-guru.
Ironi Siswa: Gadget Aktif, Pengetahuan Pasif
Semangat berbagi yang saya bawa ke dalam kelas perlahan bentrok dengan energi siswa yang malas-malesan. Mereka tidur, mengobrol, dan tidak mengerjakan tugas rumah.
Dijelaskan dengan bahasa sederhana pun, masih saja sulit dipahami. Hukuman tugas tambahan juga tidak dikerjakan, sementara hukuman fisik hanya menambah kebal, bukan wawasan pengetahuan.
Di sekolah tempat saya mengajar ini, saya mendengar pertanyaan siswa, "Apa itu AI, Ibu?". Ini bukan karena internet tidak terjangkau. Mereka bahkan sangat ketergantungan pada HP dan media sosial mereka. Mereka hanya tidak memiliki niat untuk mencari tahu, padahal mereka menggunakannya setiap hari.
Mereka akan bergantung pada AI bahkan untuk menjawab pertanyaan reflektif sederhana seperti "menurutmu apa aktivitas yang bikin bahagia?" dan pertanyaan serupa. Mereka tidak akan mengerjakan pertanyaan singkat itu tanpa bantuan AI.
Dedikasi di Tengah Keterbatasan
Apa ini? Apa yang terjadi? Dalam keadaan yang membuat geleng-geleng kepala ini, sejujurnya tidak ada pengerucilan atau rasa dendam.
Bisa dilihat, ketika ujian tiba, guru-guru ini tetap mengayomi siswa-siswanya. Bahkan berkunjung ke rumah siswa yang tak kunjung tiba di hari ujian. Sayangnya, orang tua malah membela anaknya, berbohong kepada guru bahwa anaknya telah berangkat, padahal menyembunyikannya karena takut dimarahi guru.
Meski di saat-saat terakhir siswa masih merepotkan, guru masih berusaha memberikan pelayanan terbaiknya. Itu terjadi meskipun upah terkadang telat diberikan atau dipotong.
Ilustrasi Dedikasi Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Foto: Pixabay/Pexels.com
Dedikasi para pahlawan tanpa tanda jasa ini adalah cahaya kecil di tengah kegelapan sistem yang bermasalah. Ini adalah bukti bahwa semangat mengajar tidak pernah mati. Namun, dedikasi saja tidak cukup untuk mengatasi kesenjangan struktural dan aturan kebijakan yang secara perlahan menciptakan generasi yang tak acuh dan mengabadikan inkompetensi. Sudah saatnya pembuat kebijakan meninggalkan meja kerja mereka, mengunjungi Halmahera Selatan, dan merasakan langsung dampak dari setiap keputusan yang mereka buat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar