Changan Automobile menjadi jenama otomotif baru asal China yang segera meramaikan pasar mobil listrik di Indonesia. Changan siap memulai debut dengan merilis dua produknya, Deepal S07 dan Lumin L DC, pada akhir November di Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW).
CEO Changan Indonesia Setiawan Surya menyatakan, kedua mobil tersebut bakal dijual dengan harga yang kompetitif, menyesuaikan kelas dan spesifikasinya. Meski demikian, ia enggan menyebut pasti berapa banderolnya.
Namun jika merujuk laman Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) Jakarta, harga Deepal S07 sekitar Rp 580 juta hingga Rp 611 juta. Sedangkan Lumin L berada di angka Rp 194 juta.
"Kalau harga mau tidak mau kami harus membuat cukup terjangkau. Cukup terjangkau bukan berarti harus paling murah juga. [Tetapi] relatif bisa terjangkau, kompetitif," ujar Setiawan kepada wartawan di Chongqing, China, pada Rabu (22/10).
Changan Deepal S07. Foto: Dok: kumparan
Setiawan menegaskan walau produk Changan kompetitif, namun mereka berkomitmen tidak akan ikut perang harga demi menggaet pasar. Menurutnya, strategi perang harga justru merugikan pabrikan, dealer, maupun konsumen.
"Price war menurut saya enggak menguntungkan untuk semuanya. Kompetitif bukan berarti harus ikutin price war. Kalau price war berarti sampai mungkin enggak ada profit, berarti ada satu channel distribusi yang enggak bisa hidup," jelasnya.
Maraknya perang harga antar pabrikan terjadi belakangan ini. Keluarnya produk baru dari brand tertentu dengan harga murah membuat jenama lain rela memangkas harga mobilnya agar tak kehilangan konsumen. Akibatnya, harga mobil listrik bekas juga turut anjlok.
Proses perakitan mobil Changan di China. Foto: Source: Dok. Gaikindo
Setiawan menilai kondisi tersebut merupakan kebijakan masing-masing perusahaan. Namun bagi Changan, strategi perang harga bisa berdampak pada lumpuhnya salah satu fungsi distribusi dan itu tak akan dilakukan.
Ia menegaskan Changan justru ingin berkelanjutan dalam jangka panjang di Indonesia dengan keuangan yang sehat.
"Harus seimbang, enggak boleh di salah satu sisi lebih, di sisi lain rugi. Jadi pincang akhirnya. Kalau berimbang, semuanya bisa bisa hidup. Karena jangan lupa biaya operasi makin hari makin tinggi. Paling tidak tiap tahun UMR pasti naik," tutupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar