Widi s. Martodihardjo dalam pameran "Mengenang Eko Prawoto: Menjelajahi Karya Rupa, Ruang, dan Aktivitas." di Omah Kedondong. Dok:Istimewa
Malam di Omah Kedondong, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta,terasa berbeda pada pertengahan September ini. Dinding-dinding kayu rumah seni itu dipenuhi puluhan lukisan, instalasi, hingga catatan proses kreatif. Semua dipertemukan dalam satu ruang pamer bertajuk "Mengenang Eko Prawoto: Menjelajahi Karya Rupa, Ruang, dan Aktivitas."
Digelar 14–27 September 2025, Omah Kedondong menjelma arena pertemuan seniman lintas generasi yang datang bukan hanya untuk memamerkan karya, tetapi juga merayakan hidup sekaligus mengenang jejak pemikiran Eko Prawoto.
Pameran ini digagas Yayasan Eko Agus Prawoto, yang namanya diambil dari nama lengkap Eko Prawoto. Eko merupakan arsitek dan seniman kelahiran 1958 yang dikenal luas sebagai sosok penting dalam perkembangan seni rupa dan arsitektur Indonesia. Ia wafat pada 13 September 2023 silam.
Pameran "Mengenang Eko Prawoto" menghadirkan karya-karya dari seniman kenamaan, seperti Nasirun, Eko Nugroho, Mella Jaarsma, Widhi Nugroho, hingga kolaborasi Budi Pradono bersama Farhan Siki.
Tidak hanya melalui karya, kehadiran Eko Prawoto di ruang ini juga dihidupkan kembali lewat cerita orang-orang terdekatnya. Para sahabat dan kolega yang pernah berjalan bersamanya menyampaikan kesan, kenangan, sekaligus penghormatan pada sosok yang mereka anggap guru dan inspirator.
Figur yang Membidani Kreativitas
Yayasan Eko Agus Prawoto mempersembahkan pameran bertajuk "Mengenang Eko Prawoto: Menjelajahi Karya Rupa, Ruang, dan Aktivitas." Pameran berlangsung pada 14–27 September 2025 di Omah Kedondong, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta. Dok:Istimewa
Bagi Nasirun, seniman sekaligus seorang sahabat lama, Eko Prawoto adalah figur yang tak sekadar dikenal karena ketenaran, melainkan karena perannya membidani lahirnya kreativitas banyak orang. "Pak Eko punya sanad kebudayaan Romo Mangun," ujarnya, menegaskan bagaimana karya Eko senantiasa berpijak pada jalan kemanusiaan.
Seniman teater Butet Kartaredjasa mengenangnya dengan gaya khas. "Seniman arsitek yang asu banget," ucapnya. Di balik bahasa lugas itu, tersimpan penghormatan pada pribadi yang membumi, rendah hati, namun tetap visioner.
Menjembatani Seni dan Arsitektur
Rekan-rekan Seniman dalam acara "Mengenang Eko Prawoto: Menjelajahi Karya Rupa, Ruang, dan Aktivitas." Dok:Istimewa
Pelukis Widi S. Martodihardjo melihat Eko berada di jalur unik yang jarang dimiliki orang lain. "Pak Eko tuh ada di tengah-tengahnya antara arsitek dan art, tidak bisa dipilah ternyata. Karyanya ya art, ya arsitektural, ya fungsional, ya juga artistik," tuturnya.
Suwarno Wisetrotomo, seniman grafis asal Jogja, sepakat dengan hal itu. Ia menyebut Eko sebagai penyeberang gagasan antara seni rupa dan arsitektur. "Indonesia butuh orang seperti Mas Eko karena kerendah hatian, kecerdasan, sikap kritis, menghormati semesta itu menjadi modal penting," katanya.
Sementara itu, seniman Eko Nugroho mengingat Eko Prawoto sebagai sosok yang menempatkan alam di pusat konsep berkesenian. "Kalau kita tahu betul Pak Eko dengan karyanya dan diskusi dengan beliau, menurut saya orang akan takjub," ucapnya.
Guru Kehidupan
Rina Adhypranata, istri Eko Prawoto dalam acara pameran "Mengenang Eko Prawoto: Menjelajahi Karya Rupa, Ruang, dan Aktivitas." Dok:Istimewa
Dari beragam suara itu, tergambar jelas sosok Eko Prawoto bukan hanya sebagai arsitek atau seniman, melainkan juga guru kehidupan. Ia merajut seni, ruang, dan kemanusiaan dengan benang kerendahan hati.
"Mungkin hari ini, malam ini Pak Eko layak dikenang," ujar Nasirun. Dan di Omah Kedondong, kenangan itu dijaga tetap hidup. Pameran ini menjadi ruang bersama yang memastikan warisan Eko Prawoto tak berhenti di masa lalu, melainkan terus memberi arah bagi generasi mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar