Pabrik penyulingan minyak Rosneft di kota Gubkinsky di Siberia barat, Rusia pada 2 Juni 2006. Foto: Delphine Thouvenot/AFP
Ukraina semakin meningkatkan serangan drone terhadap kilang minyak dan fasilitas ekspor energi Rusia. Serangan ini memperluas medan pertempuran ke ranah ekonomi, dengan tujuan melemahkan pendapatan Moskow dari sektor minyak.
Mengutip Reuters, Minggu (14/9), harga minyak mehtah ikut bergerak naik usai serangan tersebut. Harga minyak mentah Brent ditutup pada USD 66,99 per barel, naik 62 sen atau 0,93 persen pada Jumat (12/9).
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada USD 62,69 per barel, naik 32 sen atau 0,51 persen. Kenaikan harga ini terjadi setelah serangan drone Ukraina menghentikan pemuatan di pelabuhan terbesar Rusia di wilayah barat, meski masih dibatasi oleh kekhawatiran permintaan di Amerika Serikat.
Menurut laporan Bloomberg, Ukraina mengeklaim telah menyerang fasilitas yang menangani hampir separuh ekspor minyak mentah Rusia melalui jalur laut. Serangan tersebut merupakan bagian dari lebih dari 200 serangan drone yang berpusat di wilayah Leningrad, berbatasan dengan Finlandia dan Estonia. Aksi ini dilakukan setelah sebelumnya Kyiv menggempur beberapa kilang penting yang memasok bahan bakar domestik Rusia.
Kyiv menyebut langkah ini bertujuan mengurangi pasokan bahan bakar militer Rusia sekaligus menekan pendapatan minyak Kremlin. Namun, sekutu Barat tetap berhati-hati karena khawatir aksi semacam ini bisa mengganggu pasokan energi global.
Tangki minyak di dekat kota Usinsk, 1500 kilometer (930 mil) timur laut Moskow, Russia. Foto: Dmitry Lovetsky/AP Photo
Sebelum perang, sebagian besar ekspor minyak Rusia dikirim ke Eropa. Kini, mayoritas pasokan dialihkan ke Tiongkok dan India melalui dua pelabuhan utama di Laut Baltik.
Sepanjang Agustus lalu, tepat di puncak musim mengemudi musim panas, Ukraina melancarkan sedikitnya 13 serangan ke kilang-kilang besar. Jumlah itu lebih dari setengah total serangan dalam tujuh bulan sebelumnya, berdasarkan data Bloomberg. Akibatnya, kilang-kilang di wilayah padat penduduk Rusia menjadi target paling intensif.
Dampaknya mulai terasa. Kelangkaan bensin yang awalnya hanya terjadi di daerah terpencil kini merambah mendekati Moskow. Harga grosir di bursa komoditas SPIMEX mencatat rekor tertinggi berturut-turut. Distributor independen yang tidak memproduksi bahan bakar sendiri paling terdampak, meski perusahaan besar pun bisa menghadapi masalah pasokan bila Kyiv terus menyerang.
"Sejauh ini, kelangkaan masih terbatas — ini lebih merupakan masalah harga dan antrean," kata Sergey Vakulenko, mantan eksekutif perusahaan minyak Rusia yang kini menjadi peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace.
"Kelangkaan ini belum menghambat perekonomian, tetapi justru menimbulkan gangguan bagi masyarakat," imbuhnya.
Pemerintah Rusia pun mulai mengambil langkah. Wakil Perdana Menteri Alexander Novak bersama Kementerian Energi memasukkan isu ini ke agenda utama. Rusia juga melarang ekspor bensin dan menginstruksikan kilang untuk memprioritaskan pasokan solar dalam negeri. Kebijakan ini penting karena fasilitas yang diserang selama ini memasok bahan bakar ke wilayah Eropa Rusia, tempat tinggal lebih dari dua pertiga populasinya.
Serangan beruntun itu bahkan memaksa sejumlah kilang besar menghentikan operasi selama beberapa hari untuk perbaikan darurat. Alhasil, tingkat pemrosesan minyak mentah Rusia pada Agustus turun ke level terendah sejak Mei 2022.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar