Search This Blog

18 Tahun Penantian, MUSE Gemakan Hysteria dan Starlight di Jakarta

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
18 Tahun Penantian, MUSE Gemakan Hysteria dan Starlight di Jakarta
Sep 20th 2025, 09:52 by kumparanHITS

Konser Muse: Live in Jakarta. Foto: Vincentius Mario/kumparan
Konser Muse: Live in Jakarta. Foto: Vincentius Mario/kumparan

Konser Muse: Live in Jakarta yang digelar di Carnaval Ancol, Jumat (19/9), lunas membayar rasa rindu penggemar. Band rock asal Inggris itu terakhir kali tampil di Indonesia pada 2007 silam.

Antusias mulai terlihat sejak pukul 18.00 WIB. Promotor Ravel Entertainment menyediakan lahan parkir umum yang cukup jauh dari venue, demi ketertiban.

Namun, sebagian besar penonton nontiket VIP tetap rela berjalan kaki sejauh 2 kilometer demi bertemu para personel MUSE. Dengan outfit serba hitam, mereka seolah sadar bahwa MUSE adalah suguhan yang bisa membayar rasa lelah.

Antusias dan kerinduan yang mengendap selama hampir dua dekade itu akhirnya dibayar tuntas oleh Matt Bellamy, Chris Wolstenholme, dan Dominic Howard. Mereka naik ke panggung tepat pukul 19.30 WIB.

Konser Muse: Live in Jakarta. Foto: Vincentius Mario/kumparan
Konser Muse: Live in Jakarta. Foto: Vincentius Mario/kumparan

Raungan distorsi gitar 8-string langsung menggebrak panggung. Matt Bellamy tampil seperti oase di padang gurun lewat lagu Unravelling. Tak banyak interaksi dan berkata-kata, Matt hanya menyapa singkat, "Hallo, Jakarta," yang disambut riuh penonton.

Energi Matt dan kawan-kawan sangat terasa hingga di Cat 3, barisan paling belakang. Penonton berteriak histeris, menyambut ledakan energi musik MUSE yang semakin menggila lewat lagu ikonik Hysteria. Lagu dari album Absolution (2004) itu menjadi momen karaoke massal, penanda bahwa penantian penonton terjawab setelah menunggu 18 tahun.

Tak memberi ruang jeda, MUSE tancap gas lewat Stockholm Syndrome. MUSE memang band ikonik yang khas dengan perpaduan alternative rock, progressive rock, heavy metal, hingga elektronik eksperimental yang khas. Tata cahaya di panggung juga menjadi suguhan indah tersendiri.

Minim Interaksi, Coba Berbahasa Indonesia

Para personel MUSE seolah membiarkan penonton Jakarta berinteraksi langsung dengan musik-musiknya. Matt tidak igin mengecoh.

Meski begitu, penghargaan MUSE begitu terasa. Matt mencoba berbicara dalam bahasa Indonesia yang terbata.

"Terima kasih", "selamat malam" dan "Jakarta", terdengar berulang kali dan membuat penonton bergemuruh.

Meski telah berusia 47 tahun, Matt is still Matt. Kemampuannya tak sejengkal pun berkurang. Matt bahkan sempat pamer kebolehan memainkan kaoss pad untuk menghasilkan bebunyian aneh di awal lagu Supermassive Black Hole.

Lagu ikonik itu hadir bersama Unintended, Time Is Running Out, hingga Uprising. Total 20 lagu dimainkan MUSE malam ini tanpa jeda panjang. Penonton terus merekam, bernyanyi bersama, dan melupakan waktu sejenak untuk merasakan getaran musik MUSE.

Konser Muse: Live in Jakarta. Foto: Vincentius Mario/kumparan
Konser Muse: Live in Jakarta. Foto: Vincentius Mario/kumparan

Sebagai penutup penampilan, Muse menghadirkan Starlight, lagu ikonik yang begitu melekat di hati penggemar. Ada iringan kembang api juga yang menghiasi langit Ancol.

MUSE membuktikan bahwa perpaduan antara musik eksplosif dan nostalgia bisa membuat sebuah malam lebih dari sekadar konser. Ada perjalanan emosional yang bakal dibawa pulang penonton sebagai bekal.

"Terima kasih banyak, sudah lama sejak terakhir kami ke sini, kalian juga bernyanyi sangat baik, sampai bertemu lagi di lain waktu," ujar Howard, sang drummer, menutup konser.

Media files:
01k5jbbpx2axherdb5yw3dz2vd.png image/jpeg,
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar