Suasana bangunan yang hancur akibat serangan drone Rusia di Kyiv, Ukraina, Sabtu (24/5/2025). Foto: Thomas Peter/Reuters
Ukraina memasuki tahun ketiga perang. Meski pertempuran sudah tidak seintens dulu, tantangan baru tetap muncul, kali ini di sektor keuangan. Menteri Keuangan Ukraina, Sergii Marchenko, menyebut ancaman kekurangan dana bisa jadi lebih serius dari ancaman militer itu sendiri.
Di awal invasi, situasi sangat mencekam. Pasukan Rusia sudah berada di dekat ibu kota Kyiv dan beberapa wilayah sempat dikuasai. Meski begitu, Marchenko tetap percaya pada kemampuan tentara Ukraina.
"Pada awal perang, kami mengalami banyak tekanan dan ketidakpastian. Pasukan Rusia berada di pinggiran Kyiv. Mereka menduduki banyak wilayah. Itu seperti mimpi buruk bagi semua keluarga kami. Saat itu, kami optimis bahwa tentara kami dapat melindungi kami," kata Marchenko dikutip Bloomberg, Sabtu (7/6).
Namun sekarang, rasa optimis itu mulai berubah. Harapan akan datangnya perdamaian ternyata malah menyulitkan perencanaan anggaran negara. Banyak yang berharap perang segera selesai, tapi belum ada kepastian soal dana jangka panjang dari negara-negara pendukung.
"Sejak awal tahun, ada keinginan untuk mempersiapkan resolusi damai dan, anda tahu, hal itu menciptakan beberapa harapan yang tidak perlu dari saya sebagai menteri ketika kita berbicara tentang anggaran tahun depan," ungkapnya.
Marchenko menyebut pada tahun 2026, Ukraina belum mendapatkan komitmen bantuan yang cukup dari komunitas internasional. Padahal, kebutuhan anggaran tetap tinggi, terutama untuk militer dan membangun kembali infrastruktur yang hancur.
"Ketika kita berbicara tentang 2026, kita tidak memiliki komitmen (investasi) yang diperlukan untuk menutupi kesenjangan keuangan kita. Dana yang tersedia untuk Ukraina pada 2026 lebih sedikit daripada yang tersedia pada 2025," kata Marchenko.
Selama dua tahun terakhir, Ukraina bisa bertahan berkat bantuan besar dari negara-negara sahabat. Tapi ke depan, bantuan semacam itu tidak bisa diandalkan terus. Marchenko berharap, setelah perang, negara-negara yang sudah membantu bisa ikut mendorong masuknya investasi besar, bukan cuma bantuan darurat.
"Saya berharap bahwa setelah perang, kita akan berada di dunia yang berbeda, di mana kita dapat mengharapkan investasi yang signifikan dari negara-negara yang membantu kita bertahan hidup," ucap dia.
Saat ini, Marchenko aktif menjalin komunikasi dengan negara-negara mitra agar bisa membentuk sistem pendanaan jangka panjang. Tujuannya bukan hanya menjaga pertahanan, tapi juga membiayai layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan pembangunan ulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar