Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan rencananya untuk menurunkan jangka waktu pengobatan TBC (Tuberkulosis) yang semula 6 bulan menjadi 90 hari. Kata dia, sistem pengobatan tersebut masih dalam proses uji klinis.
Dikutip dari laman Kemenkes, Sabtu (17/5), pengobatan TBC berlangsung selama 6-8 bulan dan terbagi dalam dua tahapan dengan mengonsumsi obat-obatan antibiotik jenis antituberkulosis.
"Jadi instead of 22 bulan minum obat setiap hari 6 pil, dia mungkin hanya 6 pil setiap hari (selama) 6 bulan. Sekarang kita lagi lakukan clinical trial, yang 6 bulan ini kita mau turunin mungkin hanya 90 hari," kata Budi dalam Acara Double Check 'Bagaimana Visi Kesehatan Era Prabowo?' di Cemara 6 Galeri, Teotri Heraty Museum, Jakarta Pusat, Sabtu (17/5).
Budi mengatakan, alasan menyederhanakan pengobatan ini karena masih banyak pasien yang gagal minum obat sesuai prosedur.
"Karena ini banyak yang gagal selesai minum obat, karena nggak tahan dia minum obat selama ini. Padahal kalau nggak tahan, nggak sembuh dia," jelasnya.
Selain pengobatan antibiotik, TBC juga dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi. Saat ini, Indonesia akan menjadi tempat uji coba vaksin TBC M72. Rencana ini telah disepakati oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam acara Double Check 'Bagaimana Visi Kesehatan Era Prabowo?' di Cemara 6 Galeri, Toetri Heraty Museum, Jakarta Pusat, Sabtu (17/5/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
Budi mengimbau kepada masyarakat untuk tak perlu khawatir karena sebelumnya vaksin berhasil mengendalikan kasus COVID-19 di Indonesia. Dia juga mengingatkan untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di masyarakat.
"Dan yang ketiga, Bapak Ibu masih tahu, pernah karena COVID kan? Banyak pasien COVID yang (berakhir) meninggal kan? Kenapa COVID sekarang bisa kita kendalikan? Vaksin," katanya.
"Lepas dengan segala macam teori konspirasi, bilang bahwa vaksin COVID itu masukin ada chipnya, itu nanti membuat masyarakat menjadi tidak sehat. Secara science, semua pandemi, kalau ditemukan vaksinnya, itu berhenti. Contohnya kita alami COVID," imbuh dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar