Feb 16th 2024, 22:34, by Ochi Amanaturrosyidah, kumparanNEWS
Bambang Widjajonto saat di rumah perubahan, Brawijaya, Jaksel, Jumat (16/2). Foto: Thomas Bosco/kumparan
Anggota Dewan Pakar Tim Pemenangan AMIN (Anies-Muhaimin), Bambang Widjojanto (BW), menyebut pelaksanaan quick count penuh paradoks. Salah satunya adalah jumlah sampel yang diambil oleh para lembaga survei penyelenggara quick countyang menurutnya tak sesuai dengan metodologi, yaitu hanya sekitar dua ribu saja.
"Saya ingin mempersoalkan quick count yang secara kuantitas, harusnya secara metodologis ada di 400 (sampel) per provinsi, apakah metodologi itu diikuti? Satu, tidak," kata BW dalam konferensi pers pemilu jujur, adil, dan bermartabat di Sekretariat Pemenangan AMIN, Jalan Brawijaya 10, Jakarta Selatan, Jumat (16/2).
Lalu, BW menyoroti perhitungan quick count yang tidak memperhitungkan variabel kecurangan.
"Terus kedua quick count itu tidak juga mengkonfirmasi hal-hal yang tadi bersifat kecurangan tadi," tuturnya.
Kemudian BW pun menyoroti perbedaan angka hasil quick count dengan elektabilitas setiap paslon di survei-survei sebelumnya. Jika merujuk kepada hasil survei elektabilitas capres-cawapres sebelum hari pencoblosan, tidak ada paslon yang memiliki elektabilitas di atas 50%.
Namun saat quick count perolehan suara Paslon 02 nyaris menyentuh angka 60 persen.
"Ini kebiasaan ini, bahwa quick count itu di bawah hasil survei dan real count, harusnya quick count itu di bawah itu, sekarang tinggi. Jadi ini yang disebut sebagai paradoksnya," kata BW.
3 paradoks ini yang membuatnya tidak menjadikan hasil quick count sebagai landasan. BW pun akhirnya memberikan pertanyaan terbuka kepada seluruh lembaga penyelenggara quick count.
"Pertanyaan harus dibalikan sama surveyor, kalau lu bikin quick count dan kemudian basisnya dipenuhi kecurangan kamu masih mau nggak menjadikan quick count tersebut menjadi dasar buat berpijak, kan itu dia," tutupnya dengan pertanyaan terbuka untuk lembaga quick count.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar