Jan 28th 2024, 22:52, by Ochi Amanaturrosyidah, kumparanNEWS
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY memberikan pidato pada acara Demokrat. Foto: Youtube/Agus Yudhoyono
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bercerita soal pengalamannya maju sebagai calon presiden periode kedua pada Pilpres 2009 lalu. Saat itu, kata SBY, netralitas TNI-Polri tetap terjaga meski ia menjadi calon petahana.
"Soal netralitas, UU Dasar itu jelas. TNI-Polri itu harus netral dalam pemilu. Tidak boleh berpihak dan memenangkan capres, caleg, tertentu atau partai politik tertentu," jelas SBY membuka ceritanya saat bertemu tokoh dan warga Jember, Jawa Timur, Minggu (28/1).
Saat Pilpres 2009 itu, SBY mengungkapkan, sebelum maju ia sempat berdialog dengan para petinggi Polri dan TNI. Dalam obrolan itu, ia meminta mereka untuk tetap netral karena masalah pemilu adalah urusan dirinya dengan rakyat.
"Dulu tahun 2009 saya ikut lagi capres. Saat itu saya berbicara pada jenderal, laksamana, dan marsekal TNI-Polri, intelijen. Saya bilang begini, 'Anda TNI-Polri harus netral meskipun saya nyapres lagi. Itu bukan urusan kalian, itu urusan saya dengan rakyat'," cerita SBY.
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat dan Mantan Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di acara pertemuan dengan tokoh masyarakat Jember, Minggu (28/1/2024). Foto: Dok. Mili.id
Setelah memberikan instruksi itu, SBY mengaku sangat lega dan tak punya beban. Sebab ia sudah memastikan jika TNI-Polri melakukan tugas sesuai dengan UU tanpa melanggar konstitusi dengan tidak ikut mencoba memenangkan politik.
"Bayangkan kalau misalnya saya perintah, menangkan saya, menangkan Demokrat. Pasti mereka punya beban. Karena itu jangan ikut-ikutan politik, pastikan pemilu ini aman, lancar, damai, dan jujur," tutur SBY
Prinsip itu, kata SBY, masih terus ia pegang sampai sekarang. Bahkan hingga ia tak lagi berada di dalam pemerintahan pun, SBY mengaku tetap berprinsip seperti itu.
"Pandangan saya ini tidak berubah, tetap konsisten. Saat dulu pegang kekuasaan seperti itu. Saat sekarang tidak pegang kekuasaan, juga tetap seperti itu karena konsistensi itu harga mahal," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar